Monday, October 10, 2016

Integritas

Apakah itu integritas ? kata yang sering di ucapkan namun tak jarang kita sendiri tidak mengerti apa maksud dari kata itu. Dalam KBBI ( Kamus Besar Bahasa Indonesia ) tertulis bahwa in•teg•ri•tas n mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Dan dalam arti luasnya kita bisa berkata bahwa integritas itu adalah keterpaduan dan keseimbangan dari semua sifat ( Kejujuran, kredibilitas, moralitas, karakter, etika dan kepribadian ) yang akan menghasilkan mutu atau kualitas hidup yang baik, memancarkan nilai-nilai dan kewibawaan yang menjadikan seseorang itu dapat dipercaya.

Mari kita melihat krisis-krisis yang terjadi di Negara kita, banyak petinggi-petinggi atau pemimpin-pemimpin bangsa kita yang mengalami krisis integritas. Kata-kata manis yang keluar dari mulut yang tidak sejalan dengan apa yang dilakukan. Bukan hanya pada pemimpin-pemimpin bangsa kita namun secara nyata krisis integritas tersebut juga sudah melanda sampai kedalam kehidupan kita masing-masing seperti titip absen di perkuliahan, plagiat tugas kuliah atau copy paste tugas kuliah, membohongi orang tua untuk mengirimkan uang lebih demi beli buku, namun ternyata yang ada untuk pergi jalan-jalan sama teman, janji datang persekutuan namun tidak jadi karena alasan malas, ngakunya kuliah sama orang tua di rumah namun kenyataannya main game terus di kosan dan masih banyak lagi krisis-krisis integritas yang terjadi di dalam kehidupan kita, mari kita renungkan sendiri bagian-bagian itu.

Apa sebenarnya yang menjadi penghambat perkembangan integritas :

1.    Kurangnya pengenalan akan Kristus, yang membuat setiap kita mengabaikan dasar yang seharusnya menjadi standar hidup kita dan membuat hidup kita hanya berfokus kepada apa yang di lihat oleh dunia penting bahkan dengan biasa melakukan hal-hal kecurangan demi untuk kesenangan dan kepuasan pribadi.

2.    Kekuasan

3.    Keuangan atau ekonomi

4.    Faktor-faktor social negative

Lalu bagaimana cara kita agar mampu hidup berintegritas ? dalam Matius 7 : 24 -25 ada tertulis 24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 25  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Hidup di atas dasar yang kuat dan yang benar yaitu hidup di dalam Firman Allah sehingga kita dapat dimampukan untuk hidup di dalam integritas yang sejati yang terus menerus di proses menuju kedewasaan di dalam Kristus.

Kesaksian yg paling efektif berasal dari mereka yg mewujudnyatakan hal-hal yg mereka katakan. Mereka adalah perwujudan dari pesan mereka sendiri. Orang Kristen harus konsisten dengan perkataan mereka sendiri.... Apa yg dikomunikasikannya pada dasarnya merupakan keaslian pribadinya.

( John Poulton, Uskup Agung dalam bidang penginjilan)

“Integritas tidak bisa dikompromikan. Usaha-usaha yang dijalankan oleh perusahaan kami di seluruh dunia harus dilaksanakan dengan sikap yang bertanggung jawab secara sosial dan menjunjung tinggi integritas serta berkontribusi positif pada masyarakat”

(Pernyataan Misi Ford Motors)

Yesus berkata,
"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10)






Wednesday, September 28, 2016

Kelompok Tumbuh Bersama

Tahukah kamu apa itu komunitas ? Menurut KBBI ko•mu•ni•tas n kelompok organisme (orang dsb) yg hidup dan saling berinteraksi di dl daerah tertentu; masyarakat; paguyuban;
-- desa Antr komunitas yg bersifat kedesa-desaan; -- hutan bakau komunitas yg hidup di hutan bakau di daerah pantai; -- sastra kelompok atau kumpulan orang yg meminati dan berkecimpung dl bidang sastra; masyarakat sastra. ke•lom•pok n 1 kumpulan (tt orang, binatang, dsb); 2 golongan (tt profesi, aliran, lapisan masyarakat, dsb); 3 gugusan (tt bintang, pulau, dsb); 4 Antr kumpulan manusia yg merupakan kesatuan beridentitas dng adat-istiadat dan sistem norma yg mengatur pola-pola interaksi antara manusia itu; 5 Pol kumpulan orang yg memiliki beberapa atribut sama atau hubungan dng pihak yg sama; 6 Kim kuantitas zat yg akan dimasak atau diolah dl satu waktu; -- pemirsa Kom kumpulan penonton televisi yg diatur untuk penyuluhan melalui media televisi; -- pendengar Kom kumpulan orang yg mendengar dan mendiskusikan siaran radio pedesaan atau pita rekaman, yg bersifat penyuluhan, terutama untuk masyarakat pedesaan.

