Friday, May 20, 2016

Keajaiban Iman dan Doa

Jika kita mengenal Bapa dengan baik, maka kita tidak akan kuatir atau meragukan apakah Dia akan memenuhi segala kebutuhan kita. Sebaliknya, kita sangat yakin bahwa Dia akan memberkati kita dengan berkelimpahan. Kita akan menerima berkat-berkatNya jika kita meminta dengan Iman.

               Di suatu siang yang terik, seorang gadis kecil berkata kepada ayahnya,” Ayah, cuaca hari ini sangat panas, kita berenang yuk!” “ Tidak nak, ayah sedang tidak punya uang. Kalau kita sekeluarga berenang, kita membutuhkan uang Rp 100.000.-. lain kali aja yaa ...,” pinta sang ayah. Gadis kecil itu terdiam, tetapi ia tidak bisa menerima begitu saja situasi tersebut. Kemudian ia masuk ke kamarnya sambil berkata,” Aha ... aku akan minta tolong kepada Bapaku yang satu lagi.” Melihat itu sang ayah penasaran, karena itu ia mengintip apa yang akan dilakukan putrinya. Dari celah pintu yang terbuka sedikit sang ayah melihat putrinya berlutut.” Bapa, cuaca hari ini panas, bahkan sangat panas. Bapa aku ingin berenang, tetapi ayah tidak punya uang, jadi kami tidak bisa pergi berenang. Bapa, bersediakah Engkau melakukan sesuatu untuk menolong kami siang ini ? Aku percaya bahwa Engkau punya banyak cara, lakukanlah sesuai keajaibanMu!” lalu kemudian ia duduk diteras sambil menggoyang-goyangkan kedua kakinya, melihat itu sang ayah kagum pada iman putri kecilnya itu. Beberapa menit kemudian telepon berdering dan sang ibu menjawab telepon itu.  Setelah memberi salam, wanita di seberang telepon berkata,”Ny. Martin, kami sekeluarga ingin lebih mengenal anda sekeluarga, karena kami adalah warga baru di komplek ini. Bagaimana jika kita pergi bersama-sama berenang. Jangan kuatir, saya yang akan menyiapkan segala keperluan kita.” “ O ..., tentu saja boleh. Saya sangat senang, tetapi kapan kita akan berangkat ? sekarang saya belum selesai mengerjakan tugas-tugas saya,” jawabnya penuh sukacita. “ O .... tidak apa-apa, kami juga belum siap, karena rencana itu baru terpikir beberapa menit yang lalu.”

               Tuhan senang memberkati anak-anakNya, karena itu Dia menciptakan doa sebagai sarana yang indah dan praktis supaya kita dapat meminta segala kebutuhan kita kepada Dia. Lewat doa kita dapat menikmati banyak keajaiban janji-janjiNya, karena Tuhan telah mengikatkan diriNya dengan kita melalui janji-janjiNya. Ketika Dia berkata bahwa Dia sanggup dan bersedia memenuhi segala kebutuhan kita, itu artinya kita mempunyai hak dan kesempatan untuk meminta dengan iman kepadaNya.

               Mari naikkanlah doa dengan iman, karena Tuhan berkenan kepada doa yang dinaikkan dengan iman. Nyatakanlah kerinduan hati, cita-cita dan kebutuhan-kebutuhan kita , maka Bapa yang baik akan menyatakan kebenaran janji-janjiNya.

Batubara dinyalakan oleh api, doa dinyatakan oleh pengharapan di hati.

Jangan biarkan sesuatu yang tidak dapat anda lakukan mengganggu sesuatu yang dapat anda lakukan ( John Wooden ).


Thursday, May 19, 2016

Kasih yang Mempersatukan Perbedaan

Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh satu peribahasa yang tak asing lagi bagi kita. Satu peribahasa yang tentunya mengingatkan kita akan pentingnya memelihara kesatuan dalam satu persekutan dimana pun dan kapan pun. Pentingnya kesatuan yang bukan dalam arti bahwa kita meniadakan keberagaman bahkan perbedaan, namun justru demi kesatuan atau persatuan, keberagaman atau perbedaan bukan menjadi alasan untuk memisahkan namun menjadi suatu kekayaan bagi kita untuk saling melengkapi di dalam pesekutuan kita.

               Bukankah Tuhan juga menciptakan kita berbeda-beda, namun kita mengetahui pula rancangan Tuhan yang luar biasa, bahwa laki-laki dan perempuan dengan segala perbedaannya, Ia persatukan melalui lembaga pernikahan, yang dua menjadi satu, agar di dalam persekutuan di dalam keluarga, suami istri dapat pula hidup saling mengasihi, saling melengkapi, dan saling mengisi. Artinya : bagi Allah sendiri sebagai Pencipta segala sesuatunya, perbedaan adalah karya dan anugerahNya. Sekali lagi, bukan untuk memisahkan namun justru untuk mempersatukan. Bahkan Tuhan Yesus sendiri melalui doa syafaatNya dalam Yoh 17 merindukan bahwa kesatuan, persatuan itu hendaknya selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap orang yang mengikut Dia. Karena hidup dalam kesatuan juga menjadi kesaksian bagi orang-orang di sekitar kita.

               Karena itu, alangkah memprihatinkan jika dalam kenyataannya, kita masih mendengar bahkan menyaksikan bagaimana perselisihan, perpecahan, benar-bernar telah menghancurkan dan memisahkan satu-satu persekutuan. Hanya karena merasa tidak dihargai, tidak didengar pendapatnya, keinginan untuk selalu memaksakan kehendak tanpa peduli dengan pendapat orang lain, sehingga selalu cenderung untuk menganggap rendah atau meremehkan orang lain.

               Dan masih banyak faktor yang menimbulkan perpecahan, perselisihan di tengah-tengah persekutuan dan bagaimanapun ‘ kesatuan ‘, ‘ persatuan ‘ menjadi hal yang sulit untuk dipelihara. Keprihatinan akan muculnya perpecahan, perselisihan di tengah-tengah persekutuan, jelas pula diungkapkan oleh Rasul Paulus ketika ia mendengarkan bahwa itu terjadi ditengah-tengah persekutuan jemaat di Korintus. Dengan  terang ia berkata, apakah Kristus juga terbagi-bagi ? Karena di beberapa suratnya ia menggambarkan bahwa seluruh orang percaya adalah bagian dari anggota tubuh Kristus yang seharusnya bersatu hingga mampu menghasilkan karya yang luar biasa. Tidak ada yang perlu merasa lebih hebat karena fungsinya atau merasa minder karena tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orang lain.

               Karena itu, pemberitaan tentang salib menjadi kesaksian bagi Paulus untuk mengingatkan setiap orang percaya bahwa jika setiap persekutuan diikat oleh kasih, maka setiap orang akan hidup saling menghargai antara yang satu dengan yang lain. Karena kasih adalah ikatan yang paling sempurna. Ketika kita menyadari bahwa perbedaan adalah kekayaan maka kita pun akan menghargai perbedaan dan dengan kasih kita akan tetap hidup dalam kesatuan, karena kita peduli dengan kepentingan bersama daripada menonjolkan diri sendiri.

