9Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, 10apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. 11TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diari dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. 12Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”. 13Apabila engkau tidak menginjak-nginjak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat “hari kenikmatan”, dan hari kudus TUHAN “hari yang mulia”, apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, 14maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut TUHANlah yang mengatakannya. ( Yesaya 58 : 9 – 14 ).
Dalam perkembangan ibadah bangsa Israel pada zaman menjelang pembuangan ke Babel mengalami pergeseran makna. Kalau dilihat dari bentuk peribadatan mereka sangat berkembang, baik dari segi tata ibadah, baik dari segi seremonial, baik ketaatan, hanya saja maknanya jadi berbeda. Keadaan inilah yang dikritik oleh Nabi Yesaya, dimana menurut pengamatan Yesaya bangsa itu memang melaksanakan semua ketentuan yang diperintahkan oleh Tuhan, melakukan sesuai dengan hukum taurat, memberikan korban persembahan, melaksanakan perayanaan sebagaimana diatur oleh perintah Tuhan, mentaati seluruh aturan yang ditetapkan. Apakah ini salah ? Yesaya berkata tidak salah, lalu dimana letak persoalannya. Ketika ibadah dilakukan hanya untuk memenuhi perintah Tuhan, ibadah hanya untuk menyenangkan Tuhan, hanya untuk melaksanakan aturan, ibadah itu kehilangan makna, ibadah itu tidak mempunyai dampak atau boleh saja ibadah menjadi beban
Lalu muncul pertanyaan, bagaimana ibadah yang benar ? Bagaimana persembahan yang disukai Tuhan ? Firman Tuhan berbicara sangat jelas dan gamblang, yaitu tidak mengenakan kuk atau beban, hukuman, kekerasan kepada orang lain, tidak menghakimi, tidak memfitnah orang lain, menolong orang lapar dan miskin, membebaskan orang yang tertindas. Itu artinya ibadah harus membawa pengaruh kepada cara berpikir, menggerakan hati nurani, mengasah perasaan dan kepekaan. Ibadah tidak mempunyai makna kalau hanya untuk memuaskan perasaan, kalau hanya sebatas tunduk kepada aturan, kalau hanya sebatas kebiasaan, kalau hanya untuk diri sendiri. Ibadah akan menjadi berarti kalau itu membuka mata memahami tugas dan tanggung jawab, menggerakan hati untuk membangun kehidupan yang lebih baik, harus mengasah kepekaan untuk melihat persoalan yang terjadi. Dan yang lebih dalam lagi bagaimana ibadah itu selalu diarahkan untuk mengerti dan melakukan keadilan, membela hak orang lain, menolong yang tertindas. Tuhan menuntut untuk beribadah dengan tekun dan baik didalam doa dan membaca Firman Tuhan, Tuhan suka dengan ibadah yang dilaksanakan dengan sukacita, Tuhan sangat senang dengan pujian dan nyanyian, tetapi Tuhan lebih suka kalau itu mempengaruhi hati, menggerakkan jiwa supaya semakin mengasihi kehidupan, supaya semua orang dapat menikmati anugerah Tuhan melalui perbuatan dan tindakan orang percaya. Itulah yang disebut oleh Rasul Yakobus dengan kata-kata “iman tanpa perbuatan pada dasarnya adalah mati”. Karena itu ibadah harus mendorong manusia untuk berbuat dan bertindak.
Oleh karena itu tugas orang percaya adalah membawa terang kepada kegelapan dunia, membawa kesejukan ditengah kegersangan persaudaraan yang sedang melanda dunia, membawa sukacita ditengah penderitaan dan kegelisahan. Orang percaya akan menjadi terang, menjadi sumber mata air yang tidak pernah kering. Dunia yang porak poranda karena kerakusan dan ego dapat kita bangun kembali menjadi dunia yang penuh dengan cinta kasih hanya kalau orang percaya mau menjadi pelaku Firman Tuhan. Persembahakan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus yang berkenan kepada Allah sebab itulah ibadahmu yang sejati kata Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma.

0 komentar:
Post a Comment