Tujuan pertumbuhan rohani seorang Kristen adalah Percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi dan yang kemudian hendaklah seorang Kristen menjadi seorang Murid Kristus, seseorang yang mau belajar dengan penuh disiplin dalam melakukannya. Dalam I Petrus 2:2 tertulis “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan,” (Surat Petrus Yang Pertama  ini ditujukan kepada orang-orang Kristen yang tersebar di seluruh bagian utara Asia Kecil. Mereka disebut "umat pilihan Allah". Maksud utama surat ini ialah untuk menguatkan iman para pembacanya yang sedang mengalami tekanan dan penganiayaan karena percaya kepada Kristus. Petrus mengingatkan para pembacanya akan Kabar Baik tentang Yesus Kristus yang merupakan jaminan harapan mereka ). Menjadi MURID merupakan panggilan yang diberikan Tuhan kepada setiap orang yang mau mengikuti DIA, dan merupakan panggilan seumur hidup. Namun masalah berikutnya adalah bagimana seorang murid bisa bertumbuh dan melakukan panggilan itu jika tidak diberikan wadah/tempat untuk seseorang itu bisa berproses.

KK (Kelompok Kecil) / KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) adalah kelompok yang terdiri dari 4 – 6 orang, yang sepakat untuk berkumpul secara kontinu dalam satu tempat dan melakukan berbagai hal yang menunjang pertumbuhan mereka di dalam Kristus (mempelajari dan menerapkan Firman Tuhan). Tiap kelompok kecil terdiri dari anggota dan satu pemimpin. Singkatnya: terdiri dari 4-5 orang yang punya kerinduan untuk bertumbuh di dalam Kristus menjadi murid sejati. Kelompok kecil atau Kelompok Tumbuh Bersama bukanlah produk suatu gereja atau persekutuan tertentu, melainkan merupakan suatu pola pemuridan yang Allah gunakan bagi umatNya di dalam sejarah. Pola ini dapat ditemukan dalam Alkitab, sejak Perjanjian Lama sampai ke Perjanjian Baru.

Lalu apa tujuan Kelompok Kecil atau Kelompok Tumbuh Bersama ini ? Tujuannya bisa kita temukan dalam surat Paulus kepada jemaat di Efesus 4 : 13 – 15 “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah , kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”

Kita tahu bahwa pola Kelompok Kecil atau Kelompok Tumbuh Bersama ini sudah di pakai mulai dari zaman Perjanjian Lama hingga zaman Perjanjian Baru. Diawali dengan kisah Adam dan Hawa yang selalu bersekutu dengan Allah di dalam Taman Eden ( Kejadian 3 : 8 ) bahwa pada hari sejuk Allah selalu datang ke Taman Eden untuk bercakap-cakap dan berdiskusi dengan Adam dan Hawa, pola yang telah di ajarkan oleh Allah sendiri kepada kita. Kemudian Nuh dalam Kejadian 7 – 9 juga membentuk kelompok kecil bersama dengan keluarganya. Musa dalam Keluaran 18 : 13 – 26, lalu Daniel dengan teman-teman kelompok kecilnya yaitu Sadrakh, Mesakh dan Abednego dalam Daniel 1:6; 13-20; 2:17-18. Hingga kepada zaman Perjanjian Baru yang juga di ajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Yesus Kristus menggunakan metode kelompok kecil dengan mem-fokus-kan pengajaranNya pada 12 orang murid yang diharapkan dapat melanjutkan misiNya, memberitakan Injil ke seluruh dunia (Matius 10:1-5; Mrk 5:37; 9:2; 14:33 ). Gereja mula-mula berdiri, Tuhan menambahkan jumlah mereka setiap hari. Dari 120 orang (Kisah Para Rasul 1:15), kemudian menjadi 3000 orang (Kisah Para Rasul 2:41). Mereka menggunakan metode “kelompok” yaitu dengan berkumpul di rumah-rumah untuk beribadah dan belajar Firman Tuhan. (Kisah Para Rasul 2:41-47). Rasul Paulus juga menggunakan metode kelompok kecil. Tentunya Paulus sadar bahwa tidak mungkin ia membebankan tanggung jawab dan tugas pelayanan kepada semua orang yang ia layani. Ia harus secara khusus melatih beberapa orang di dalam jemaat untuk diserahi tugas dan tanggung jawab ini. Oleh sebab itu, kita menemukan orang-orang seperti Titus, Timotius, Lukas, di dalam pelayanan Paulus. Ia bahkan “memerintahkan“ Timotius “anak kelompok kecil”-nya untuk meneruskan Injil Tuhan, harta yang indah, kepada orang-orang yang juga cakap untuk mengajar /memuridkan orang lain (2 Timotius 2:2; Titus 1 : 4).

