Sabtu pagi ketika jogging, saya melihat hal yang mengherankan. Dari kejauhan tampak seorang anak remaja dituntun oleh ayahnya untuk lari pagi. Setelah berada lebih dekat barulah saya mengerti mengapa anak itu harus dituntun untuk berlari, ternyata dia buta. Sang ayah begitu sabar menuntun anaknya, yaitu dengan memberi aba-aba, sementara saya terus berlari di belakang mereka. Setelah dua kali mengintari taman tempat jogging itu, tiba-tiba anak laki-laki yang buta itu tersandung jatuh dan dengkulnya lecet. Ia meringis kesakitan dan sang ayah menolongnya untuk bangkit. Sang ayah membersihkan lutut anaknya sembari meniup-niupnya supaya rasa perihnya berkurang. Anak itu hanya meringis, dan jelas terlihat kekuatiran di raut wajah sang ayah. Setelah berdiri, sang ayah memeluknya erat-erat dan membisikan suatu kalimat ke kupingnya. Beberapa menit kemudian sang ayah menggandeng anaknya untuk berlari bersama. Sang ayah tidak menghentikan kegiatan lari pagi itu, karena ia tahu bahwa anaknya masih mampu untuk melakukannya.
Saya melihat bahwa sejak kecelakaan kecil itu sang ayah memberi perhatian yang lebih kepada anaknya. Ia tetap berdiri mendampingi anaknya, sesekali ia memandang ke dapan, lalu secepatnya memberi aba-aba kepada anaknya. Betapa besar perhatian dan kasih sayang sang ayah kepada anaknya yang tuna netra itu. Pagi itu, hati saya tertegur karena pernah meragukan kasih Bapa di Sorga. Lewat perhatian sang ayah terhadap anaknya yang buta, saya mengerti bahwa pandangan Bapa di Sorga tidak pernah lepas untuk mengawasi saya.
Pernahkah kita meragukan kasih setia Bapa di Sorga ? Ketika masalah datang kita berseru kepada Bapa, namun kita merasa seolah ditinggalkan olehNya karena kita tidak juga melihat jawaban yang kita inginkan. Dalam keadaan demikian, kita mulai menggerutu, menganggap Bapa tidak adil karena mengizinkan masalah yang besar menghadang hidup kita. Bukan hanya sungut-sungut yang keluar dari lidah bibir kita, tetapi kita juga mulai “ ngambek “ dengan cara tidak beribadah, tidak bersaat teduh atau tidak berdoa lagi. Keraguan atas penyertaan Bapa dan sikap yang menggerutu membuat kita tidak bisa mendengar bisikan lembutNya yang berkata, “ Ayo, berlarilah pelahan-lahan karena kau masih bisa, Aku akan mengawasi jalan di depanmu dan menuntunmu dengan suaraKu yang lembut.”
Ketika badai hidup menerpa atau ketika ombak yang bergulung-gulung mencoba menghempaskan kita, percayalah bahwa Bapa di Sorga tetap setia mendampingi, menuntun, menguatkan dan melindungi kita. Jangan takut atau gentar untuk menghadapi hidup ini, karena bersama Bapa kita akan mengendarai badai besar itu untuk melihat kemuliaan besar yang dikerjakan oleh tanganNya. “ Dengan nasihatMu, Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.” ( Mzm 73 : 24 )
Kasih Bapa Sorgawi terus mengalir, walau kita sering tidak menyadarinya.
Dengan menghilangkan keinginan, engkau menghilangkan pikiran. ( Caude Adrian Helvetius )

0 komentar:
Post a Comment