Saturday, July 30, 2016

Life Is Not For Money

Semua orang hidup pasti membutuhkan yang namanya uang. Itu pasti dan tidak bisa di pungkiri bahwa setiap manusia memerlukan uang dalam kehidupannya, entah itu untuk makan, minum, kebutuhan sekolah, kebutuhan kuliah, anak-anak, keluarga, kebutuhan rumah tangga, dll, apapun itu. Yang akhirnya menyimpulkan bahwa setiap manusia membutuhkan uang, bahkan termasuk orang mati pun tetap membutuhkan uang, untuk membeli petinya, pemakamannya, acaranya, dll.

    Lalu apa makna dari tema ini “ Life Is Not For Money “ ?.

               Ada seorang miskin yang mempunyai uang Rp. 20.000,- hasil dari upah pekerjaannya kemarin, ia membeli makanan dari uang hasil pekerjaannya tersebut dan ia begitu menikmatinya, sedangkan ada seorang kaya yang pekerjaanya dapat menghasilkan uang sampai bermilyiar-milyiar rupiah per hari, namun untuk sarapan pagi pun ia tidak sempat, karena di pagi hari ia harus cepat-cepat pergi ke perusahaannya untuk mengontrol anak buahnya, meeting ini, meeting itu, dan agenda-agenda lainnya sehingga ia melewatkan sarapan paginya bersama keluarganya, lalu karena begitu banyak kesempatan untuk menghasilkan uang, ia pun menggunakan waktu istirahat makan siangnya untuk tetap bekerja menghasilkan uang, tidak berhenti disitu bahkan ia mengambil lembur sampai larut malam, sehingga sesampainya dirumah ia pun langsung berbaring dan tertidur hingga tak sempat untuk makan malam lagi karena kelelahan.

               Kita tahu bahwa banyak orang kaya yang hidup berkelimpahan dan berkemewahan namun mereka tidak bahagia, sedangkan ada orang-orang yang belum pernah sama sekali menikmati hidup seperti orang kaya itu, namun mereka dapat menikmati hidupnya lebih dari orang kaya tersebut. Mengapa demikian ? Ada banyak sekali orang di dunia ini yang hidupnya sudah dikuasai oleh uang, mereka memberi diri mereka untuk uang, mereka diperbudak oleh uang dan harta yang mereka miliki sendiri yang membuat manusia bisa berubah, berubah menjadi egois, hidup bagi diri sendiri, sombong dan jauh dari Allah.

               Lalu untuk apa kita kuliah selama 4, 5, 6 sampai 7 tahun ? untuk apa kita bersekolah ? untuk apa kita bekerja mati-matian kalau bukan untuk uang ? bukankah kita melakukan hal-hal itu untuk mendapakan uang demi kelangsungan hidup kita ? Ingat selama 6 hari Allah bekerja tidak pernah Ia dalam salah satu hari itu menciptakan yang namanya uang, namun kebanyakan manusia, ciptaan yang dibuat oleh Allah dengan istimewa, ciptaan yang paling mulia dan ciptaan yang diberikan mandat untuk berkuasa atas bumi itu malah menjadi hamba uang yang bahkan Allah sendiri tidak pernah menciptakannya. Cerita sama yang pernah terjadi ribuan tahun yang lalu ketika bangsa Israel membuat patung seekor lembu emas yang dijadikan dewa bagi mereka yang untuk mereka sembah ( Kel 32 ). Bahkan manusia sekarang ini sudah kehilangan yang namanya hakekat hidup, hakekat bekerja, manusia hanya berpikir bahwa kita sekolah, kita kuliah, kita bekerja hakekatnya adalah untuk uang. Benarkah ? tidak sama sekali. Alasan pertama kita bekerja adalah karena teladan yang Allah berikan kepada kita bahwa Ia juga bekerja dan tetap bekerja hingga sampai hari ini, apakah Ia mendapatkan uang ?. Alasan kedua kita bekerja, jika kita masih membutuhkan alasan untuk bekerja adalah Allah sendiri yang memberikan kita mandat untuk bekerja, untuk mengelola bumi ini dengan baik dan bijaksana, bagaimana caranya kita mengelola bumi dengan tidak bekerja ?. Dan alasan ketiga kita bekerja adalah untuk berkarya, berkarya bagi bangsa ini, berkarya untuk mengelola bumi yang Allah percayakan untuk kita jaga dengan baik ini. Namun ajaran-ajaran dunia ini terus memasuki kepala kita sehingga kita kehilangan hakekat hidup kita, hakekat mengapa kita bekerja, dll. Bahkan ada banyak perkataan dunia yang mengatakan tentang mudahnya pola kehidupan itu bahwa pola hidup itu adalah lahir, sekolah, bekerja, menikah, menjadi kakek-nenek dan meninggal. Ingatlah saudaraku bahwa Allah tidak sedangkal itu menempatkan manusia di bumi.