Lalu apa fungsi dan keunggulan dari Kelompok Kecil atau Kelompok Tumbuh Bersama ?

1.    Untuk membangun watak seperti Kristus.
2.    Melatih dalam dasar-dasar ke-Kristenan, seperti saat teduh dan jam doa yang teratur, menggali 
       firman Tuhan, dan lain-lain.

Beberapa keunggulan kelompok kecil sebagai berikut :

1.    Materi pembahasannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan anggota-anggotanya.
2.    Suasana kelompok kecil memungkinkan setiap anggotanya untuk aktif menggali dan aktif  
       berdiskusi
3.    Pemimpin kelompok memberikan dukungan doa, perhatian, dorongan, nasihat, ataupun teguran
       yang bersifat pribadi. ( seperti dalam surat Paulus kepada Timotius )
4.    Dalam kelompok kecil, seseorang bisa menemukan suatu komunitas untuk saling berbagi, saling
       memperhatikan, saling mendorong, dan sekaligus saling mengasah untuk bisa bertumbuh
       bersama dalam kebenaran.

Dan kemudian alasan apa yang membuat Kelompok Kecil atau Kelompok Tumbuh Bersama perlu diadakan ?

1.    Network of belonging (persekutuan), orang butuh komunitas
2.    Big enough question (pertanyaan-pertanyaan besar dalam komunitas)
3.    Ada perjumpaan dengan perspektif yang berbeda-beda. Komunitas itu tidak homogen justru
       ketika berbeda-beda itu akan mengasah & membuat sudut pandang yang berbeda-beda.
4.    Kebiasaan berpikir (habbits of mind)
       a)    Dialog. Ruang untuk bercakap-cakap
       b)    Berpikir kritis.
       c)    Berpikir secara holistik (tidak sepotong-potong)
       d)    Ruang untuk merenung (contemplatif)


Sudah terbukti bahwa Kelompok Kecil atau Kelompok Tumbuh Bersama berperan bagi setiap aspek kehidupan murid Kristus tidak hanya sebagai keluarga, atau membimbing dalam studi bahkan pelayanan tapi semuanya karena Firman Allah yang mengubahkan itu menjadi dasarnya. Kalau kita berada disini saat ini yakinlah bahwa kita adalah orang-orang yang berbahagia, mengapa? Karena visi Kristen tidak lain daripada lahirnya murid-murid Kristus dari antara semua bangsa! Itu adalah kehendak dan rencana Tuhan Yesus sang Kepala Gereja sendiri. Juga yakinkan bahwa kita memang seorang murid. Murid yang meneladani dan mencintai Kristus.



Monday, September 19, 2016

Engkau Akan Menjadi Mata Air Yang Tak Kering

9Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, 10apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. 11TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diari dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. 12Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”. 13Apabila engkau tidak menginjak-nginjak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat “hari kenikmatan”, dan hari kudus TUHAN “hari yang mulia”, apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, 14maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut TUHANlah yang mengatakannya. ( Yesaya 58 : 9 – 14 ).