Karena itu marilah kita untuk tetap hidup dalam kesatuan, hidup dalam persatuan dengan mengandalkan kasih yang daripada Tuhan. ( Pdt. Rita H. Simanjuntak, S.Th. )

Tuesday, May 17, 2016

Karunia Melengkapi

Teladan yang ditinggalkan oleh Epafroditus, membuka wawasan kita sedikit lebih luas lagi. Selama ini kalau kita berbicara soal karunia rohani atau pekerjaan pelayanan, pikiran kita akan membayangkan pelayanan seperti pengkhotbah, penginjil, pemimpin pujian, pendoa syafaat, guru atau pengajar, atau seperti mereka yang mempunyai karunia-karunia Roh untuk menyembuhkan, bernubuat, mengadakan mujizat, atau seperti mereka yang memiliki karunia penglihatan. Karena kita tidak memiliki karunia-karunia seperti itu, maka akhirnya kita hanya pasrah dan berdiam diri saja. Kita tidak melakukan pekerjaan pelayanan apapun. Lama-lama kita merasa nyaman dengan menjadi orang yang berstatus “ pengangguran rohani “.

               Ini ada berita baik yang khusus dibawa oleh Epafroditus bagi kita. Ada karunia melengkapi. Bila kita bingung apa karunia kita, karena memimpin pujian tidak bisa sebab suara kita fals, berkhotbah gemetar, mendoakan orang juga masih belum berani, maka kita dapat mulai dengan karunia melengkapi. Karunia melengkapi bukan karunia yang utama, namun oleh karunia melengkapi ini maka karunia yang utama menjadi sempurna. Karunia melengkapi ini jarang dilirik orang karena tidak membuat orang menjadi terkenal, tetapi Tuhan menghargai orang-orang yang dengan rendah hati mau melengkapi orang lain.

               Karunia melengkapi mungkin berupa “ karunia antar jemput “. Jika kita mempunyai kemampuan untuk menyetir dan ada kendaraan yang bisa dipakai untuk menjemput dan mengantar jemaat pulang ke rumah mereka, maka karunia ini akan membuat semakin banyak orang yang mendengarkan Firman kebenaran Tuhan. Firman Tuhan yang sudah dipersiapkan dengan baik dapat dinikmati oleh banyak orang lagi.

               Mungkin juga karunia melengkapi yang kita miliki adalah keahlian di dalam menangani semua permasalahan kelistrikan dan sound system. Hal ini kelihatan sepele, dan kita tidak akan pernah dikenal orang, namun oleh karena karunia melengkapi yang kita miliki, semua yang hadir di dalam kebaktian bisa mendengarkan penguraian Firman Tuhan dengan baik.

               Masih banyak karunia melengkapi lainnya. Ada orang yang karunianya adalah membuat kue, sehingga ia selalu membuat gairah orang-orang yang lelah ketika mengikuti pengajaran Firman Tuhan dengan kue-kue yang enak dan “ aneh-aneh “. Ada orang yang senang dengan kerapihan, sehingga ia menata papan pengumuman gereja agar orang-orang mau meluangkan waktu untuk membaca pengumuman yang ditempelkan di sana karena ada banyak gambar dan foto yang disusun dengan sangat menarik.

               Jangan tinggal diam, ambilah suatu pelayanan yang cocok dengan kita, sekalipun itu hanyalah pelayan yang sifatnya melengkapi, tetapi jika dilakukan dengan sungguh-sungguh maka ia akan menjadi berkat bagi banyak orang. Teladanilah Epafroditus.

Karunia melengkapi sederhana namun penting dan jauh dari godaan untuk sombong.

Pikiran seperti perut. Bukan masalah seberapa banyak yang anda dapat masukan ke dalamnya, tetapi seberapa banyak yang dapat dicernanya. ( Anonim )


Jangan Melupakan Tuhan

Suatu kali Brian J. Bailey dan istrinya mendapat undangan untuk melayani sebuah gereja di Perancis. Di gereja tersebut tertera tulisan yang membangkitkan iman, “ Yesus menyelamatkan, Yesus menyembuhkan !” Gereja itu berdekatan dengan sebuah rumah sakit yang memang menampung dan menangani banyak pasien yang kondisi kesehatannya sudah memburuk, yang mengundang Brian J. Bailey melakukan pelayanan kesembuhan ilahi, banyak orang sakit dari rumah sakit tersebut yang datang dan mengalami kesembuhan oleh kuasa Tuhan. Namun, ada satu hal yang sangat disayangkan, kebanyakan dari mereka yang telah disembuhkan itu tidak pernah kembali beribadah ke gereja dan berkomitmen untuk hidup takun akan Tuhan. Mereka hanya mencari kesembuhan yang bersifat sementara, bukan mencari Sang Penyembuh yang kekal.

               Ini adalah fenomena yang terjadi di berbagai negara  dibelahan dunia ini, bahkan sejak zaman dahulu kala. Dulu, ketika bangsa Israel tertindas di Mesir, mereka mencari Tuhan dan berseru-seru meminta Tuhan membebaskan mereka. Ketika Tuhan mendengar seruan dari hati mereka yang tertindas, Tuhan melepaskan mereka dari tanah perbudakan itu. Namun ketika kesulitan menguji iman dan kesetiaan mereka kepada Tuhan di padang gurun, mereka malah bersungut-sungut bahkan membuat anak lembu emas untuk disembah. Dengan cepat mereka berpaling dan melupakan Tuhan yang telah memberkati hidup mereka.

               Memang banyak orang yang ketika mereka dalam keadaan terpuruk, tertidas, dibelenggu sakit penyakit, terbelit hutang, mengalami patah hati, keluarganya berada diambang kehancuran, atau sedang bergumul untuk pasangan hidup, mereka datang mencari pertolongan Tuhan. Pada waktu meminta mereka berkomitmen untuk hidup takut akan Tuhan, namun ketika sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, telah menikmati kesehatan yang prima, kemapanan, fasilitas yang mewah, mereka melupakan Tuhan. Berhati-hatilah, ini adalah tindakan “ memanfaatkan “ Tuhan.

               Apa gunanya kita memiliki kekayaan, ketenaran, kehormatan dan kesuksesan yang gemilang di dunia ini, tetapi kelak jiwa kita binasa di neraka ! Jangan sombong dan merasa tidak membutuhkan Tuhan, karena hanya Dia yang mampu memberi kita kehidupan yang kekal. Kelak, jangan menyesal karena hari ini Tuhan sudah mengingatkan kita supaya menjadi orang Kristen yang setia, rendah hati dan tidak melupakan Dia.

Tetaplah melekat pada Tuhan, terlebih ketika keadaan kita sudah diberkati.

Bila anda hanya ingin nyaman dalam hidup ini, berarti anda sudah memutuskan untuk tidak bertumbuh lagi ( Anonim )

Monday, May 16, 2016

Iblis Semakin Canggih

18Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya. 19Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat. 20Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal. 21Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.” ( 1 Yoh 5 : 18 – 21 ).
               Berikut ini adalah cuplikan email dari seorang anak Tuhan bernama Agus Hartono yang tinggal di Sacramento, CA, USA. “Malam itu, seperti biasa setelah berdoa dan membaca Alkitab, saya mengecek email sebentar. Nah ... koq saya ada pikiran untuk mengecek di situs tentang setan. Jadi saya ketik saja di google atau situs pencarian tentang “satan” dan hasilnya sungguh luar biasa. Banyak sekali situs tentang setan. Saya buka salah satunya, dan jika saya klik di linknya, akan banyak lagi menuju link-link lain yang berhubungan dengan setan, baik buku, artefak, cara penyembahan, dll. Di beberapa situs lain, bahkan mereka mengajarkan trik bagaimana menghadapi orang-orang Kristen. Wah ... , pokoknya saya benar-benar kaget dan sadar kalau musuh kita ini sudah benar-benar di depan mata, akan tetapi kita saja yang tidak mau tahu. Tujuan saya menulis email ini adalah untuk membuka pikiran semua saudara seiman, bahwa janganlah kita ragu akan Tuhan kita Yesus Kristus. Bagi yang masih setengah percaya akan adanya Tuhan Yesus Kristus. Ini adalah bukti bahwa lawan kita, setan, benar-benar ada! Dan dia gencar mencari umat Tuhan tanpa kita sadari. Bahkan di USA mereka sudah membuka beberapa cabang, mereka bahkan mempunyai kantor dan upacara ritual. Ini saya tahu dari beberapa situs yang saya buka.

