Tuesday, May 3, 2016

Berbuat, Tak sekedar Bertobat

Bertobat itu penting karena kita tidak lepas dari perbuatan dosa dan kesalahan. Tetapi, sering kita melakukan pertobatan namun rasanya hidup kita tetap saja dan tidak mengalami pertobatan. Kita masih mengulang dosa dan kesalahan yang sama. Pengalaman ini menimbulkan pertanyaan dalam diri kita: “Apa arti pertobatan itu?”

               Pertobatan itu seharusnya membuat kita berani mulai menyusun kembali kehidupan baru, meskipun dasarnya tetap tubuh kita yang lama. Artinya, sikap tobat itu memutarbalikan seluruh arah hidup kita dari sebelumnya mengikuti kehidupan dosa kepada kehidupan Tuhan. Sebelum bertobat, kita seluruhnya menjadi milik dosa, tetapi setelah bertobat kita seluruhnya menjadi milik Tuhan. Dalam proses pertobatan ini, kita akan merasakan perasaan malu karena perbuatan dosa kita itu. Dengan perasaan malu inilah kita mau bertobat. Semakin kita merasa malu dengan perbuatan dosa kita, maka semakin kta bertekad untuk bertobat.

               Pertobatan akan kita rasakan ketika kita bertobat yang menghasilkan buah. Pertobatan yang tidak menghasilkan buah, akan membuat kita melakukan kembali perbuatan dosa yang sama. Pertobatan itu menjadi kehilangan maknanya. Seperti yang Yesus katakan dalam perumpamaan pohon ara. Pohon ara yang baik adalah pohon ara yang menghasilkan buah dan pohon ara yang tidak berbuah akan kehilangan makna dan fungsinya sebagai pohon yang menghasilkan buah untuk dinikmati oleh orang banyak. Pertobatan yang sesungguhnya adalah pertobatan yang menghasilkan perbuatan baik yang dapat dirasakan dan menjadi berkat bagi orang lain. Pertobatan seperti inilah yang Tuhan Yesus inginkan.

“... hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri” ( Fil 2:3b )

Renungan Lainnya

0 komentar:

Post a Comment