    Lalu apa yang harus kita lakukan :

1.    Tetap cari Allah dalam setiap aspek kehidupan kita, apapun itu dan tetap menempatkan Allah diatas kita bukan uang yang di atas kita. “ Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu “ ( Mat 6 : 33 ).

2.    Allah menciptakan manusia untuk berkuasa atas bumi ini, maka berkuasalah atas uang bukan uang yang berkuasa atas kita. “ Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “ Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” ( Ibr 13 : 5 ).

3.    Tetap memuji dan menyembah Dia dalam setiap waktu kita, jangan sampai kita tidak mempunyai waktu untuk memuji dan mencari Allah karena kita sibuk untuk mencari uang. “ Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. “ ( 1 Tim 6 : 10 ).

4.    Jangan pernah kuatir akan apapun jua. “ Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. “ ( Mat 6 : 34 ).

TUHAN MEMBERKATI

Saturday, July 23, 2016

About Time

1Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, 2karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam. 3Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman – maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin – mereka pasti tidak akan luput. 4Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, 5karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. 6Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. 7Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam. 8Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan. 9Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, 10yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia. 11Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan. ( 1 Tesalonika 5 : 1 – 11 ).

                Seperti yang kita ketahui bersama bahwa waktu adalah salah satu pemberian yang Tuhan berikan kepada setiap kita, sama lamanya setiap orang tanpa terkecuali, baik kita tinggal di daerah manapun, di Negara manapun bahkan di belahan bumi mana pun, kita tetap memiliki panjang waktu yang sama setiap harinya. Namun kebanyakan diantara kita malah merasa seperti kekurangan waktu. Mengapa hal itu dapat terjadi ? kita tahu pasti jawaban dari pertanyaan itu bahwa kita tidak menggunakan waktu-waktu itu dengan baik dan bijaksana sehingga kita merasa seperti kekurangan waktu di dalam kehidupan kita.

                Waktu terbagi menjadi 2 bagian, yaitu kronos dan kairos. Kronos adalah waktu periodik, maksudnya adalah kita tahu bahwa hari ini, tanggal sekarang ini dan bahkan waktu sekarang ini pasti akan terjadi lagi, entah itu minggu depan, bulan depan atau tahun depan, itu pasti datang dan pasti akan ada lagi, contohnya pada hari sabtu pukul 20.00 WIB pasti akan ada lagi hari sabtu pukul 20.00 WIB berikutnya, entah itu minggu depan, bulan depan ataupun tahun depan.  Sedangkan kairos adalah kesempatan, maksudnya adalah kita tahu bahwa waktu kronos pasti akan terjadi lagi entah minggu depan, bulan depan ataupun tahun depan, namun waktu kairos menanggapi mengenai kesempatan yang terjadi pada waktu itu, kondisi pada waktu itu, suasana pada waktu itu, yang kita sadari bahwa waktu itu mungkin tidak akan terjadi lagi, contonya pada hari sabtu pukul 20.00 WIB kita sedang bersama-sama dengan sahabat kita, mendiskusikan suatu pembahasan yang menyenangkan dan lain sebagainya, yang kita tahu bahwa entah itu minggu depan, bulan depan ataupun tahun depan, hal itu tidak akan pernah terjadi lagi. Mungkin akan beda pembahasan, bedanya suasana yang terjadi dan bahkan akan adanya perbedaan umur yang terjadi dari pertemuan kita yang sebelumnya. Itu yang dimaksud dengan waktu kronos dan kairos. Sehingga kita dapat menarik kesimpulan bahwa waktu itu tidak akan pernah kembali atau menunggu kita. Waktu akan terus berjalan dan terus berjalan sehingga menyebabkan kita merasa kekurangan waktu jika kita tidak bergerak dari kemalasan kita atau bangun dari kelemahan kita.