               Mereka sekarang gencar promosi dengan memakai media telekomunikasi yang canggih, yaitu internet. Bahkan yang mereka buat menggunakan animasi dan seni yang bagus. Mereka memiliki pengorganisasian yang baik untuk mencari anggota. Mereka membuka situs porno, menjual buku-buku setan, jual alat-alat ritual, dll. Mereka benar-benar sedang berjuang. Buktinya, pernah tidak anda dikirimi email-email dari orang yang tidak dikenal dan isinya yang tidak-tidak. Itu juga hasil dari perbuatan mereka. Mereka terus berusaha untuk secara pelan menjejali pikiran kita dengan pikiran-pikiran kotor.

               Bahkan di USA mereka sudah punya channel siaran radio sendiri yang berisi berita-berita seta. Mereka mengklaim telah melayani lebih dari 293.1 juta jiwa. Bahkan toko-toko buku yang terkenal di USA seperti amazon.com, Barnes and nobles, dll, menjual juga buku-buku setan, upacara ritual, Bible of satan, dll.

               Nah, saudara-saudara seiman ... saya harap setelah membaca email ini, kita dapat merenungkan dan mengambil manfaatnya. Saya tergerak untuk menulis email ini secara panjang lebar, sebab saya sendiri sekarang merasa semakin sadar bahwa musuh kita ini tidak tinggal diam, tetepi aktif terus bergerak dan mencari mangsa. Dengan email ini, saya buka secara jelas bahwa setan ini sedang beraksi. Mungkin tidak terang-terangan seperti vampire, atau film horor, tapi secara halus dan kita tidak sadar akan hal ini.”

               Kita patut merenungkannya dan lebih serius lagi mencari Tuhan dan jiwa-jiwa.Yang menutup mata terhadap apa yang terjadi akan menutup mata hatinya juga. Hal penting yang perlu diingat adalah anda tidak dapat menyelamatkan muka anda jika anda kehilangan kepala anda.

Saturday, May 14, 2016

Hiduplah Adil, Setia Dan Rendah Hati

“ Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu ?”  ( Mikha 6 : 8 )

               Mikha yang berasal dari rakyat biasa dipakai Tuhan sebagai alat di tanganNya untuk menyampaikan isi hatiNya kepada umat Yehuda yang pada waktu itu sedang mengalami kemakmuran secara jasmani tetapi secara rohani mereka miskin karena meninggalkan Tuhan. Tuhan mengajak umatNya berperkara apakah ada yang dilakukanNya yang tidak baik kepada umat Yehuda ? Tuhan mengingatkan perjalanan umatNya mulai saat dibawa keluar dari perbudakan Mesir; Apa yang telah dilakukanNya kepada Mesir dan bagaimana Tuhan menuntun mereka menyeberangi laut merah; Apa yang telah Tuhan lakukan kepada umatNya selama  40 tahun di padang gurun; Dan apa pula yang telah Tuhan lakukan kepada Balak raja Moab waktu dia mengupah Bileam untuk menulahi kaum Israel, tetapi oleh Tuhan disuruh untuk memberkati umatNya bukan lagi mengutuk Israel.

               Kalau dihitung-hitung luar biasa besarnya kasih setia Tuhan kepada umat Israel. Itu bukan karena kebaikan umat Israel tetapi hanya karena kebaikan Tuhan. Tetapi mengapa umat Israel membalas kebaikan Tuhan dengan ketidaksetiaan ? Mengapa mereka terlalu cepat menyimpang dari jalan Tuhan dan melupakan perintah-perintah Tuhan ? Karena segala kesalahan, pelanggaran dan ketidaksetiaan mereka itu, Tuhan merencanakan menjatuhkan hukuman kepada mereka. Namun Tuhan masih mengharapkan agar umatNya kembali kepadaNya. Tuhan menginginkan umatNya berbalik kepadaNya dan melakukan yang berkenan di hati Tuhan supaya mereka hidup. Tuhan inginkan supaya mereka bertobat dan kembali kepada Tuhan.

               Kita juga sebagai anak-anak Tuhan yang telah merasakan kasih setia Tuhan yang luar biasa besarnya, yang telah melepaskan kita dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib, diminta Tuhan supaya bersikap adil, setia dan rendah hati dalam kehidupan ini. ( Pdt. Torang P. Panjaitan )

Thursday, May 12, 2016

Harga Diri Yang Sesungguhnya

Apakah “ harga diri “ itu ? Kamus besar bahasa Indonesia mendefinisikannya sebagai kesadaran akan berapa besar nilai yang diberikan kepada diri sendiri. Tentunya masing-masing orang menginginkan harga diri yang tinggi. Pemahaman tentang harga diri akan sangat mempengaruhi cara seseorang mengejar dan membangun harga dirinya. Ada orang yang beranggapan bahwa harga dirinya akan naik jika ia dapat mengekspresikan kemarahannya. Orang yang beranggapan seperti ini akan selalu marah untuk segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Menurutnya, dengan marah maka orang akan menjadi takut dan takluk kepadanya. Ia berpendapat bahwa ia akan lebih dihargai jika orang menilainya sebagai seorang yang keras dan tidak lemah karena ia berani marah kepada siapa saja yang tidak berlaku sesuai dengan keinginannya.

               Memang, menurut seorang ahli dari Graduate School of Business di Stanford University, California, yang telah mengadakan penelitian tentang hal ini, mengatakan bahwa mereka yang bisa mengekspresikan kemarahannya memang tampak lebih dominan dan lebih kuat dibanding orang lainnya. Peluang untuk memperoleh dukungan dan untuk dipromosikan didalam pekerjaan pun lebih terbuka bagi orang-orang yang seperti ini, tetapi apakah hal ini merupakan harga diri yang sesungguhnya yang harus kita kejar ? hanya sebatas dihargai atau ditakuti orang lain hanya sebatas posisi yang tinggi ? Perlu diingat bahwa harga diri sesungguhnya dari seseorang, tidak dapat diukur dari seberapa takutnya orang kepada kita, dan seberapa tinggi posisi kita dimata orang-orang lain. Kita sering terjebak untuk mengejar sesuatu yang sia-sia, hanya karena kita tidak memiliki pengertian yang benar tentang harga diri yang sesungguhnya. Kita begitu memusatkan perhatian kepada bagaimana menguasai orang lain, bagaimana menaklukan mereka, dan bukan kepada relationship atau membangun hubungan yang baik dengan sesama.

               Harga diri yang sesungguhnya adalah harga atau nilai yang diberikan Tuhan karena kemuliaan karakter, dan sikap hidup yang semakin hari semakin seperti Yesus. Seperti yang tertulis didalam kitab Timotius, “ Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.” ( 1 Tim 6 : 11 ). Hal- hal inilah yang harus kita kejar setiap hari, jika kita ingin memiliki harga diri yang tinggi. Karakter yang semakin seperti Yesus tidak pernah dihasilkan begitu saja, semua itu melalui pembelajaran setiap hari. Hari-hari yang kita jalani beserta dengan beragam kejadian didalamnya, seharusnya kita jadikan kesempatan untuk belajar mengikis karakter dan kebiasaan buruk yang ada di dalam diri kita serta mengembangkan karakter dan kebiasaan yang baik. Dengan cara inilah kita menjadi orang yang benar-benar berharga.

