Masyarakat setempat gempar, polisi berdatangan ke toko kelontong yang terletak di pinggir jalan itu. Aku mendekati sebagian orang yang bergerombol membicarakan kejadian sebenarnya. Ternyata salah seorang pelayan toko telah mencoba membacok majikan perempuannya, yang masih sempat tertolong. Pelayan toko tersebut merasa tertindas dan sakit hati karena kata-kata pedas dan omelan yang kelewat kasar dari majikannya. Saya mendengar dari beberapa orang bahwa sang majikan perempuan memang judes. Kata-katanya kasar dan selalu merendahkan orang, padahal sebagai seorang penjual sekaligus majikan, sudah seharusnya ia bersikap ramah. Setelah mengingat-ingat suatu kejadian, saya akhirnya membenarkan kata orang bahwa majikan itu memang judes dan kasar. Beberapa hari yang lalu sebelum kejadian itu, saya pernah datang ke tokonya untuk membeli kotak roti. Kesan yang saya dapatkan memang benar, bahwa majikan itu begitu kasar, sehingga saya tidak pernah lagi mampir ke toko itu kalau tidak terpaksa. Hati-hati dengan sikap dan kata-kata yang kita keluarkan, karena disekeliling kita ada orang -orang yang mungkin merasa disakiti dan terluka.
Yakobus berkata bahwa orang yang menganggap dirinya beribadah namun tidak dapat mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri dan sia-sialah ibadahnya. Lidah yang tidak dapat dikekang bisa mendatangkan kesulitan bagi diri sendiri. Oleh sebab itu jagalah hati kita, karena kata-kata yang keluar dari mulut mencerminkan keadaan hati yang sesungguhnya. “ Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaan yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” ( Luk 6 : 42 ).
Berikut ini adalah beberapa kiat yang akan menolong kita untuk mengekang lidah :
1. Jangan boros kata-kata. Artinya berpikirlah dahulu sebelum mengeluarkan kata-kata. Tidak sedikit orang yang terlalu cepat berbicara, tanpa mempertimbangkan apakah kata-katanya benar atau tidak, membangun atau melemahkan orang lain. Orang seperti ini baru akan memikirkan kembali kata-kata yang ia keluarkan, setelah ada orang yang merasa tersinggung atau marah karena kata-katanya yang kasar dan tidak berhikmat.
2. Cobalah tempatkan diri anda pada posisi orang lain. Jika kita bisa melakukan ini, barulah kita akan mengerti bagaimana sakitnya dicaci maki dan bagaimana terlukanya direndahkan melalui kata-kata yang tajam. Dengan demikian, kita tidak akan mudah mengata-ngatai atau menghujat orang lain dengan kata-kata yang tidak sepantasnya.
3. Latihlah lidah kita mengeluarkan kata-kata yang manis dan membangun. Sesuatu yang kita lakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu akan menjadi karakter. Alangkah indahnya jika yang keluar dari mulut kita hanya kata-kata yang manis, yang membangun dan yang mendatangkan hormat dan kemuliaan bagi Tuhan dalam Yesus Kristus.
Kendalikan lidah dengan kasih dan kerendahan hati
Saya tidak mengijinkan seorang pun mempersempit dan menjatuhkan jiwa saya dengan membuat saya membencinya ( Broker T. Washington )
0 komentar:
Post a Comment