Suatu hari seorang wanita datang kepada seorang pendeta dengan membawa sebakul penuh pasir yang masih basah. “Apkah Pak Pendeta melihat apa yang saya bawa ?” tanya wanita itu. “Tentu, aku melihatnya. Itu adalah pasir yang basah,” jawab pendeta. “Tapi apa arti semua ini ? Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu,” sambung pendeta. “Seperti itulah hidup saya, penuh dengan dosa yang tidak terhitung banyaknya. Dosa-dosa itu telah memenuhi dan mengotori seluruh hidup saya. Saya adalah wanita yang kotor dan hina. Bagaimana mungkin orang yang penuh dengan dosa seperti saya bisa diselamatkan dan dibersihkan dari dosa-dosa yang banyak itu ?” “Dari mana kau mengambil pasir ini ?” tanya pendeta. “Dari pantai,” jawab si wanita. “Sekarang kembalilah ke pantai, bawa serta satu perangkat sekop. Buatlah timbunan pasir setinggi yang kau bisa dan biarkan. Berdirilah tidak jauh dari timbunan pasir yang kau buat dan perhatikan bagaimana gelombang laut akan meruntuhkan dan menyapu bersih timbunan pasir tersebut. Demikianlah darah Yesus akan menyucikan engkau dari segala noda dosa yang begitu banyak.”
Seperti halnya wanita yang telah melakukan banyak dosa dan ia berpikir bahwa tidak ada yang dapat menolongnya, demikianlah banyak orang mengira bahwa tidak ada yang dapat menolongnya, demikianlah banyak orang mengira bahwa dosa yang telah menghancurkan hidup mereka dan memisahkan mereka dari Allah untuk selamanya. Tetapi kita bersyukur kepada Allah karena pengorbanan Yesus di atas kayu salib mampu menyucikan kita dari segala noda dosa, membuat kita bersih dan layak di hadapan Allah.
Bagaimana pun jahatnya kita di masa lalu, sebanyak apa pun dosa yang sudah kita lakukan, itu jangan dijadikan alasan untuk tetap hidup di dalam dosa serta keputusasaan, tidak sedikit orang yang karena mengira bahwa tidak ada lagi cara untuk memperbaiki hidup mereka yang rusak karena dosa, akhirnya memutuskan untuk semakin jahat dan semakin berdosa. “Terlanjur basah, ya mandi sekalian,” bunyi lirik seuntai lagu. Maksudnya karena sudah terlanjur berdosa, ya berbuat dosa saja selamanya.
Saudaraku, jika jalan menuju kehidupan terbuka lebar di depan kita, mengapa harus memilih hidup dalam dosa yang akan berakhir dengan maut ? Yesus telah mati agar dosa-dosa kita dibersihkan, kita dikuduskan atau disucikan dan melayakkan kita di hadapan Allah. Marilah kita datang kepada-Nya, bawa beban dosa yang begitu memberati kita selama ini, mohon pengampunan-Nya dan biarkan Dia menyucikan kita dari segala dosa. Maksud Yesus mencurahkan darah-Nya dan membiarkan para serdadu Romawi menyesah Dia, menikam lambung-Nya adalah untuk menaggung hukuman atas dosa yang kita lakukan. Pengorbanan yang sempurna itu telah memperdamaikan kita dengan Allah sehingga kita layak memanggil-Nya “Bapa”.
Bagai Gelombang menyapu pasir pantai, demikianlah darah Yesus menyuciakan dosa.
Pikiran besar yang dibuat menjadi tindakan, akan membuat hal yang besar. –Hazlitt-

0 komentar:
Post a Comment