Harga diri yang sesungguhnya dibangun melalui kepribadian yang seperti Yesus.

Pikiran yang besar berasal dari hati. ( Vauvenargues )


Wednesday, May 11, 2016

Hamba Tuhan atau Anak Tuhan

Ketika saya menanyakan kepada jemaat dimana saya berkhotbah, “ Kita mengenal ada dua istilah, hamba Tuhan dan anak Tuhan, anda mau jadi yang mana ? Anak Tuhan atau hamba Tuhan ? Hampir serentak semuanya menjawab, “ Anak Tuhan “ Saya coba kembali bertanya untuk memastikan apakah mereka asal menjawab saja atau memang ada suatu alasan yang melatarbelakanginya, “ Mengapa anda memilih untuk menjadi anak Tuhan ?” “ Kalau anak kan enak, apa yang punya bapanya ya punya anaknya juga,” jawab mereka. “ Bagus “ kata saya, lalu saya bertanya lagi. “ Mengapa tidak mau menjadi hamba Tuhan ?” Mereka menjawab, “ Wah ... kalau hamba Tuhan tanggung jawabnya besar pak.” Mungkin anda sudah menangkap, inti dari dialog tersebut, ternyata di dalam jemaat Tuhan ada sikap “ mau enak saja “ dengan menjadi anak dan tidak mau menjadi hamba.

               Saya kembali mengajak jemaat bertukar pikiran. “ Menurut anda, siapakah yang akan bekerja lebih keras, karyawan atau anak yang punya perusahaan ?” Dengan mantap mereka menjawab, “ Karyawan “ Lalu saya bertanya, “ Kalau jam istirahat siang, siapakah yang anda lihat tidur-tiduran memanfaatkan sisa jam istirahat makan siang, karyawankah atau anak yang punya perusahaan ?” “ Karyawan “,  jawab mereka mulai ragu bahwa karyawan adalah sipekerja keras. “ Setelah jam kantor, bahkan malam hari ketika sudah berada di rumah, siapakah yang anda pikir masih sibuk bekerja, karyawan atau anak yang punya perusahaan ?”  “ Anak yang punya perusahaan “, kata mereka. “ Kenapa ? Karena itu perusahaan ayahnya, ia merasa bertanggung jawab atas kelangsungan hidup perusahaan ayahnya, sedangkan karyawan hanya peduli akan kelangsungan pembayaran gajinya. Jadi yang akan bekerja keras adalah yang punya atau anak yang punya perusahaan, bukan orang upahan.

               Dialog diatas mungkin dapat mengubah sikap kita, agar jangan selalu berpikir untuk menjadi anak Tuhan tetapi tidak mau tahu tentang pekerjaan Bapa Sorgawi kita yang begitu banyak. Jangan mau enaknya saja terima beres.

               Anak Tuhan. Kita adalah anak-anak Tuhan, yang akan menerima warisan janji-janji Allah Bapa kita yang di Sorga. Kita akan menerimanya bersama Kristus

               Menderita. Tetapi Firman Tuhan menjelaskan lebih lanjut, yaitu kita akan menerima janji-janji Bapa itu jika kita menderita bersama-sama dengan Yesus. Artinya sebagai anak kita ikut melakukan pekerjaan seperti apa yang Yesus lakukan, menderita seperti juga Yesus menderita. Bukankah kita dipanggil juga untuk menderita bersama denganNya ? ( Fil 1 : 29 , 1 Pet 2 : 21 )

               Dipermuliakan. Baru setelah kita menderita bersama-sama Yesus, kita pantas dipermuliakan bersam-sama denganNya.

Dalam hal warisan kita adalah anak, dalam hal kerja kita adalah hamba Tuhan.

Manusia sempurna menggunakan pikirannya seperti sebuah cermin. Tidak mengambil apa-apa, tidak menolak apapun, ia menerima tetapi tidak menyimpannya. ( Chiang Tse )

Tuesday, May 10, 2016

Doa Mendatangkan Mukjizat

Seorang ibu berbaju kumal masuk ke suatu kota yang menjual berbagai kebutuhan pokok. Dengan wajah yang sendu ia menghampiri pemilik toko itu dan berkata,” Pak, sudah lima hari ini suami saya sakit, jadi saya tidak punya uang. Karena itu ijinkan saya berhutang dan saya akan segera membayarnya kalau punya uang nanti. Tolonglah pak, karena kelima anak saya sedang kelaparan saat ini.” Pemilik toko itu berusaha mengabaikannya, tetapi ibu itu terus memohon sehingga seorang wanita lain yang sedang berbelanja di toko itu berkata,” Pak, lihatlah ibu ini memang sangat membutuhkan petolongan, kalau memang bapa tidak bisa menolongnya biarlah saya yang akan membayar semua barang yang diperlukannya !” karena malu, akhirnya dengan ketus si pemilik toko berkata,” Ya sudah, mana daftar kebutuhan ibu. Saya akan memberikan barang-barang ini secara gratis, tetapi saya hanya akan memberikan barang seberat catatan itu saja !”  Untuk sesaat si ibu terlihat cemas, kemudian ia menundukan kepalanya dan menuliskan sesuatu di secarik kertas. Kemudian dengan ragu-ragu ia meletakkan kertas itu di atas timbangan.

               Ketika kertas itu berada di atas timbangan, alat pengukurnya bergerak cepat ke bawah. Pemilik toko itu terkejut dan ibu berbaju kumal tadi langsung mengambil barang-barang yang dibutuhkannya. Dengan disaksikan oleh pemilik toko dan wanita murah hati, si wanita berbaju kumuh terus menambahkan barang ke atas timbangan itu dan timbangan itu tidak juga berimbang. Barang semakin menumpuk diatas timbangan hingga tidak muat lagi dan wanita berbaju kumuh itu berhenti karena segala kebutuhannya sudah terpenuhi. Si pemilik toko sangat jengkel melihat hal itu, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Dengan penasaran si pemilik toko mengambil kertas daftar belanja itu dan ia membaca tulisan di kertas kumuh itu,” Ya Gembala ku yang baik, Engkau tahu apa yang hamba perlukan. Cukupkanlah sesuai dengan kasih setiaMu.” Si pemilik toko terdiam dan wanita berbaju kumuh itu pulang, wanita yang murah hati itu menyelipkan beberapa lembar uang kepadanya.

               Bapa sorgawi adalah Bapa yang murah hati. Dia tidak pernah menahan-nahan berkat yang sudah disediakanNya bagi anak-anakNya yang meminta kepadaNya ( Mzm 84 : 12 ). Karena itu Dia mengajarkan agar kita mengikuti teladan kemurahan hatiNya, supaya kita tidak menahan berkat yang harus kita salurkan kepada orang yang membutuhkan  pertolongan kita ( Ams 3 : 27 ). Bagi orang yang melakukan FirmanNya tersedia berkat yang bukan sekedar berkat biasa, tetapi berkat seratus kali lipat.” Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut Firman itu lalu berbuah, ada yang tigapuluh kali lipat, ada yang enampuluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.”

Berkat 100 kali lipat akan dinikmati oleh mereka yang patuh kepada Tuhan.

Jika anda gagal tujuh kali, bangkitlah untuk yang kedelapan kali ( Peribahasa Jepang )


Diubah Lewat Kesulitan

Allah memakai berbagai macam situasi yang sulit, yang biasanya kita sebut sebagai persoalan, masalah, kesulitan atau musibah, untuk mengembangkan karakter kita. Pembacaan firman Tuhan akan menolong kita di dalam meletakkan dasar-dasar kebenaran dan mengetahui rancangan Allah bagi manusia. Namun semua itu belumlah cukup, Allah menginginkan agar karakter  kita terbentuk menjadi serupa dengan karakter Yesus, AnakNya. Untuk pembentukan karakter seperti ini, jalan terbaik adalah melalui apa yang terjadi langsung di dalam kehidupan kita.