    Dalam perkembangan ibadah bangsa Israel pada zaman menjelang pembuangan ke Babel mengalami pergeseran makna. Kalau dilihat dari bentuk peribadatan mereka sangat berkembang, baik dari segi tata ibadah, baik dari segi seremonial, baik ketaatan, hanya saja maknanya jadi berbeda. Keadaan inilah yang dikritik oleh Nabi Yesaya, dimana menurut pengamatan Yesaya bangsa itu memang melaksanakan semua ketentuan yang diperintahkan oleh Tuhan, melakukan sesuai dengan hukum taurat, memberikan korban persembahan, melaksanakan perayanaan sebagaimana diatur oleh perintah Tuhan, mentaati seluruh aturan yang ditetapkan. Apakah ini salah ? Yesaya berkata tidak salah, lalu dimana letak persoalannya. Ketika ibadah dilakukan hanya untuk memenuhi perintah Tuhan, ibadah hanya untuk menyenangkan Tuhan, hanya untuk melaksanakan aturan, ibadah itu kehilangan makna, ibadah itu tidak mempunyai dampak atau boleh saja ibadah menjadi beban

    Lalu muncul pertanyaan, bagaimana ibadah yang benar ? Bagaimana persembahan yang disukai Tuhan ? Firman Tuhan berbicara sangat jelas dan gamblang, yaitu tidak mengenakan kuk atau beban, hukuman, kekerasan kepada orang lain, tidak menghakimi, tidak memfitnah orang lain, menolong orang lapar dan miskin, membebaskan orang yang tertindas. Itu artinya ibadah harus membawa pengaruh kepada cara berpikir, menggerakan hati nurani, mengasah perasaan dan kepekaan. Ibadah tidak mempunyai makna kalau hanya untuk memuaskan perasaan, kalau hanya sebatas tunduk kepada aturan, kalau hanya sebatas kebiasaan, kalau hanya untuk diri sendiri. Ibadah akan menjadi berarti kalau itu membuka mata memahami tugas dan tanggung jawab, menggerakan hati untuk membangun kehidupan yang lebih baik, harus mengasah kepekaan untuk melihat persoalan yang terjadi. Dan yang lebih dalam lagi bagaimana ibadah itu selalu diarahkan untuk mengerti dan melakukan keadilan, membela hak orang lain, menolong yang tertindas. Tuhan menuntut untuk beribadah dengan tekun dan baik didalam doa dan membaca Firman Tuhan, Tuhan suka dengan ibadah yang dilaksanakan dengan sukacita, Tuhan sangat senang dengan pujian dan nyanyian, tetapi Tuhan lebih suka kalau itu mempengaruhi hati, menggerakkan jiwa supaya semakin mengasihi kehidupan, supaya semua orang dapat menikmati anugerah Tuhan melalui perbuatan dan tindakan orang percaya. Itulah yang disebut oleh Rasul Yakobus dengan kata-kata “iman tanpa perbuatan pada dasarnya adalah mati”. Karena itu ibadah harus mendorong manusia untuk berbuat dan bertindak.

    Oleh karena itu tugas orang percaya adalah membawa terang kepada kegelapan dunia, membawa kesejukan ditengah kegersangan persaudaraan yang sedang melanda dunia, membawa sukacita ditengah penderitaan dan kegelisahan. Orang percaya akan menjadi terang, menjadi sumber mata air yang tidak pernah kering. Dunia yang porak poranda karena kerakusan dan ego dapat kita bangun kembali menjadi dunia yang penuh dengan cinta kasih hanya kalau orang percaya mau menjadi pelaku Firman Tuhan. Persembahakan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus yang berkenan kepada Allah sebab itulah ibadahmu yang sejati kata Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma.

Sunday, September 18, 2016

Visi Pelayanan Mahasiswa

Visi dan misi memiliki kaitan yang sangat erat. Keduanya tak terpisahkan. Visi pada hakekatnya adalah jiwa dari sebuah gerakan, misi. Harapannya, cita-citanya, obsesinya. Visilah yang melahirkan, menghidupkan, mengarahkan, dan menopang misi. Tanpa visi, tiada misi, yang ada atau tersisa cuma tradisi, aktivitas. Sebaliknya, tanpa misi, tiada visi, yang ada atau tersisa cuma mimpi!

    Ancaman besar bagi gerakan pelayanan mahasiswa dewasa ini, seperti dikemukanan Samuel Escobar, adalah hilangnya penjiwaan akan visi dari para perintisnya. Jika ini yang terjadi,, gerakkan itu takkan bertahan, cepat atau lambat pasti berakhir. Seperti lilin yang kehilangan nyala api, sumbunya memang masih membara, namun cuma untuk sementara, selanjutnya … padam untuk selama-lamanya!

