Kalau kita perhatikan isi kitab Mazmur 95 ini terdiri atas dua bagian dan masing-masing bagian terdiri atas beberapa unsur, yakni : ayat 1-5, madah ( pujian syukur ) bagi Tuhan, Raja pencipta dan ayat 6-11, berisikan madah bagi Tuhan dan peringatan terhadap Israel. Kedua bagian ini merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Karena Mazmur ini dihimpun untuk peresmian Bait Allah periode kedua, yang dibangun setelah 70 tahun pembuangan Israel di Babel. Jadi isi dari teks khotbah ini, tampaknya hendak menegaskan permohonan Israel bahwa jalan terbaik bagi seluruh bangsa adalah mengakui Allah sebagai Raja. Secara umum struktur Mazmur 95 ini terdiri dari dua bagian , yakni 95 : 1-7, panggilan untuk menyembah Allah, 95 : 8-11, peringatan dengan belajar dari masa lalu.
Diayat 1-3 : setelah kembali dari pembuangan Babel, dimana para dewa disembah, pemazmur menekankan kedaulatan absolute Allah yang Maha Besar. Sebuah Gunung Batu Keselamatan menunjuk pada ingatan Israel mengenang air hidup yang senantiasa keluar dari Gunung Batu. Ketika Israel menempuh perjalanan di padang gurun ( lihat ayat 8-9 + Kel 17 : 17, Bil 20 : 1-13, 1 Kor 10 : 4 ). Dan diayat 4-5, walaupun Bait Allah telah diresmikan, ada sebuah kenyataan bahwa apa yang mereka bangun tak dapat dibandingkan dengan segala ciptaan Allah. Di ayat 6-7, adalah ajakan untuk sujud menyembah kepada Allah. Bagi pemazmur aktivitas sujud menyembah merupakan ungkapan dorongan hati untuk senantiasa memuja Allah. Di ayat 8-9, pemazmur mengajak pendengarnya untuk mengingat peristiwa saat Israel memberontak dan tidak taat kepada Allah. Meriba ( yang berarti pemberontakan ) adalah : tempat dimana Israel melawan Tuhan. Protes mereka ketika mengalami ketiadaan air, menunjukan ketiadaan iman mereka kepada Allah. Juga ketika di Masa ( yang berarti menguji / mencobai ), Israel diingatkan bahwa pada saat sulit mereka bisa jatuh dalam situasi mempertanyakan kuasa Tuhan. Itu juga tampak pada kecenderungan Israel yang senantiasa ingin kembali ke Mesir, karena menganggap Mesir lebih baik daripada karya pembebasan Allah yang akan membawa mereka ketanah perjanjian. Di ayat 10-11, pengembaraan dipadang gurun yang begitu lama ( suatu proses ) terjadi akibat kesesatan hati Israel, yang tidak berjalan dijalan Allah, bagian ini digunakan untuk menganalogikan orang-orang yang binasa karena murtad.
Hal ini banyak terjadi pada orang Kristen saat kesulitan atau sukses, mereka melupakan Allah, sehingga hatinya tertutup untuk Tuhan. Lebih banyak hatinya kepada kesukaan duniawi, bahkan harta dianggap segalanya, Tuhan itu baginya hanya sekedar untuk didengarkan dan diucapkan saja. Padahal yang benar adalah : Tuhan itu adalah segalanya didalam hidup kita, itulah yang dikatakan : Total submission, total self-denial, total obedience.
( Pdt. Satahi M. Panjaitan, S.th )

0 komentar:
Post a Comment