1. Kesulitan sebagai ujian.
    Kesulitan atau masalah yang kita alami adalah ibarat ujian di bangku sekolah setelah sekian lama kita menerima teori-teori melalui guru kita. Melalui ujian ini akan terbukti apakah memang kita mengerti apa yang sudah diberikan oleh guru kita dan ini akan terlihat dari cara kita merespon kesulitan itu. " Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.” ( 1 Pet  4 : 12 ).

2. Kesulitan membawa kita dekat kepada Tuhan.
    Sekalipun kita adalah orang-orang yang percaya kepada Tuhan, tetap saja persoalan dapat datang di dalam kehidupan kita. Melalui persoalan ini, kita akan lebih lagi  mendekatkan diri kepada Tuhan. “ Apabila orang-orang benar itu berseru-seru , maka Tuhan mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya .” ( Mzm 34 : 18 ).

3. Kesulitan adalah hal yang biasa.
    Masalah adalah hal yang biasa, semua orang menghadapi dan mengalaminya. Demikian juga dengan orang-orang percaya, Tuhan tetap mengizinkan masalah itu datang ke dalam kehidupan mereka karena dengannya mereka akan  bertumbuh menjadi lebih dewasa lagi. “ Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” ( 1 Kor 10 : 13 ).

4. Kesulitan membuat kita tidak sombong.
    Dengan adanya masalah dan kesulitan, manusia akan disadarkan bahwa ia sebenarnya tidak mempunyai kekuasaan apapun juga, jika Tuhan tidak menyertainya. “  Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.” ( 2 Kor 1 : 9 ).

5. Kesulitan akan membuat kita mengenal Tuhan.
    Melalui masalah dan kesulitan, Tuhan menyatakan kuasaNya yang heran dan yang ajaib. Dari sinilah kita mengenal Dia. ( Dan 6 : 20 – 28 ).
Ayat untuk direnungkan :

“ Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Ingatlah bahwa kebahagiaan tidak tergantung kepada siapa dirimu atau apa yang engkau miliki, tetapi tergantung semata-mata kepada apa yang engkau pikirkan. ( Dale Camegie )


Dia Datang Tanpa Permisi

Matahari merah jingga menyembul dari balik gunung di samping rumah kami. Astaga, aku kesiangan bangun karena semalam aku harus mengerjakan pekerjaan kantor yang terbengkalai, karena aku baru cuti. Setelah mandi, aku langsung berangkat ke kantor tanpa sempat menyentuh sarapan pagi yang disediakan oleh istriku. Aku juga menyuruh kedua anakku untuk naik angkutan umum, karena jika aku harus mengantarkan mereka ke sekolah, keterlambatanku masuk kantor akan semakin banyak. Aku menyadari bahwa hidup yang kujalani kurang seimbang. Aku hampir tidak mempunyai waktu untuk keluargaku dan yang paling menyedihkan, sejak menikah aku jadi malas beribadah. Aku terlalu lelah, baik pikiran maupun fisikku. Aku merasakan kemunduran yang sangat drastis di dalam kerohanianku. Suati hari, seorang teman dekatku berbicara denganku mengenai kemunduranku yang nampaknya begitu mempengaruhi seluruh aspek kehidupanku. Aku tidak lagi seceria dulu, cepat marah dan tidak ramah terhadap siapapun. Temanku itu berjanji akan menjemputku untuk menghadiri suatu kebaktian yang dilayani oleh seorang hamba Tuhan dari luar negeri. “ Minggu ini aku belum bisa, mungkin minggu depan, “ jawabku. “ Baiklah “ jawab temanku. Akupun merasa bebas dari desakannya. Minggu depan entah alasan apa lagi yang akan kuberikan untuk menghindari ajakannya ke gereja.

               Malam itu aku pulang ke rumah sekitar pukul 21 : 00 WIB. Aku duduk di kursi sambil meluruskan punggungku yang terasa pegal. Ada sedikit rasa nyeri di dadaku, tetapi aku mengabaikan itu karena kupikir itu disebabkan karena masuk angin biasa. Aku semakin sulit bernafas dan setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku melihat tubuh pria tergeletak dengan wajah membiru di lantai. Di sekelilingnya, nampak istri dan kedua anaknya yang masih kecil memegangi tangannya dan berteriak histeris. Ternyata tubuh lelaki itu adalah tubuhku, aku telah mati. Tak dapat ku gambarkan ribuan penyesalan di hatiku atas banyak hal baik yang belum sempat kulakukan. Aku kurang memberi kehangatan  kasih sayang kepada anggota keluargaku, aku belum ke gereja, apalagi berbuat sesuatu  untuk Tuhan. Kini semuanya sudah terlambat, waktuku sudah habis.

               Kita tidak tahu berapa lama Tuhan memberikan kesempatan untuk kita hidup di dunia ini. Kematian bisa datang kapan saja, tanpa permisi atau meminta persetujuan dari kita. Kita boleh merencanakan perjalanan hidup yang panjang sampai beberapa puluh tahun ke depan, tetapi kita juga harus selalu siap sedia ketika babak baru dari kehidupan sesudah kematian di bentangkan di hadapan kita. Hindarilah penyesalan yang tidak putus-putusnya dengan melakukan apa yang baik hari ini. Berbakti dan layanilah Tuhan, kasihilah keluargamu dan jangan pernah abaikan sesamamu. Menunda sedikit saja, akan membuat perbedaan besar.

Sesuatu yang ditunda selalu mendatangkan penyesalan di kemudian hari.

Belajar tanpa berpikir adalah penyia-nyiaan tenaga.

Bohong Putih

Dalam Kitab Yosua 2 : 1 – 24 tertulis sebuah kisah yang berperikop “ pengintai-pengintai di Yerikho “. Dalam Kitab ini Yosua dengan diam-diam melepas dari Sitim dua orang pengintai untuk mengintai kota Yerikho. Hingga setibanya disana maka bertemulah mereka dengan seorang perempuan sundal yang bernama Rahab. Rahab adalah seorang wanita yang cerdas. Ia dapat membaca  situasi dimana kotanya akan segera jatuh ke tangan orang Israel. Ia tidak mau mengambil resiko dengan tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh pengintai itu, ia lebih memilih untuk menyelamatkan dirinya, semua keluarganya dan orang-orang yang mengikuti dia. Rahab berani berbohong kepada utusan raja dengan mengatakan,” Memang, orang-orang itu telah datang kepadaku, tetapi aku tidak tahu dari mana mereka, dan ketika pintu gerbang hendak ditutup menjelang malam, maka keluarlah orang-orang itu; aku tidak tahu, kemana orang-orang itu pergi. Segeralah kejar mereka, tentulah kamu dapat menyusul mereka.”

               Ada yang mengajarkan bahwa berbohong untuk suatu kebaikan dapat diterima dan dimaklumi. Jika kita tidak berbohong maka resikonya akan lebih besar lagi.” Daripada semua jadi berantakan, ya aku harus sedikit bijak dengan mengatakan kebohongan ini. Kan semua jadi beres,” demikian yang sering kita dengarkan. Seperti halnya Rahab, ada yang mengatakan karena ia hidup didalam masyarakat yang memang kebohongan adalah suatu yang biasa dilakukan, maka Rahab tidak dapat dikatakan berdosa. Bahkan ada yang menambahkan, situasi saat itu adalah situasi yang gawat, situasi perang, bohong sedikit tidak menjadi masalah.

