Sunday, September 18, 2016

Visi Pelayanan Mahasiswa

Visi dan misi memiliki kaitan yang sangat erat. Keduanya tak terpisahkan. Visi pada hakekatnya adalah jiwa dari sebuah gerakan, misi. Harapannya, cita-citanya, obsesinya. Visilah yang melahirkan, menghidupkan, mengarahkan, dan menopang misi. Tanpa visi, tiada misi, yang ada atau tersisa cuma tradisi, aktivitas. Sebaliknya, tanpa misi, tiada visi, yang ada atau tersisa cuma mimpi!

    Ancaman besar bagi gerakan pelayanan mahasiswa dewasa ini, seperti dikemukanan Samuel Escobar, adalah hilangnya penjiwaan akan visi dari para perintisnya. Jika ini yang terjadi,, gerakkan itu takkan bertahan, cepat atau lambat pasti berakhir. Seperti lilin yang kehilangan nyala api, sumbunya memang masih membara, namun cuma untuk sementara, selanjutnya … padam untuk selama-lamanya!

    Memang, terminologi “visi” dan “misi” sendiri tidak eksklusif Kristiani. Lembaga-lembaga sekuler bahkan perorangan juga menggunakannya. Namun, patut dicatat bahwa hakekat visi dan misi Kristen unik, lain daripada yang lain. Visi Kristen bukan sekedar produk nalar, idealisme, atau ambisi manusia, seluhur apapun itu, tapi bersumber dari penyataan kehendak dan rencana Allah sendiri. Misi Kristen tidak pernah dimulai dari inisiatif manusia, tapi selalu berawal dari inisiatif Allah, terobosan aksi Allah di dalam sejarah!

    Kata latin missio berarti pengutusan. Berbicara tentang misi Kristen berarti berbicara tentang pengutusan. Siapa yang mengutus ? Siapa yang diutus ? Diutus untuk apa ? Itulah beberapa pertanyaan mendasar di dalam Misiologi Kristen. Kita perlu menggali kembali jawaban-jawabannya di dalam Alkitab, jika ingin mengerti secara akurat dan mendalam keunikan visi dan misi Kristen!

    “salah satu bahaya besar yang dihadapi oleh pelayanan mahasiswa dan kegiatan-kegiatan Kristen lainnya adalah menjadi lembaga yang kehilangan visi; generasi penerus melanjutkan kegiatan yang ada namun kehilangan semangat yang mendasari gerakan tersebut. Nama, dukungan keunganan, dan program tetap ada, tetapi orang-orangnya tidak lagi berpegang pada visi yang sama dengan para pendirinya. Mereka meneruskan tradisi hanya secara pasif bukan karena mengalami sendiri dorongan dan pimpinan Roh Kudus. Akhirnya terjadi kekecewaan, kehilangan motivasi; dan gerakan Kristen tersebut mengalami krisis atau bahkan kehancuran”

    Visi bersifat menular, ditransmisikan dari pribadi ke pribadi. Visi dapat dijelaskan di atas kertas atau pita rekaman, namun transmisi visi selalu melibatkan manusia, karena visi akan menjadi sesuatu yang menguasai kita, seperti sebuah impian yang kita yakini sepenuh hati. Dalam tubuh Kristus , visi diterjemahkan sebagai kehendak Tuhan bagi kita, sehingga kita bersedia bekerja keras dan berkorban bagi-Nya. Demikian juga sikap Paulus dan Petrus terhadap pangilan dan pekerjaan kerasulan mereka; karenanya, mereka tidak takut menjadikannya sebagai hal yang bersifat begitu pribadi ( 1 Tesalonika 2 ; 2 Petrus 1 : 12 – 15 ). Manusialah yang mewujudnyatakan visi. Transmisi visi melibatkan orang-orang yang memuridkan orang lain. Hal itu tidak dapat dilakukan dengan instruksi atau aturan-aturan tertulis. Transmisi visi selalu subyektif karena bersifat pribadi; hal itu bukan sesuatu yang obyektif.

    Para pendiri dan pemimpin perlu menciptakan pertemuan-pertemuan yang bermakna lebih dalam dengan generasi penerus mereka. Sediakan waktu untuk membangun persahabatan di tengah-tengah jadwal harian anda. Biarkanlah para senior menceritakan “kisah mereka” dan doronglah mereka untuk bersikap jujur dan mengungkapkan hal-hal yang menyangkut pribadi mereka. Pendiri IFES di Amerika Latin, Ruth Siemens dan Robert Young, bersahab karib dengan kami, generasi penerusnya. Mereka tidak menulis buku panduan pelayanan mahasiswa, tetapi membagikan prinsip-prinsipnya melalui berbagai situasi ( pertemuan ) informal yang sekarang saya sadari merupakan masa-masa kunci dalam proses belajar saya. Dan dengan melihat beberapa  pemimpin baru yang kami bina, saya semakin menyadari bahwa proses transfer visi itu terjadi melalui kehangatan dan sukacita persahabatan ( suasana yang bersifat pribadi ). Tentu saja Firman Tuhan dan doa merupakan kunci dalam proses ini tetapi suasana yang bersifat pribadi ini pun adalah salah satu kunci lainnya.

    Semakin serupa dengan Kristus dan mampu menjadi garam dan terang dimana pun Tuhan menempatkan setiap kita.

Sumber : Buku Our Heritage ( Keunikan & Kekayaan Pelayanan Mahasiswa )
Perkantas Jakarta

Renungan Lainnya

0 komentar:

Post a Comment