                Lalu bagaimana cara menyikapinya :

1.       Jangan pernah membuang-buang waktu. Kita tahu bahwa Alkitab ( Firman Tuhan ) berkata bahwa umur manusia itu singkat, sekitar 70 – 80 tahun. Maka dari itu baiklah kita seperti yang dikatakan pada ayat 6 di atas “ Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. “  Menyatakan kepada kita bahwa kita tidak boleh hidup seperti orang yang tidur yang tidak memiliki kegerakan, yang menyerah pada keadaanya dan yang pasrah pada kelemahannya, sehingga menjauhkan kita dari sumber-sumber berkat yang Allah ingin sampaikan kepada kita. Namun kita harus hidup seperti anak-anak terang seperti yang di katakan pada ayat 5 “ karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. “ Kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dengan cara melakukan segala hal yang positif. Bukan berarti kumpul-kumpul dengan teman, dengan tetangga tidak boleh, namun apakah dari waktu-waktu itu kita tetap menghasilkan sesuatu yang positif, bukan hanya membicarakan hal-hal yang kosong ataupun melakukan hal-hal yang kosong dan negative dengan mengisinya dengan bermain kartu atau bahkan di sertai dengan botol-botol lainnya. Namun mengisinya dengan ide-ide dan tindakan-tindakan yang membangun, entah itu untuk kemajuan kelompok kita, lingkungan tempat tinggal kita, kantor kita, sekolah kita, apapun itu.

2.       Memiliki pandangan yang benar tentang waktu. Dalam sebuah cerita ada seseorang tua yang sakit dan yang tidak memiliki apa-apa dalam hidupnya, berkata “ andai saja saya memenangkan sebuah lotre yang hadiahnya adalah mengembalikan waktu sejauh 20 tahun kebelakang, maka saya berjanji akan melakukan segala hal dengan sebaik mungkin dan bahkan waktu tidur saya akan saya kurangi menjadi 4-5 jam saja dalam sehari. “ Yah, benar sekali bahwa waktu takkan pernah kembali lagi, bahkan jika mesin waktu sekalipun ditemukan saya yakin bahwa waktu tidak akan pernah kembali lagi, yang ada waktu akan terus berjalan dan terus berjalan tanpa pernah berbalik. Dan dari cerita itu pun kita akan dapat menyimpulkan betapa berharganya waktu itu dalam kehidupan kita, mengapa laki-laki itu tidak berharap memenangkan harta yang melimpah saja yang akan dia wariskan untuk anak cucunya, atau berharap mendapatkan hadian keliling eropa di masa tuanya ?

3.       Berbagi dengan sesama. Setelah kita menyadari bahwa waktu tidak akan pernah kembali lagi, maka mulailah nikmati hidupmu, nikmati setiap waktu yang Tuhan percayakan kepada setiap kita, mulai dari kita bangun pagi, memulai dengan pimpinan Tuhan, melakukan berbagai tugas dan aktivitas kita, bahkan dalam setiap kejadian yang tidak kita sukai ( dimarahi, penolakan, dll ), hingga kita menutup hari itu di dalam Tuhan. Tetap nikmati karya Tuhan dalam hidup kita, terus berjaga-jaga dan semakin rindu untuk menggunakan waktu kita untuk bersekutu dan mencari Allah yang kita tahu bahwa Allah hanya sejauh doa. Saling berbagi nasihat, saling memberikan semangat, saling mengingatkan dan saling membangun ” Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan. “ dan yang terakhir bersaksilah.