               Apakah Alkitab menyetujui kebohongan Rahab ? jawabnya tegas “ Tidak ! “ Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa kebohongna Rahab adalah sesuatu yang benar dan dapat diterima. Kebohongan Rahab memang tercatat jelas tanpa ditutup-tutupi oleh Alkitab, tetapi bukan berarti Tuhan menyetujuinya. Yang disetujui dan dibenarkan oleh Tuhan adalah iman Rahab yang mempercayai bahwa Tuhan bangsa Israel adalah Tuhan di langit diatas dan di bumi dibawah, artinya Tuhan diatas segala tuhan yang disembah bangsa-bangsa lain. Rahab percaya bahwa Tuhan yang disembah bangsa Israel adalah Tuhan yang benar. Inilah yang dibenarkan oleh Tuhan. Tuhan juga membenarkan tindakan Rahab untuk menyembunyikan kedua pengintai, sebagai mana tertulis,” Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik.” ( Ibr 11 : 31 ).

               Di dalam kitab Roma 3 : 8, Paulus dengan tegas mengatakan bahwa " orang-orang yang berpendapat bahwa kita boleh berbuat jahat ( bohong ) agar sesuatu yang baik terjadi, sudah selayaknya dihukum,” Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata : ‘ Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.’ Orang semacam itu sudah selayaknya mendapatkan hukuman.” Yesus berkata,” Ya, katakan ya; tidak katakan tidak’ apa yang lebih dari itu berasal dari sijahat.”

Segala yang melenceng dari kebenaran adalah dosa.

Baiklah mencintai, tidak membenci.
Baiklah tertawa, tidak menangis. 
Baiklah mencipta, tidak merusak.
Baiklah bertahan, tidak menyerah.                                                    
Baiklah memuji, tidak mencaci.

( Og Mandino )


Bertumbuh Melalui Godaan

Godaan dapat menjadi batu loncatan untuk pertumbuhan iman dan karakter kita, jika kita tahu cara mengatasinya. Iblis ingin menggunakan godaan dan cobaan itu untuk menjatuhkan dan menghancurkan kita. Namun sebaliknya, Tuhan ingin menggunakan godaan itu untuk mengembangkan dan membentuk iman dan karakter kita. Sangat membantu jika kita dapat melihat cara kerja iblis dan rencana-rencananya. Iblis menggoda manusia melalui 4 tahapan :

1. Menumbuhkan keinginan yang berdosa dalam diri manusia.
Iblis bekerja di dalam hati dan pikiran manusia untuk menumbuhkan keinginan yang berdosa seperti membalas dendam, berzinah, mencuri, nonton film porno, menyontek, berbohong, dan lain-lain. Iming-iming iblis umumnya adalah jalan pintas dan kesenangan duniawi, ia selalu berkata, “ Ini baik bagimu !”

2. Menumbuhkan keragu-raguan dalam diri manusia. Iblis berusaha agar kita menjadi ragu akan kebenaran firman Tuhan yang seharusnya menjadi sumber kekuatan dan makanan rohani kita sehari-hari, dan membuat kita bertanya-tanya akan kasih dan perhatian Tuhan kepada kita.

3. Memasang tipu muslihat. Iblis adalah bapa segala dusta, ia selalu menyamarkan maksud jahatnya dan identitasnya agar kita tidak sungkan untuk mengikuti penyesatannya.

4. Melakukan ketidaktaatan. Jika kita ragu dan termakan oleh tipu muslihat iblis, maka kita akan segera melakukan ketidaktaatan kepada Tuhan.

               Langkah-langkah yang harus ditempuh agar kita dapat menang di dalam menghadapi godaan dari iblis adalah :

1. Menolak untuk diintimidasi iblis. Kita tidak dapat membuat iblis berhenti menggoda kita, tetapi kita dapat memilih untuk tidak menuruti apa yang dikatakannya. “Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” ( Mat 4 : 10 ).

2. Kenali kelemahan-kelemahan kita. Setiap orang ada kelemahannya, ada yang punya kelemahan dalam bidang keuangan , seks, atau amarah. Kenalilah kelemahan anda dan jangan biarkan kelemahan-kelemahan itu membuat kita memberikan kesempatan pada iblis, bersiap-siaplah untuk situasi yang mengarah ke sana. “dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” ( Efs 4 : 27 ).

3. Mintalah pertolongan Tuhan. Tuhan membuka hot line service 24 jam bagi anak-anakNya. Oleh karena itu, jika kita mulai mencium adanya godaan dari iblis berserulah, mintalah kekuatan dan penyertaan kepada Tuhan. “ Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.” Sela  ( Mzm 50 : 15 ).

               Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barang siapa yang mengasihi Dia.

Sang pemikir meninggal, tetapi buah pikirannya tidak terjangkau oleh kehancuran. Manusia dapat binasa, namun ide-ide bersifat kekal. ( Walter Lippmann )

Monday, May 9, 2016

Bertekun Dalam Doa

Maman, seorang pesuruh kantor dipanggil seorang manajer. Sambil menyerahkan uang ke tangan si Maman, manajer itu berkata, “Man, tolong belikan saya makanan ya.” Belum selesai manajer bicara, si Maman langsung ngeloyor pergi, sementara manajer bertanya-tanya di dalam hati, makanan apa yang akan di beli oleh si Maman. Selang beberapa menit, Maman kembali ke ruangan si manajer. “Pak, mau beli makanan apa ya?” “Lain kali kalau saya belum selesai bicara, jangan pergi dulu ya,” kata si manajer.

               Tuhan Yesus mengajarakan kepada kita agar bertekun di dalam doa. Bertekun artinya setia melakukan atau mengerjakan sesuatu tanpa merasa jemu atau bosan. Pengajaran Yesus ini menjelaskan bahwa tidak selamanya doa-doa kita langsung dijawab secara instan. Kita membutuhkan ketekunan dan kesabaran di dalam berdoa. Kehidupan doa kita tidak terlepas dari apa yang disebut “penantian” , yaitu penantian akan jawaban yang akan Tuhan berikan, atau apa yang akan Tuhan lakukan selanjutnya.

               Salah satu kelemahan kita di dalam berdoa adalah tidak sabar menunggu. Kita sering menjadi seperti si Maman yang tidak sabar dan ingin cepat-cepat pergi, tidak mau berlama-lama di dalam menanti Tuhan. Banyak orang Kristen yang berjuang di dalam doa selama bertahun-tahun untuk suatu pergumulan. Mungkin itu pergumulan untuk pasangan hidup yang tidak kunjung datang, suami atau istri yang belum bertobat, atau keluarga kita yang belum percaya Kristus Yesus. Kita berdoa sekian waktu lamanya, tetapi kelihatannya belum ada tanda-tanda yang menunjukan bahwa Tuhan menjawab doa kita. Karena sudah jemu dan seolah-olah perjuangan kita sia-sia, maka kita memutuskan untuk tidak berdoa lagi. Padahal Tuhan sudah siap dengan jawaban doa yang akan segera Dia berikan.

               Alkitab mengajarakan bahwa jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, maka kita akan menantikan dengan tekun. “Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.” ( Rom 8 : 25 ). Di dalam doa , mengharapkan sesuatu yang tidak kelihatan. Kita hanya percaya bahwa Tuhan sanggup memberikan apa yang kita minta, jika itu sesuai dengan kehendak-Nya. Itu sebabnya kita harus terus bertekun di dalam doa sampai kita mengetahui jawaban yang Tuhan berikan, atau sampai Tuhan memberikan jawaban-Nya. Ajaran kekristenan meminta kita untuk bersabar, bertekun dan setia. Kita tidak akan mendapakan apa yang kita inginkan, jika kita tidak belajar bersabar menantikan Tuhan.