    Memang, terminologi “visi” dan “misi” sendiri tidak eksklusif Kristiani. Lembaga-lembaga sekuler bahkan perorangan juga menggunakannya. Namun, patut dicatat bahwa hakekat visi dan misi Kristen unik, lain daripada yang lain. Visi Kristen bukan sekedar produk nalar, idealisme, atau ambisi manusia, seluhur apapun itu, tapi bersumber dari penyataan kehendak dan rencana Allah sendiri. Misi Kristen tidak pernah dimulai dari inisiatif manusia, tapi selalu berawal dari inisiatif Allah, terobosan aksi Allah di dalam sejarah!

    Kata latin missio berarti pengutusan. Berbicara tentang misi Kristen berarti berbicara tentang pengutusan. Siapa yang mengutus ? Siapa yang diutus ? Diutus untuk apa ? Itulah beberapa pertanyaan mendasar di dalam Misiologi Kristen. Kita perlu menggali kembali jawaban-jawabannya di dalam Alkitab, jika ingin mengerti secara akurat dan mendalam keunikan visi dan misi Kristen!

    “salah satu bahaya besar yang dihadapi oleh pelayanan mahasiswa dan kegiatan-kegiatan Kristen lainnya adalah menjadi lembaga yang kehilangan visi; generasi penerus melanjutkan kegiatan yang ada namun kehilangan semangat yang mendasari gerakan tersebut. Nama, dukungan keunganan, dan program tetap ada, tetapi orang-orangnya tidak lagi berpegang pada visi yang sama dengan para pendirinya. Mereka meneruskan tradisi hanya secara pasif bukan karena mengalami sendiri dorongan dan pimpinan Roh Kudus. Akhirnya terjadi kekecewaan, kehilangan motivasi; dan gerakan Kristen tersebut mengalami krisis atau bahkan kehancuran”

    Visi bersifat menular, ditransmisikan dari pribadi ke pribadi. Visi dapat dijelaskan di atas kertas atau pita rekaman, namun transmisi visi selalu melibatkan manusia, karena visi akan menjadi sesuatu yang menguasai kita, seperti sebuah impian yang kita yakini sepenuh hati. Dalam tubuh Kristus , visi diterjemahkan sebagai kehendak Tuhan bagi kita, sehingga kita bersedia bekerja keras dan berkorban bagi-Nya. Demikian juga sikap Paulus dan Petrus terhadap pangilan dan pekerjaan kerasulan mereka; karenanya, mereka tidak takut menjadikannya sebagai hal yang bersifat begitu pribadi ( 1 Tesalonika 2 ; 2 Petrus 1 : 12 – 15 ). Manusialah yang mewujudnyatakan visi. Transmisi visi melibatkan orang-orang yang memuridkan orang lain. Hal itu tidak dapat dilakukan dengan instruksi atau aturan-aturan tertulis. Transmisi visi selalu subyektif karena bersifat pribadi; hal itu bukan sesuatu yang obyektif.

    Para pendiri dan pemimpin perlu menciptakan pertemuan-pertemuan yang bermakna lebih dalam dengan generasi penerus mereka. Sediakan waktu untuk membangun persahabatan di tengah-tengah jadwal harian anda. Biarkanlah para senior menceritakan “kisah mereka” dan doronglah mereka untuk bersikap jujur dan mengungkapkan hal-hal yang menyangkut pribadi mereka. Pendiri IFES di Amerika Latin, Ruth Siemens dan Robert Young, bersahab karib dengan kami, generasi penerusnya. Mereka tidak menulis buku panduan pelayanan mahasiswa, tetapi membagikan prinsip-prinsipnya melalui berbagai situasi ( pertemuan ) informal yang sekarang saya sadari merupakan masa-masa kunci dalam proses belajar saya. Dan dengan melihat beberapa  pemimpin baru yang kami bina, saya semakin menyadari bahwa proses transfer visi itu terjadi melalui kehangatan dan sukacita persahabatan ( suasana yang bersifat pribadi ). Tentu saja Firman Tuhan dan doa merupakan kunci dalam proses ini tetapi suasana yang bersifat pribadi ini pun adalah salah satu kunci lainnya.

    Semakin serupa dengan Kristus dan mampu menjadi garam dan terang dimana pun Tuhan menempatkan setiap kita.

