Matahari merah jingga menyembul dari balik gunung di samping rumah kami. Astaga, aku kesiangan bangun karena semalam aku harus mengerjakan pekerjaan kantor yang terbengkalai, karena aku baru cuti. Setelah mandi, aku langsung berangkat ke kantor tanpa sempat menyentuh sarapan pagi yang disediakan oleh istriku. Aku juga menyuruh kedua anakku untuk naik angkutan umum, karena jika aku harus mengantarkan mereka ke sekolah, keterlambatanku masuk kantor akan semakin banyak. Aku menyadari bahwa hidup yang kujalani kurang seimbang. Aku hampir tidak mempunyai waktu untuk keluargaku dan yang paling menyedihkan, sejak menikah aku jadi malas beribadah. Aku terlalu lelah, baik pikiran maupun fisikku. Aku merasakan kemunduran yang sangat drastis di dalam kerohanianku. Suati hari, seorang teman dekatku berbicara denganku mengenai kemunduranku yang nampaknya begitu mempengaruhi seluruh aspek kehidupanku. Aku tidak lagi seceria dulu, cepat marah dan tidak ramah terhadap siapapun. Temanku itu berjanji akan menjemputku untuk menghadiri suatu kebaktian yang dilayani oleh seorang hamba Tuhan dari luar negeri. “ Minggu ini aku belum bisa, mungkin minggu depan, “ jawabku. “ Baiklah “ jawab temanku. Akupun merasa bebas dari desakannya. Minggu depan entah alasan apa lagi yang akan kuberikan untuk menghindari ajakannya ke gereja.
Malam itu aku pulang ke rumah sekitar pukul 21 : 00 WIB. Aku duduk di kursi sambil meluruskan punggungku yang terasa pegal. Ada sedikit rasa nyeri di dadaku, tetapi aku mengabaikan itu karena kupikir itu disebabkan karena masuk angin biasa. Aku semakin sulit bernafas dan setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku melihat tubuh pria tergeletak dengan wajah membiru di lantai. Di sekelilingnya, nampak istri dan kedua anaknya yang masih kecil memegangi tangannya dan berteriak histeris. Ternyata tubuh lelaki itu adalah tubuhku, aku telah mati. Tak dapat ku gambarkan ribuan penyesalan di hatiku atas banyak hal baik yang belum sempat kulakukan. Aku kurang memberi kehangatan kasih sayang kepada anggota keluargaku, aku belum ke gereja, apalagi berbuat sesuatu untuk Tuhan. Kini semuanya sudah terlambat, waktuku sudah habis.
Kita tidak tahu berapa lama Tuhan memberikan kesempatan untuk kita hidup di dunia ini. Kematian bisa datang kapan saja, tanpa permisi atau meminta persetujuan dari kita. Kita boleh merencanakan perjalanan hidup yang panjang sampai beberapa puluh tahun ke depan, tetapi kita juga harus selalu siap sedia ketika babak baru dari kehidupan sesudah kematian di bentangkan di hadapan kita. Hindarilah penyesalan yang tidak putus-putusnya dengan melakukan apa yang baik hari ini. Berbakti dan layanilah Tuhan, kasihilah keluargamu dan jangan pernah abaikan sesamamu. Menunda sedikit saja, akan membuat perbedaan besar.
Sesuatu yang ditunda selalu mendatangkan penyesalan di kemudian hari.
Belajar tanpa berpikir adalah penyia-nyiaan tenaga.

0 komentar:
Post a Comment