               Seperti janji Tuhan, bahwa Ia tidak akan mengulu-ulur waktu untuk menolong anak-anak-Nya yang siang dan malam berseru kepada-Nya. Kita hanya memerlukan ketekunan dan iman yang teguh bahwa Tuhan pasti menjawab doa kita. Jangan jemu-jemu berdoa dan nantikan waktu Tuhan, karena waktu-Nya selalu tepat dan tidak pernah terlambat.

Doa tanpa ketekunan jarang mebuahkan hasil yang manis.

Tidak ada orang yang menerima kehormatan denga menerima dari orang lain. Kehormatan merupakan balasan dari apa yang kita berikan. ( Calvin Coolidge )


               

Sunday, May 8, 2016

Andreas Melayani Tanpa Mencari Pujian

Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikuti Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya dan Ia berkata kepadanya : “ Kami telah menemukan Mesias .”

               Siapa Andreas ?  Bukankah kita jarang bahkan mungkin tidak pernah mendengar khotbah yang berbicara tentang Andreas ? walaupun sebenarnya ia adalah salah satu murid Tuhan Yesus, namun namanya tidaklah setenar dan sepopular Petrus, dalam lingkaran inti murid-murid terdekat Yesus. Itulah sebabnya namanya jarang terlihat dalam Alkitab. Jika para rasul itu bagaikan pemain film atau tokoh utama dalam film, maka andreas itu bagaikan pemain latar yang bekerja di belakang layar yang tidak terlalu menonjol dan memberi dampak.

               Walaupun demikian, bukan berarti Andreas bukan orang yang penting dalam proses perjalanannya bersama Tuhan Yesus maupun pengkabaran Injil. Banyak hal yang telah diperbuatnya yang kurang kita ketahui karena ia banyak bekerja di belakang layar. Jika kita meneliti apa yang telah diperbuatnya, kita akan menemukan bahwa andreas adalah seorang yang sangat peduli akan orang lain. Dari ayat yang kita baca, Andreaslah yang pertama menjelaskan kepada Simon Petrus bahwa Yesus adalah Mesias. Tanpa Andreas mungkin Petrus tidak akan berjumpa Yesus waktu itu. Melalui Andreaslah, Petrus bisa mengenal Yesus, menjadi murid Yesus, terlebih lagi masuk ke dalam kelompok tiga murid terdekat Tuhan Yesus ( Yakobus, Yohanes dan Petrus ). Bahkan pada akhirnya kita tahu, kelak Petrus menjadi pemimpin para rasul yang mempertobatkan banyak jiwa untuk percaya kepada Tuhan. Namun, walaupun Andreas tidak setenar saudaranya, ia tidak pernah sedikit pun mempermasalahkan hal itu. Dengan sukacita dan rendah hati, ia tetap menjalankan tugasnya.

               Peran berikutnya ketika 5000 orang kelaparan, Andreaslah yang menemukan anak yang memiliki lima roti dan dua ekor ikan, lalu mukjizat besar pun terjadi, masalah ketiadaan makanan pun terselesaikan.

               Itulah Andreas, bukan seorang rasul yang terkenal, jauh dari ketenaran, seorang pemain latar dan pemain figuran. Bahkan apa yang dilakukannya seakan-akan tidak penting. Namun, realitanya mengatakan Andreas adalah pribadi yang peduli, yang berkali-kali membawa jiwa datang kepada Tuhan.

               Mari kita belajar seperti Andreas yang tetap menjadi alat peduli kasih Tuhan walau mungkin kurang dilihat dan tidak dikagumi banyak orang. Allah pasti senang jika kita tetap bekerja di belakang layar dengan sungguh-sungguh meninggikan nama Yesus. Tidak ada yang namanya pelayanan besar dan pelayanan kecil, semuanya sama di mata Tuhan ketika kita mengerjakannya dengan rendah hati dan sungguh-sungguh. Dan jangan pernah menolak pekerjaan Allah hanya karena pekerjaan itu tidak terlihat oleh orang lain. Jika kita sungguh-sungguh rindu untuk melayani Tuhan dan menjadi pelayan-pelayannya maka kita akan mengerjakan bagian kita dengan baik seperti yang dilakukan oleh Andreas. Baik itu melayani sebagai pembersih ruangan kebaktian, menyusun kursi-kursi sebelum jemaat datang, ataupun pekerjaan-pekerjaan lain yang kelihatannya tidak penting dan tidak terlihat oleh orang lain, kerjakanlah dengan baik, sungguh dan setia. Karena Tuhan tidak akan melihat sebelah mata pekerjaan tanganmu.

Saturday, May 7, 2016

Berseru Pada Waktu Kesesakan

Saya melonggarkan sabuk pengaman setelah pesawat yang saya tumpangi lepas landas. Tak lama kemudian seorang pria menghampiri saya dan berkata,” Pak, saya mengenal anda dan mungkin anda tidak lagi mengenal saya. Delapan belas tahun yang lalu, anda mengunjungi rumah saya saat saya berusia 12 tahun. Anda mendoakan dan mengurapi saya, sehingga saya sembuh dari kelumpuhan. Sejak saat itu saya tidak pernah memiliki masalah dengan kaki saya. “ Saya mencoba mengingat-ingat dan kemudian memintanya untuk duduk di kursi kosong yang ada di sebelah kanan saya.” Duduklah di sampingku. Ceritakan padaku apa yang kau alami setelah sembuh!” “ Saya sudah menikah dan memiliki tiga orang anak. Kami tinggal di negara yang mayoritas penduduknya adalah non Kristen. Saya bekerja di sebuah bank dan mempunyai kedudukan yang baik disana. Saya mengajar anak saya dan beberapa orang anak tetangga tentang Firman Tuhan, ketika pihak pemerintah mengetahui apa yang saya lakukan, mereka memerintahkan saya untuk meninggalkan negeri itu. Mereka tidak hanya mengusir saya sekeluarga, tetapi mereka juga merampas rumah dan uang tabungan kami. Karena itu saya ada di pesawat ini, saya ingin mencari pekerjaan di San Francisco. Pak, maukah anda berdoa supaya Tuhan menuntun langkah saya ? saya harap ketika saya sampai di San Francisco nanti, saya segera mendapatkan pekerjaan.” Saya sangat prihatin pada apa yang dialaminya, karena itu saya merangkul pundaknya dan berdoa,” Tuhan, FirmanMu berkata ‘ beserulah kepadaKu pada waktu kesesakan, maka Aku aka meluputkan engkau dan memuliakan engkau.’ Tuhan buatlah mujizatMu atas hidup anak yang Kau kasihi ini. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin. “ setelah selesai berdoa, tiba-tiba pria yang duduk di sebelah kiri saya berkata,” Maafkan saya karena saya telah mendengar pembicaraan anda berdua, dan saya juga ikut berdoa saat anda mendoakannya. Pak, mungkin Tuhan sudah menjawab doa kita.” “ Bagaimana anda bisa tahu “? Tanya saya penasaran. “ Pak, saya adalah Presiden Bank Amerika di Chicago dan sekarang saya hendak mengunjungi sahabat saya yang juga adalah Presiden Bank Amerika di San Francisco. Saya menjamin bahwa dia akan diterima bekerja disana,” katanya sambil tersenyum. Saya sangat gembira mendengarnya. “ di ketinggian 37.000 kaki dari permukaan bumi kita terbang, belum lagi kita sampai ke bumi, Tuhan sudah menjawab doa kita. Tuhan menjawab jauh dari apa yang kita harapkan.”