Sumber : Buku Our Heritage ( Keunikan & Kekayaan Pelayanan Mahasiswa )
Perkantas Jakarta

Tuesday, September 13, 2016

Pengampunan dan Kematian-Nya

Suatu hari seorang wanita datang kepada seorang pendeta dengan membawa sebakul penuh pasir yang masih basah. “Apkah Pak Pendeta melihat apa yang saya bawa ?” tanya wanita itu. “Tentu, aku melihatnya. Itu adalah pasir yang basah,” jawab pendeta. “Tapi apa arti semua ini ? Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu,” sambung pendeta. “Seperti itulah hidup saya, penuh dengan dosa yang tidak terhitung banyaknya. Dosa-dosa itu telah memenuhi dan mengotori seluruh hidup saya. Saya adalah wanita yang kotor dan hina. Bagaimana mungkin orang yang penuh dengan dosa seperti saya bisa diselamatkan dan dibersihkan dari dosa-dosa yang banyak itu ?” “Dari mana kau mengambil pasir ini ?” tanya pendeta. “Dari pantai,” jawab si wanita. “Sekarang kembalilah ke pantai, bawa serta satu perangkat sekop. Buatlah timbunan pasir setinggi yang kau bisa dan biarkan. Berdirilah tidak jauh dari timbunan pasir yang kau buat dan perhatikan bagaimana gelombang laut akan meruntuhkan dan menyapu bersih timbunan pasir tersebut. Demikianlah darah Yesus akan menyucikan engkau dari segala noda dosa yang begitu banyak.”

    Seperti halnya wanita yang telah melakukan banyak dosa dan ia berpikir bahwa tidak ada yang dapat menolongnya, demikianlah banyak orang mengira bahwa tidak ada yang dapat menolongnya, demikianlah banyak orang mengira bahwa dosa yang telah menghancurkan hidup mereka dan memisahkan mereka dari Allah untuk selamanya. Tetapi kita bersyukur kepada Allah karena pengorbanan Yesus di atas kayu salib mampu menyucikan kita dari segala noda dosa, membuat kita bersih dan layak di hadapan Allah.

    Bagaimana pun jahatnya kita di masa lalu, sebanyak apa pun dosa yang sudah kita lakukan, itu jangan dijadikan alasan untuk tetap hidup di dalam dosa serta keputusasaan, tidak sedikit orang yang karena mengira bahwa tidak ada lagi cara untuk memperbaiki hidup mereka yang rusak karena dosa, akhirnya memutuskan untuk semakin jahat dan semakin berdosa. “Terlanjur basah, ya mandi sekalian,” bunyi lirik seuntai lagu. Maksudnya karena sudah terlanjur berdosa, ya berbuat dosa saja selamanya.

    Saudaraku, jika jalan menuju kehidupan terbuka lebar di depan kita, mengapa harus memilih hidup dalam dosa yang akan berakhir dengan maut ? Yesus telah mati agar dosa-dosa kita dibersihkan, kita dikuduskan atau disucikan dan melayakkan kita di hadapan Allah. Marilah kita datang kepada-Nya, bawa beban dosa yang begitu memberati kita selama ini, mohon pengampunan-Nya dan biarkan Dia menyucikan kita dari segala dosa. Maksud Yesus mencurahkan darah-Nya dan membiarkan para serdadu Romawi menyesah Dia, menikam lambung-Nya adalah untuk menaggung hukuman atas dosa yang kita lakukan. Pengorbanan yang sempurna itu telah memperdamaikan kita dengan Allah sehingga kita layak memanggil-Nya “Bapa”.

Bagai Gelombang menyapu pasir pantai, demikianlah darah Yesus menyuciakan dosa.

Pikiran besar yang dibuat menjadi tindakan, akan membuat hal yang besar. –Hazlitt-

Monday, September 12, 2016

Interdenominasi

Apa itu interdenominasi ? Interdenominasi terdiri dari dua kata yaitu, inter yang artinya antar atau lintas dan denominasi yang artinya aliran sehingga dapat diartikan sebagai hubungan, kerjasama ( kolaborasi ), persekutuan di antara berbagai aliran di dalam kekristenan yang berkomitmen untuk sama-sama saling berdoa, beribadah, memuji Tuhan, mendengarkan Firman-Nya, bertumbuh dan menjadi dewasa bersama dalam pimpinan Roh Kudus. Interdenominasi juga sering kita kenal dengan istilah oikumene, Oikos/όικος, berarti rumah dan Mene/μενήιν,  berarti tinggal atau berdiam, dalam Ibrani 2 : 5 menunjukan pada Kerajaan Allah. Dan dapat diartikan sebagai tempat berbagai aliran di dalam kekristenan untuk bersatu padu dalam menyembah dan memuji Tuhan.

