Jika kita bertanya kepada seorang polisi, “Siapakah anda ?” maka dia akan menjawab “Saya adalah seorang polisi”, atau jika kita bertanya kepada seorang dokter, maka jawaban yang sama akan keluar dari mulutnya “saya adalah seorang dokter” begitu juga dengan yang lainnya. Kita percaya bahwa jika seseorang tahu siapa dirinya atau jika seseorang tahu siapa identitasnya maka dia juga akan tahu apa yang harus dilakukannya. Masakan seorang polisi tidak tahu apa yang harus dilakukannya ? Masakan seorang chef tidak tahu apa yang harus dilakukannya di dapur ? Namun mari kita melihat lebih dalam lagi tentang siapakah diri kita yang sebenarnya, apakah hanya seorang astronot ? seorang pengacara ? seorang guru ? dan lain sebagainya. Kita yakin dan percaya bahwa kita semua lebih dari pada semua jabatan atau semua profesi itu bahwa kita semua adalah anak-anak Allah yang telah ditebus dengan darah yang mahal dan telah dibayar lunas.
Namun kebanyakan orang-orang Kristen tidak menyadari akan identitasnya yang sesungguhnya, sehingga kebanyakan kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan di dalam kehidupan ini. Dalam bukunya John Stott menuliskan sebuah pertanyaan yang membuat banyak orang Kristen bingung untuk menjawab pertanyaan itu, pertanyaannya adalah : Apa tujuan Allah bagi umat-Nya ? Memang benar, kita telah dipertobatkan, namun apa selanjutnya ? Kita semua tahu tentang pernyataan terkenal dari Katekismus singkat Westminster, bahwa “Tujuan akhir manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati-Nya selamanya” kita juga fasih dengan pernyataan singkat yang hanya terdiri dari empat kata seperti “kasihi Allah, kasihi sesamamu.” Namun jika kita menggali lebih dalam maka semuanya itu dapat kita simpulkan bahwa “Allah ingin umat-Nya ( kita sebagai orang-orang percaya ) menjadi serupa dengan Kristus, sebab keserupaan dengan Kristus adalah kehendak Allah bagi umat-Nya.” ( lih. Roma 8 : 29; 2 Korintus 3 : 18; 1 Yohanes 3 : 2; Filipi 3 : 10 )
Saudaraku, hidup kita bukanlah milik kita lagi, hidup kita adalah milik Allah yang telah menciptakan kita dan yang telah menebus kita dengan harga yang mahal, maka sadarilah akan hal itu, sehingga hidup kita dapat melakukan hal-hal yang dikehendaki oleh Allah yang mempunyai hidup kita ini. Jangan seorang pun berkata bahwa hidup ini adalah milik kita sendiri, milik kita seutuhnya, kita dapat melakukan berbagai hal yang kita ingini. Sama halnya dengan seorang polisi yang mengetahui akan identitasnya menjadi seorang polisi, maka dia pun akan bertindak sebagai seorang polisi, berperilaku sebagai seorang polisi dan hidup sebagai seorang polisi. Maka begitulah seharusnya hidup kita sebagai anak-anak Allah yang telah diberikan misi oleh Allah sendiri untuk menjadi serupa dengan Dia di dalam setiap aspek kehidupan kita, meninggalkan manusia lama kita dan menghidupi manusia baru kita, mengerjakan keselamtan yang telah di anugerahkan-Nya kepada kita dengan cuma-cuma sehingga melalui hidup kita nama Tuhan dapat dipermuliakan.
Mari kenali diri kita, syukuri akan identitas baru yang kita terima dari Allah, hidupi keselamatan itu dan tinggalkan manusia lamamu. Akhirnya kita tahu dan mengerti bahwa hidup ini bukanlah milik kita sendiri maka jagalah tubuhmu dengan baik sama seperti apa yang dikatakan Paulus kepada jemaat di Korintus bahwa tubuhmu adalah bait Roh kudus yang diam di dalam kamu, Roh kudus yang kamu peroleh dari Allah maka jangan rusak bait Roh kudus Allah itu dengan rokok, minuman keras, narkoba dan lain sebagainya yang bisa merusak tubuhmu. Jauhkan diri kita dari percabulan, kata-kata kotor, dusta, marah, kepahitan kegeraman, fitnah dan kejahatan tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu ( Effesus 4 : 32 )
I AM THE SON OF GOD

0 komentar:
Post a Comment