Friday, September 2, 2016

Jangan Takut Akulah Perisaimu

1Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.” 2Abram menjawab: “ Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.” 3Lagi kata Abram: “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.” 4Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: “Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.” 5Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” 6Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepdanya sebagai kebenaran. ( Kejadian 15 : 1 – 6 ).

    Tokoh Abraham dalam sejarah Alkitab menempati posisi yang unik karena Abrahamlah maka dimulai satu sejarah baru bagi umat manusia yang mengenal Tuhan. Abraham dipanggil Tuhan untuk keluar dari tanah kelahirannya dan disuruh pergi ke suatu tempat yang sama sekali dia tidak tahu, hanya dengan perkataan ke negeri yang akan Kutunjukan kepadamu dengan janji Tuhan “ Aku akan memberkati engkau menjadi bangsa yang besar “. Menjadi bangsa yang besar itu berarti menjadi satu kelompok masyarakat yang berdiam dalam satu daerah yang mempunyai tanah dan wilayah, sebab dia sudah disuruh keluar meninggalkan tanah kelahirannya. Sepanjang  perjalanan hidupnya Abraham termasuk orang yang berpindah-pindah tempat, artinya kehidupan berjalan dari tanah kelahiran menuju tempat yang dijanjikan, kemudian ke Mesir, kembali lagi ke tanah yang dijanjikan. Kalaupun dia tinggal dalam satu daerah posisinya hanya sebagai pendatang, musafir, paisolat.

    Dalam permenungan dan pergumulan Abraham tentang janji Tuhan yang akan membuatnya menjadi bangsa besar dia gelisah, bagaimana mungkin Tuhan tidak menepati janji-Nya ? Bagaimana mungkin Abraham menjadi bangsa besar sementara dia sendiri tidak mempunyai keturunan yang akan meneruskan generasinya untuk mewarisi haknya ? Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan, pergumulan dan kegelisahan silih berganti, sementara usia sudah semakin tua, kesempatan untuk mempunyai keturunan sudah tidak memungkinkan karena factor umur yang sudah lansia. Dalam kegelisahan dan pergumulan yang sangat dalam yang sedang dialami oleh Abraham, Tuhan memberi jawaban, sebab Tuhan tidak pernah ingkar janji, Tuhan selalu menepati janji-Nya walau kadang tidak seperti yang kita harapkan. Tuhan sedang merenda kehidupan Abraham, dan rencana Tuhan tidak akan pernah gagal. Memang pada satu sisi dituntut suatu kesabaran yang luar biasa dari Abraham, karena rencana Tuhan berbeda dari rencana manusia. Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu dan jalan-Ku bukanlah jalanmu demikianlah firman Tuhan. Karena pada hakekatnya manusia yang harus mengerti rancangan dan rencana Tuhan bukan sebaliknya, sebab yang sering terjadi justru rencana dan rancangan manusia ingin dipaksakan untuk dipenuhi Tuhan.

    Tuhan mengajak Abraham keluar serta melihat bintang dilangit, itu artinya Tuhan ingin membuka hati dan pikiran Abraham supaya jangan terkurung dengan pergumulan dan kegelisahannya, Tuhan mengajak Abraham untuk melihat seluruh rancangan Tuhan melalui alam semesta, cakrawala, gugusan bintang, seluruh makhluk ciptaan. Kalau Tuhan dapat mengatur dan menata seluruh alam semesta ini menjadi sedemikian indah dan mempesona, masakan hanya untuk meneruskan generasi, atau hanya memberi anak untuk Abraham tidak mampu. Usia atau umur tidak menjadi masalah bagi Tuhan, keterbatasan manusia tidak menjadi hambatan untuk Tuhan untuk memakai manusia menjadi alat rancangan-Nya. Oleh karena itu jangan terjebak dengan pikiran yang mengandalkan kemampuan diri sendiri, jangan terkurung dalam pemikiran sempit, Tuhan akan berkata “Jangan takut Akulah perisaimu”. Apapun pergumulan, apapun kegelisahan, seberat apapun persoalan, segelap apapun penglihatan, Tuhan akan berkata “Jangan takut Akulah perisaimu:”. Percayalah Tuhan akan membuat segalanya menjadi mudah dan indah.

Renungan Lainnya

0 komentar:

Post a Comment