 Aliran-aliran besar dalam kekristenan

    Kita tahu bahwa pada saat ini ada begitu banyak denominasi gereja yang tersebar di seluruh dunia saat ini, dengan berbagai pengajarannya masing-masing, liturgi ibadah, tata cara ibadah dan lain sebagainya. David B. Barret : The World Christian Encyclopedia pernah menyatakan bahwa Tahun 2001: Sekitar 33.000 Denominasi & Sekte-sekte yang tersebar di dunia dan Tahun 2007: ada Sekitar 39.000 Denominasi & Sekte-sekte.

    Lalu bagaimana pelayanan mahasiswa dapat menentukan denominasi apa yang harus diambilnya dalam melakukan pelayanan di kampusnya dengan berbagai macam keragaman, berbagai macam gereja, berbagai macam denominasi yang ada ? Interdenominasi adalah Sifat (Ciri & Keunikan) Pelayanan Mahasiswa Kristen. Sifat atau ciri yang tidak mengambil salah satu dari denominasi yang ada namun membuat hubungan, kerjasama ( kolaborasi ), persekutuan di antara berbagai aliran di dalam kekristenan yang berkomitmen untuk sama-sama saling berdoa, beribadah, memuji Tuhan, mendengarkan Firman-Nya, bertumbuh dan menjadi dewasa bersama dalam pimpinan Roh Kudus.

    Lalu mengapa pelayanan mahasiswa Kristen mengambil interdenominasi sebagai sifat atau ciri dalam pelayannya ? ada tiga alasan yang mendasari interdenominasi sebagai ciri dari setiap pelayanan kampus di dunia :

1.    KEANGGOTAANNYA, terdiri dari denominasi gereja yang berbeda-beda.

2.    EKSISTENSINYA, sebagai tempat bertumbuh, merangkul, dan mencakup mahasiswa dari berbagai gereja dan aliran.

3.    RELASI DENGAN GEREJA, mengembalikan mahasiswa kepada gerejanya masing-masing.

     Pertanyaan berikutnya adalah apakah itu semua berdasarkan pemahaman Alkitab ? Mari kita temukan pemahaman-pehaman dasar yang terdapat di dalam Alkitab.

1.    Tuhan telah memberikan karunia yang berbeda-beda kepada para orang percaya. “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.” (1 Kor. 12:4).

2.    Tuhan memberikan berbagai bentuk pelayanan atau aliran (denominasi) yang berbeda dalam gereja Tuhan atau Lembaga Pelayanan. “Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.” (1 Kor. 12:5).

3.    Tuhan tidak pernah menciptakan gereja, lembaga, pelayanan untuk selalu sama, tetapi harus memiliki ciri khas tersendiri di dalam Kristus untuk saling melengkapi. “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibabtis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.” (1 Kor. 12:12-14).

4.    Keunikan tersebut bertujuan untuk memotivasi kita untuk saling memperhatikan, mengisi, dll. “Supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” (1 Kor. 12:25-26). 

5.    Karunia-karunia, keunikan di dalam gereja dan pelayanan harus tetap mempersatukan kita di dalam Kristus (Efesus 4:1-16).

    Dan mari kita lihat pendekatan Alkitab yang dilakukan Paulus seperti yang tertulis dalam 1 Kor. 9:19-23. Di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus Paulus menuliskan dan melakukan hal-hal yang bertujuan Ingin memenangkan sebanyak mungkin orang dan Ingin mencari yang hilang dan menyelamatkan yang binasa. Sehingga Paulus menyesuaikan diri untuk alasan-alasan keselamatan. Atau meyatakan motivasi Paulus untuk Penginjilan. Kemudian ia menyesuaikan diri “Bagi orang-orang Yahudi ia menjadi seperti orang Yahudi, bagi orang Yunani ia bertindak seperti orang Yunani, terhadap orang lemah ia bersifat seperti orang lemah.” Paulus ingin mengatakan bahwa kita harus Menghormati/menghargai dan menaruh perhatian pada perbedaan orang lain, berusaha mencari dan membentuk “jembatan-jembatan komunikasi” dengan orang lain, peka dan berempati terhadap harapan, keinginan, kebutuhan sesama. Paulus juga menjaga batas “DI BAWAH HUKUM KRISTUS” bahwa Firman Allah adalah wewenang tertinggi, meskipun bersikap luwes dan harus menyesuaikan diri terhadap perbedaan sesama, harus menguji segala sesuatu dengan Firman Allah.

