Wednesday, May 11, 2016

Hamba Tuhan atau Anak Tuhan

Ketika saya menanyakan kepada jemaat dimana saya berkhotbah, “ Kita mengenal ada dua istilah, hamba Tuhan dan anak Tuhan, anda mau jadi yang mana ? Anak Tuhan atau hamba Tuhan ? Hampir serentak semuanya menjawab, “ Anak Tuhan “ Saya coba kembali bertanya untuk memastikan apakah mereka asal menjawab saja atau memang ada suatu alasan yang melatarbelakanginya, “ Mengapa anda memilih untuk menjadi anak Tuhan ?” “ Kalau anak kan enak, apa yang punya bapanya ya punya anaknya juga,” jawab mereka. “ Bagus “ kata saya, lalu saya bertanya lagi. “ Mengapa tidak mau menjadi hamba Tuhan ?” Mereka menjawab, “ Wah ... kalau hamba Tuhan tanggung jawabnya besar pak.” Mungkin anda sudah menangkap, inti dari dialog tersebut, ternyata di dalam jemaat Tuhan ada sikap “ mau enak saja “ dengan menjadi anak dan tidak mau menjadi hamba.

               Saya kembali mengajak jemaat bertukar pikiran. “ Menurut anda, siapakah yang akan bekerja lebih keras, karyawan atau anak yang punya perusahaan ?” Dengan mantap mereka menjawab, “ Karyawan “ Lalu saya bertanya, “ Kalau jam istirahat siang, siapakah yang anda lihat tidur-tiduran memanfaatkan sisa jam istirahat makan siang, karyawankah atau anak yang punya perusahaan ?” “ Karyawan “,  jawab mereka mulai ragu bahwa karyawan adalah sipekerja keras. “ Setelah jam kantor, bahkan malam hari ketika sudah berada di rumah, siapakah yang anda pikir masih sibuk bekerja, karyawan atau anak yang punya perusahaan ?”  “ Anak yang punya perusahaan “, kata mereka. “ Kenapa ? Karena itu perusahaan ayahnya, ia merasa bertanggung jawab atas kelangsungan hidup perusahaan ayahnya, sedangkan karyawan hanya peduli akan kelangsungan pembayaran gajinya. Jadi yang akan bekerja keras adalah yang punya atau anak yang punya perusahaan, bukan orang upahan.

               Dialog diatas mungkin dapat mengubah sikap kita, agar jangan selalu berpikir untuk menjadi anak Tuhan tetapi tidak mau tahu tentang pekerjaan Bapa Sorgawi kita yang begitu banyak. Jangan mau enaknya saja terima beres.

               Anak Tuhan. Kita adalah anak-anak Tuhan, yang akan menerima warisan janji-janji Allah Bapa kita yang di Sorga. Kita akan menerimanya bersama Kristus

               Menderita. Tetapi Firman Tuhan menjelaskan lebih lanjut, yaitu kita akan menerima janji-janji Bapa itu jika kita menderita bersama-sama dengan Yesus. Artinya sebagai anak kita ikut melakukan pekerjaan seperti apa yang Yesus lakukan, menderita seperti juga Yesus menderita. Bukankah kita dipanggil juga untuk menderita bersama denganNya ? ( Fil 1 : 29 , 1 Pet 2 : 21 )

               Dipermuliakan. Baru setelah kita menderita bersama-sama Yesus, kita pantas dipermuliakan bersam-sama denganNya.

Dalam hal warisan kita adalah anak, dalam hal kerja kita adalah hamba Tuhan.

Manusia sempurna menggunakan pikirannya seperti sebuah cermin. Tidak mengambil apa-apa, tidak menolak apapun, ia menerima tetapi tidak menyimpannya. ( Chiang Tse )

Renungan Lainnya

0 komentar:

Post a Comment