Waktu didesain Allah agar kita hidup didalam kedisiplinan.
TUHAN MEMBERKATI …….. :) :)

 

Saturday, July 16, 2016

Pencobaan VS Ujian

Kita tahu dan kita sepakat bahwa ada perbedaan yang terdapat antara pencobaan dan ujian. Bahkan dari tema kita saat ini pun sudah menunjukkan adanya sebuah pertentangan antara pencobaan dan ujian. Namun mari kita kembali melihat kebenaran yang Allah nyatakan kepada kita. Dalam Yakobus 1 : 2 – 3 ada tertulis “ saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan “. Dalam surat Yakobus ini kita dapat melihat bahwa seolah-olah Yakobus menyamakan antara yang namanya pencobaan dengan ujian. Bahkan dua-duanya menghasilkan kebaikan bagi kita yaitu menghasilkan ketekunan. Yakobus 1 : 12 “  Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia “. Jelas kita dapat melihat bahwa di dalam Yakobus 1 : 2-3 ; 12 Yakobus menulis seolah-olah pencobaan dan ujian adalah sama. Namun di dalam Yakobus 1 : 13 Yakobus juga menuliskan bahwa ada perbedaan yang terdapat antara pencobaan dan ujian “ Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata  “ pencobaan ini datang dari Allah!” sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun “. Bukankah di ayat 2-3 Yakobus menuliskah bahwa pencobaan dan ujian sama-sama mendatangkan sesuatu yang baik, dan kita tahu bahwa segala sesuatu yang baik datang dari Allah, namun di ayat 13 Yakobus menuliskan kembali bahwa Allah tidak pernah mencobai siapa pun. Apa yang terjadi dengan Yakobus dalam menuliskan surat ini ? apakah ia ingin membuat kita bingung ?

                Kita tahu bahwa Yakobus adalah salah satu teolog yang sangat berpengaruh, dia juga memilik pengertian yang sama dan teolog yang sama seperti yang di tuliskan oleh Paulus dan apa yang di katakan oleh Tuhan Yesus, rasul-rasul dan nabi-nabi yang lain. Dalam surat Yakobus ini, dia tidak sedang mencoba membuat kita bingung, namun dia sangat tegas menuliskan bahwa ada perbedaan antara pencobaan dan ujian. Dalam bahasa asli yang Yakobus tuliskan ada perbedaan antara pencobaan dan ujian. Dalam konteks pencobaan, Yakobus menyatakan hubungan dengan dosa dan iblis dan dalam konteks ujian, Yakobus menyatakan hubungan dengan Allah. Dan mari kita melihat kepada cerita Ayub, kita dapat melihat bahwa di dalam Ayub 1 LAI ( Lembaga Alkitab Indonesia ) memberi judul “ Kesalehan Ayub dicoba “. Namun apa yang Ayub katakan ? Ayub berkata dalam Ayub 23 : 10 “ Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas “. Sekarang kita tahu bahwa segala sesuatu yang Allah ijinkan terjadi di dalam hidup kita itu adalah ujian dan Allah tidak pernah mencobai siapa pun. Lalu mengapa LAI memberikan judul “ Kesalehan Ayub dicoba “ kemungkinan LAI berfokus kepada pencobaan yang iblis lakukan. Konteks yang bisa mengubah arti.

              Dalam buku Ujian dan Pencobaan yang di tulis oleh Pdt. Stephen Tong dengan berdasarkan keseluruhan Alkitab ia menuliskan bahwa ada 4 perbedaan yang terdapat antara pencobaan dan ujian :

1. Perbedaan sumber. Ujian adalah berasal dari Allah dan pencobaan adalah berasal dari Iblis/setan, daging/diri kita sendiri dan budaya dunia.

2. Perbedaan motivasi. Ujian bermaksud baik sedangkan pencobaan bermaksud ingin menjauhkan kita dari Allah.

3. Perbedaan tujuan. Ujian mengkonfirmasi bahwa kita sedang berjalan dalam anugerah keselamatan yang Allah berikan kepada kita sedangkan pencobaan bertujuan untuk memisahkan dan menjauhkan kita dari Allah dan membuat kita menjadi anak-nak iblis dan menjadi serupa dan sama seperti iblis.

