Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh satu peribahasa yang tak asing lagi bagi kita. Satu peribahasa yang tentunya mengingatkan kita akan pentingnya memelihara kesatuan dalam satu persekutan dimana pun dan kapan pun. Pentingnya kesatuan yang bukan dalam arti bahwa kita meniadakan keberagaman bahkan perbedaan, namun justru demi kesatuan atau persatuan, keberagaman atau perbedaan bukan menjadi alasan untuk memisahkan namun menjadi suatu kekayaan bagi kita untuk saling melengkapi di dalam pesekutuan kita.
Bukankah Tuhan juga menciptakan kita berbeda-beda, namun kita mengetahui pula rancangan Tuhan yang luar biasa, bahwa laki-laki dan perempuan dengan segala perbedaannya, Ia persatukan melalui lembaga pernikahan, yang dua menjadi satu, agar di dalam persekutuan di dalam keluarga, suami istri dapat pula hidup saling mengasihi, saling melengkapi, dan saling mengisi. Artinya : bagi Allah sendiri sebagai Pencipta segala sesuatunya, perbedaan adalah karya dan anugerahNya. Sekali lagi, bukan untuk memisahkan namun justru untuk mempersatukan. Bahkan Tuhan Yesus sendiri melalui doa syafaatNya dalam Yoh 17 merindukan bahwa kesatuan, persatuan itu hendaknya selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap orang yang mengikut Dia. Karena hidup dalam kesatuan juga menjadi kesaksian bagi orang-orang di sekitar kita.
Karena itu, alangkah memprihatinkan jika dalam kenyataannya, kita masih mendengar bahkan menyaksikan bagaimana perselisihan, perpecahan, benar-bernar telah menghancurkan dan memisahkan satu-satu persekutuan. Hanya karena merasa tidak dihargai, tidak didengar pendapatnya, keinginan untuk selalu memaksakan kehendak tanpa peduli dengan pendapat orang lain, sehingga selalu cenderung untuk menganggap rendah atau meremehkan orang lain.
Dan masih banyak faktor yang menimbulkan perpecahan, perselisihan di tengah-tengah persekutuan dan bagaimanapun ‘ kesatuan ‘, ‘ persatuan ‘ menjadi hal yang sulit untuk dipelihara. Keprihatinan akan muculnya perpecahan, perselisihan di tengah-tengah persekutuan, jelas pula diungkapkan oleh Rasul Paulus ketika ia mendengarkan bahwa itu terjadi ditengah-tengah persekutuan jemaat di Korintus. Dengan terang ia berkata, apakah Kristus juga terbagi-bagi ? Karena di beberapa suratnya ia menggambarkan bahwa seluruh orang percaya adalah bagian dari anggota tubuh Kristus yang seharusnya bersatu hingga mampu menghasilkan karya yang luar biasa. Tidak ada yang perlu merasa lebih hebat karena fungsinya atau merasa minder karena tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orang lain.
Karena itu, pemberitaan tentang salib menjadi kesaksian bagi Paulus untuk mengingatkan setiap orang percaya bahwa jika setiap persekutuan diikat oleh kasih, maka setiap orang akan hidup saling menghargai antara yang satu dengan yang lain. Karena kasih adalah ikatan yang paling sempurna. Ketika kita menyadari bahwa perbedaan adalah kekayaan maka kita pun akan menghargai perbedaan dan dengan kasih kita akan tetap hidup dalam kesatuan, karena kita peduli dengan kepentingan bersama daripada menonjolkan diri sendiri.
Karena itu marilah kita untuk tetap hidup dalam kesatuan, hidup dalam persatuan dengan mengandalkan kasih yang daripada Tuhan. ( Pdt. Rita H. Simanjuntak, S.Th. )

0 komentar:
Post a Comment