    Sudaraku, akhirnya kita memahami bahwa denominasi atau perbedaan-perbedaan bukanlah sesuatu hal yang salah namun perbedaan adalah sebuah kekayaan yang kita miliki. Tidak peduli tata ibadah apa yang kita pakai, liturgi seperti apa yang kita gunakan, namun yang pasti adalah bahwa satu-satunya jalan keselamatan kita adalah melalui Tuhan Yesus Kristus yang semuanya didasari oleh Alkitab. Selamat berinterdenominasi.

Saturday, September 10, 2016

Menyendengkan Telinga Pada Suara Tuhan

Tak banyak orang Kristen yang mengetahui tentang Zerubabel, pada hal banyak hal yang dapat kita petik dari tokoh Alkitab ini. Siapakah Zerubabel ? Zerubabel adalah pribadi yang mau dipakai Allah untuk mendirikan Bait Allah yang kedua. Dari namanya, Zerubabel yang artinya “keturunan Babel” dapat disimpulkan bahwa Zerubabel adalah anak dari Sealtiel, masih keturunan Raja Daud ( 1 Tawarikh 3 : 16 – 19 ). Jadi Zerubabel bukanlah orang biasa, ia adalah seorang bangsawan Israel yang menjabat sebagai Gubernur Yehuda.

    Alkitab dan sejarah mencatat bahwa bangsa Israel dibuang + 70 tahun lamanya ke Babel. Pada masa pembuangan dan pasca pembuangan itu, kebanyakan dari bangsa Israel terutama mereka yang berdarah biru tidak mendengarkan, apalagi mengindahkan apa yang dikatakan Allah melalui nabi-nabi-Nya. Tetapi tidak demikian dengan Zerubabel, ia adalah seorang pejabat yang menyendengkan telinganya kepada seruan Allah. Itu terbukti ketika ia mendengarkan Allah yang berbicara kepadanya lewat nabi Hagai. “Pada tahun yang kedua zaman Raja Darius, dalam bulan yang keenam, pada hari pertama bulan itu, datanglah firman Tuhan dengan perantaraan nabi Hagai kepada Zerubabel bin Sealtiel …” ( Hagai 1 : 1 ). Zerubabel mendapat pesan bahwa Allah ingin agar dia pulang ke Yerusalem dan membangun Bait Allah yang kedua disana. Alkitab mencatat bahwa Zerubabel percaya penuh pada perintah itu dan segera bertindak mewujudkan apa yang Allah mau untuk dia kerjakan.

    Seorang pemimpin atau pejabat seharusnya menyadari bahwa Allah memberi mereka kesempatan memimpin adalah untuk melakukan kehendak Allah di atas bumi ini. Tetapi pada masa ini, jarang sekali para pemimpin atau pejabat yang menyendengkan telinganya untuk mengetahui apa yang Allah inginkan untuk dilakukannya. Kebanyakan dari mereka hanya melakukan apa yang dikehendaki dan mengutamakan dirinya sendiri.

    Marilah kita belajar untuk menyendengkan telinga kita kepada apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan, sebagaimana Zerubabel yang menyendengkan telinganya kepada kehendak Allah. Jika kita menyendengkan telinga kepada kehendak Allah maka kehendak-Nya menjadi nyata di bumi ini dan pastilah hal itu akan mnedatangkan kebaikan. Apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan ? Secara terbuka Allah sudah memberitahukan kehendak-Nya kepada kita melalui firman-Nya. Karena itu lakukan apa yang telah difirmankan-Nya.

    Mungkin secara khusus, Tuhan memberikan visi atau tugas khusus kepada kita. Mungkin secara khusus Tuhan berbicara lewat mimpi atau nubuatan agar kita melakukan sesuatu untuk mendatangkan hormat dan kemuliaan bagi nama-Nya. Karena itu, lakukanlah kehendak-Nya dengan sepenuh hati. Jadilah mitra kerja-Nya karena itu merupakan kesempatan bagi kita untuk membuktikan bahwa kita pun mengasihi Dia.

Genapi rancangan Allah di bumi dengan melakukan kehendak-Nya.


Siapa yang tidak siap hari ini, tidak siap esok hari. –Peribahasa Inggris-