4. Perbedaan fenomena. Ujian selalu dimulai dengan yang namanya kesulitan, kesusahan, kesedihan yang akhirnya jika kita berhasil akan menghasilkan ketekunan, kesejahteraan, mahkota kehidupan sedangkan pencobaan selalu dimulai dengan yang namanya kenyamanan, kenikmatan dan segala hal yang manis dilihat yang akhirnya membawa kita kepada maut.

               Prinsip pencobaan sama halnya seperti burung-burung yang banyak beterbangan di atas kepala kita, namun burung-burung itu tidak pernah membuat sarang atau bahkan bertelur di kepala kita karena kita tidak akan mengijinkannya. Begitu juga dengan pencobaan, pencobaan akan selalu datang dalam hidup kita karena iblis tidak akan tinggal diam saja, namun jangan ijinkan pencobaan itu datang dan berdiam lama dalam kehidupan kita.

               Banyak orang-orang yang hidup sungguh-sungguh dihadapan Allah, hidup dalam pelayanan, hidup takut akan Tuhan, namun mereka tetap mengalami kesulitan-kesulitan hidup, masalah keluarga, masalah keuangan, persoalan hidup, masalah perkuliahan, masalah pekerjaan, dll. Ingatlah bahwa ketika kita hidup didalam Tuhan, Tuhan tidak pernah menjanjikan kita akan lepas dari yang namanya pencobaan dan ujian bahkan semakin dekat kita dengan Allah maka akan semakin banyak pencobaan dan ujian yang akan kita hadapi, bahkan Tuhan Yesus pun mengalami pencobaan ( Mat 4 ) dan ujian kesetiaan di kayu salib yang akhirnya membawa kita dapat menikmati hidup bersama Allah di surga-Nya yang kekal.

               Cara menghadapi ujian dan pencobaan :

1. Perbaiki perspektif atau pandangan kita tentang ujian dan pencobaan. ( Yak 1 : 2-3 ; 12 ) yaitu bahwa ujian dan pencobaan itu menghasilkan ketekunan dan mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah. Jangan sampai kita memiliki pandangan yang salah karena jika kita terjebak maka dampaknya kita akan mengasihani diri dan menyalahkan orang lain, keadaan bahkan Allah sendiri.

2. Hidup berhikmat. ( Yak 1 : 5 ) “ Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, - yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit -, maka hal itu akan diberikan kepadanya “. Mintalah hikmat dan kekuatan kepada Allah bukan berdoa dan berpuasa agar ujian atau pencobaan itu dilepaskan dan dilalukan dari kita. Nikmati setiap proses yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita bahwa untuk mendapatkan mahkota yang kekal kita harus siap untuk menjadi pribadi yang Allah ingini.

3. Teladani Tuhan Yesus. ( Mat 4 : 1 ) Tuhan Yesus memberi diri dipenuhi oleh Roh, ( Mat 4 : 4 ; 7 ; 10 ) Tuhan Yesus menghidupi Firman Tuhan dan menggunakannya untuk melawan iblis, bukan hanya sekedar tahu dan di hapal namun benar-benar menghidupi Firman, ( Mat 4 : 10 ) Menolak kuasa iblis dan melawannya tanpa berkompromi sedikit pun. ( Mat 4 : 2 ) Yesus menjaga relasi dengan Allah bahwa sebelum Ia di cobai, Ia berpuasa selama empat puluh hari dan empat puluh malam.

               Akhirnya, ingatlah bahwa pada saat kita mengalami pencobaan ataupun ujian teruslah dekat dengan Allah. Tujuan Allah mengijinkan pencobaan dan ujian itu terjadi di dalam hidup kita adalah agar kita menjadi orang yang diingini-Nya dan layak menjadi persembahan yang harum bagi Allah.

“ Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya “ -1 Korintus 10 : 13-

Saturday, July 9, 2016

Yang Ini atau Yang Itu ?

Apa Tujuan hidupmu ? apa visi hidupmu ? saya yakin banyak diantara kita yang hanya sekedar membaca dan melewati pertanyaan itu tanpa mencoba menjawabnya dalam hati kita masing-masing. Kebanyakan orang di dunia hampir tidak tahu apa sebenarnya tujuan hidupnya ? dan mengapa ia hidup ? kebanyakan orang hanya sekedar mengikuti aliran air yang sedang mengalir, jika aliran air itu ke hilir maka orang itu pun akan pergi ke hilir dan jika aliran air itu mengalir ke hulu maka orang itu pun akan pergi ke hulu. Namun kita lupa akan kehendak dan rencana Tuhan dalam hidup kita, mengapa Ia menempatkan kita di aliran air tersebut ? apakah untuk mengikuti aliran air tersebut ? atau untuk melawan aliran air tersebut ?.

                Kita pasti pernah mendengar kalimat seperti ini : “ hidup adalah pilihan “. Yap benar sekali hidup adalah pilihan, dan kita selalu diperhadapakan dengan yang namanya pilihan. Entah itu tentang apakah aku boleh berpacaran ? jika berpacaran, berpacaran dengan siapa ? tinggal dimana ? apakah aku kuliah atau bekerja ? kalau kuliah, kuliah dimana ? juruasan apa ? bekerja dimana ? bekerja sebagai pegawai swasta atau wiraswasta ? banyak pilihan yang sedang kita hadapi. Pertanyaannya adalah apakah pilihan itu kita pilih dengan menimbang-nimbang dari hasil pemikiran kita manusia atau buah dari pergumulan kita bersama dengan Allah.

                Dalam Amsal 16 : 1 tertulis “ manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada Tuhan “. Kita sebagai manusia berhak dan dapat menimbang-nimbang semua pilihan tersebut dalam hati kita, menimbang dengan menggunakan pemikiran kita, namun tetap saja jawaban lidah berasal dari Tuhan. Mungkin kita mempunyai rancangan masa depan yang sudah kita atur sedemikian, lulus SMA/SMK usia 18 tahun, masuk perguruan tinggi ternama, mengambil jurusan yang kita sukai, lulus perguruan tinggi usia 22 tahun, bekerja di perusahaan multi nasional, menikah usia 27 tahun, punya anak 1, anak 2, anak 3, dsb. Kita dapat merancang jalan hidup kita kedepan, namun tetap jawaban lidah berasal dari Tuhan, bukan berarti rancangan kita tidak bagus, namun Tuhan punya rancangan yang lebih indah bagi hidup kita.

               Lalu bagaimana caranya untuk mengetahui kehendak Tuhan dalam hidup kita ? dalam Amsal 16 : 2 tertulis “ segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati “. Yap benar sekali setiap kita pasti merasa bahwa jalan yang sedang kita jalani pada saat ini adalah jalan yang bersih menurut pandangan kita sendiri, atau mungkin kita sudah memilih pilihan-pilihan tersebut dan akhirnya merasa bahwa pilihan ini yang paling tepat. Namun apakah itu merupakan kehendak Allah dalam hidup kita ? lalu bagaimana cara mengetahui kehendak Allah ?

               Kita pasti tahu dan pernah mendengar dalam kitab perjanjian lama bangsa Israel menggunakan undi sebagai alat atau cara untuk mengetahui kehendak Allah, mereka membuang undi untuk pembagian tempat tinggal atau tempat pusaka bagi setiap suku Israel, mereka membuang undi untuk mengetahui mengapa kapal yang mereka tumpangi bersama Yunus disertai dengan badai dan hampir tenggelam. Dalam Amsal 16 : 3 tertulis “ serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu “ semua jawaban dari setiap pertanyaan kita atau setiap pilihan di dalam hidup kita ada di dalam Tuhan yang mengatur hidup kita, serahkan semuanya kepada Dia, terbuka dan bergumullah bersama Dia. Karena Tuhan membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka ( Amsal 16 : 4 ). Yakinlah bahwa Tuhan tidak sedang bermain-main diatas sana, Dia masih setia untuk mengontrol jalan hidup kita.

               Ingat bahwa pemilik hidup ini adalah Allah bukan diri kita sendiri, memang kita diberi kehendak bebas, namun Allah tetap memegang kendali dalam hidup kita. Mari kita serahkan semua kepada Tuhan, ajak Dia bergumul bersama kita karena jika Allah di pihak kita maka siapa yang jadi lawan kita dan yang paling penting terbukalah di hadapan-Nya, terbuka akan setiap keinginan kita, mimpi-mimpi kita, tidak salah kalau kita mempunyai rancangan dalam hidup kita, tidak salah kalau kita mempunyai mimpi-mimpi yang tinggi, namun terbukalah dihadapan-Nya dan ceritakan semuanya kepada Dia sekalipun Dia sudah mengetahui apa yang ada di dalam pikiranmu sebelum kita mengatakannya. Lihat dari sudut pandang Allah jika rancangan itu terlihat kurang menarik bagi pandangan kita karena Allah lebih mengetahui rancangan yang terbaik bagi anak-anak-Nya dibandingakan kita sendiri. Jadi, apa kehendak Allah dalam hidupmu ? mari bersama-sama temukan.

“ Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana. “ ( Amsal 19 : 21 )

Friday, July 8, 2016

Kecil Tapi Membahayakan

Masyarakat setempat gempar, polisi berdatangan ke toko kelontong yang terletak di pinggir jalan itu. Aku mendekati sebagian orang yang bergerombol membicarakan kejadian sebenarnya. Ternyata salah seorang pelayan toko telah mencoba membacok majikan perempuannya, yang masih sempat tertolong. Pelayan toko tersebut merasa tertindas dan sakit hati karena kata-kata pedas dan omelan yang kelewat kasar dari majikannya. Saya mendengar dari beberapa orang bahwa sang majikan perempuan memang judes. Kata-katanya kasar dan selalu merendahkan orang, padahal sebagai seorang penjual sekaligus majikan, sudah seharusnya ia bersikap ramah. Setelah mengingat-ingat suatu kejadian, saya akhirnya membenarkan kata orang bahwa majikan itu memang judes dan kasar. Beberapa hari yang lalu sebelum kejadian itu, saya pernah datang ke tokonya untuk membeli kotak roti. Kesan yang saya dapatkan memang benar, bahwa majikan itu begitu kasar, sehingga saya tidak pernah lagi mampir ke toko itu kalau tidak terpaksa. Hati-hati dengan sikap dan kata-kata yang kita keluarkan, karena disekeliling kita ada orang -orang yang mungkin merasa disakiti dan terluka.

               Yakobus berkata bahwa orang yang menganggap dirinya beribadah namun tidak dapat mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri dan sia-sialah ibadahnya. Lidah yang tidak dapat dikekang bisa mendatangkan kesulitan bagi diri sendiri. Oleh sebab itu jagalah hati kita, karena kata-kata yang keluar dari mulut mencerminkan keadaan hati yang sesungguhnya. “ Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaan yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” ( Luk 6 : 42 ).

Berikut ini adalah beberapa kiat yang akan menolong kita untuk mengekang lidah :

1. Jangan boros kata-kata. Artinya berpikirlah dahulu sebelum mengeluarkan kata-kata. Tidak sedikit orang yang terlalu cepat berbicara, tanpa mempertimbangkan apakah kata-katanya benar atau tidak, membangun atau melemahkan orang lain. Orang seperti ini baru akan memikirkan kembali kata-kata yang ia keluarkan, setelah ada orang yang merasa tersinggung atau marah karena kata-katanya yang kasar dan tidak berhikmat.

2. Cobalah tempatkan diri anda pada posisi orang lain. Jika kita bisa melakukan ini, barulah kita akan mengerti bagaimana sakitnya dicaci maki dan bagaimana terlukanya direndahkan melalui kata-kata yang tajam. Dengan demikian, kita tidak akan mudah mengata-ngatai atau menghujat orang lain dengan kata-kata yang tidak sepantasnya.

3. Latihlah lidah kita mengeluarkan kata-kata yang manis dan membangun. Sesuatu yang kita lakukan berulang-ulang  akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu akan menjadi karakter. Alangkah indahnya jika yang keluar dari mulut kita hanya kata-kata yang manis, yang membangun dan yang mendatangkan hormat dan kemuliaan bagi Tuhan dalam Yesus Kristus.

Kendalikan lidah dengan kasih dan kerendahan hati

Saya tidak mengijinkan seorang pun mempersempit dan menjatuhkan jiwa saya dengan membuat saya membencinya ( Broker T. Washington )