               Ada saat di dalam hidup ini, dimana kita mengalami hal-hal sukar yang tidak dapat kita selesaikan dengan kekuatan kita sendiri. Tetapi jika kita menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan Tuhan, maka Dia yang Perkasa akan mengulurkan TanganNya menolong kita.

Iman terbukti ketika di masa sukar kita tetap percaya kepada Tuhan.

Bukan beratnya pekerjaan yang membuat seorang pemalas menjadi capek, tetapi pikirannya yang mengatkan bahwa ia harus bekerja. ( Albert Brie )

Friday, May 6, 2016

Berlutut dan Menaati Tuhan

Kalau kita perhatikan isi kitab Mazmur 95 ini terdiri atas dua bagian dan masing-masing bagian terdiri atas beberapa unsur, yakni : ayat 1-5, madah ( pujian syukur ) bagi Tuhan, Raja pencipta dan ayat 6-11, berisikan madah bagi Tuhan dan peringatan terhadap Israel. Kedua bagian ini merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Karena Mazmur ini dihimpun untuk peresmian Bait Allah periode kedua, yang dibangun setelah 70 tahun pembuangan Israel di Babel. Jadi isi dari teks khotbah ini, tampaknya hendak menegaskan permohonan Israel bahwa jalan terbaik bagi seluruh bangsa  adalah mengakui Allah sebagai Raja. Secara umum struktur Mazmur 95 ini terdiri dari dua bagian , yakni 95 : 1-7, panggilan untuk menyembah Allah, 95 : 8-11, peringatan dengan belajar dari masa lalu.

               Diayat 1-3 : setelah kembali dari pembuangan Babel, dimana para dewa disembah, pemazmur menekankan kedaulatan absolute Allah yang Maha Besar. Sebuah Gunung Batu Keselamatan menunjuk pada ingatan Israel mengenang air hidup yang senantiasa keluar dari Gunung Batu. Ketika Israel menempuh perjalanan di padang gurun ( lihat ayat 8-9 + Kel 17 : 17, Bil 20 : 1-13, 1 Kor 10 : 4 ). Dan diayat 4-5, walaupun Bait Allah telah diresmikan, ada sebuah kenyataan bahwa apa yang mereka bangun tak dapat dibandingkan dengan segala ciptaan Allah. Di ayat 6-7, adalah ajakan untuk sujud menyembah kepada Allah. Bagi pemazmur aktivitas sujud menyembah merupakan ungkapan dorongan hati untuk senantiasa memuja Allah. Di ayat 8-9, pemazmur mengajak pendengarnya untuk mengingat peristiwa saat Israel memberontak dan tidak taat kepada Allah. Meriba ( yang berarti pemberontakan ) adalah : tempat dimana Israel melawan Tuhan. Protes mereka ketika mengalami ketiadaan air, menunjukan ketiadaan iman mereka kepada Allah. Juga ketika di Masa  ( yang berarti menguji / mencobai ), Israel diingatkan bahwa pada saat sulit mereka bisa jatuh dalam situasi mempertanyakan  kuasa Tuhan. Itu juga tampak pada kecenderungan Israel yang senantiasa ingin kembali ke Mesir, karena menganggap Mesir lebih baik daripada karya  pembebasan Allah yang akan membawa mereka ketanah perjanjian. Di ayat 10-11, pengembaraan dipadang gurun yang begitu lama ( suatu proses ) terjadi akibat kesesatan hati Israel, yang tidak berjalan dijalan Allah, bagian ini digunakan untuk menganalogikan orang-orang yang binasa karena murtad.

               Hal ini banyak terjadi pada orang Kristen saat kesulitan atau sukses, mereka melupakan Allah, sehingga hatinya tertutup untuk Tuhan. Lebih banyak hatinya kepada kesukaan duniawi, bahkan harta dianggap segalanya, Tuhan itu baginya hanya sekedar untuk didengarkan dan diucapkan saja. Padahal yang benar adalah : Tuhan itu adalah segalanya didalam hidup kita, itulah yang dikatakan : Total submission, total self-denial, total obedience.

( Pdt. Satahi M. Panjaitan, S.th )

Thursday, May 5, 2016

Berdirilah, Jangan Takut

Peristiwa transfigurasi terjadi menurut Injil Matius ini terjadi enam hari setelah pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup dan pemberitahuan yang pertama oleh Yesus tentang penderitaanNya. Yesus berubah rupa didepan mata ketiga muridNya. wajahNya bercahaya seperti terang dunia. Atas peristiwa transfigurasi ini yang membuat Petrus, Yakobus dan Yohanes menjadi takut, itu pertanda mereka belum benar-benar mengenal siapa Yesus itu ? Ternyata mereka mengakui  Yesus itu benar-benar Mesias dengan atas peristiwa transfigurai  Yesus dan sekaligus mereka menjadi saksiNya.

          Kita jangan takut untuk bersaksi, bahwa Yesus itu Mesias ( Juruslamat Dunia ) pada keadaan apapun dan kepada siapa saja. Dia benar-benar yang mulia dan memberikan jaminan-jaminan hidup pada kehidupan yang kekal bagi yang percaya dan dibabtis, untuk itu marilah kita mengajak orang untuk menjadikan pengalaman dan kehidupannya bersama Yesus ( FirmanNya ) sebagai “ bekal spiritual “ untuk melakukan pelayanan kasih.

          Kita harus percaya dengan peristiwa transfigurasi yang dilihat oleh ketiga murid Tuhan Yesus yakni : Kemuliaan Tuhan Yesus. Tetapi bukan percaya saja dimulut, bukan Cuma percaya secara formal, apa yang dikatakan Rasul Paulus, adalah :  mempercayakan diri secara penuh atau total, istilah Rasul Paulus : “ Tuhan hidup didalam kita, dan kita hidup didalam Tuhan.” Siapa hidup didalam Kristus berarti “ ciptaan manusia baru .” Untuk itu, supaya kita introspeksi diri sendiri. Apa saya ini sudah benar-benar hidup didalam Kristus ? atau belum ? Berdirilah hidup kita yang benar-benar mengenal Kristus atau didalam kemuliaanNya. Artinya didalam kekudusan dan kasih dan kebaikan. Arti yang sebenarnya adalah : tidak hidup sembrono, tidak hidup serampangan, tidak hidup sembarangan, menjaga tingkah laku kita sebaik-baiknya, jangan hanya omong doang. Ada ungkapan orang Inggris yang mengatakan : “ Say what you mean, and do what you say,” artinya : katakanlah apa yang ada dalam hatimu dan kerjakanlah apa yang kau katakan dengan mulutmu, maka orang akan percaya.   

( Pdt. Satahi M. Panjaitan, S.Th )

Tuesday, May 3, 2016

Berbuat, Tak sekedar Bertobat

Bertobat itu penting karena kita tidak lepas dari perbuatan dosa dan kesalahan. Tetapi, sering kita melakukan pertobatan namun rasanya hidup kita tetap saja dan tidak mengalami pertobatan. Kita masih mengulang dosa dan kesalahan yang sama. Pengalaman ini menimbulkan pertanyaan dalam diri kita: “Apa arti pertobatan itu?”

               Pertobatan itu seharusnya membuat kita berani mulai menyusun kembali kehidupan baru, meskipun dasarnya tetap tubuh kita yang lama. Artinya, sikap tobat itu memutarbalikan seluruh arah hidup kita dari sebelumnya mengikuti kehidupan dosa kepada kehidupan Tuhan. Sebelum bertobat, kita seluruhnya menjadi milik dosa, tetapi setelah bertobat kita seluruhnya menjadi milik Tuhan. Dalam proses pertobatan ini, kita akan merasakan perasaan malu karena perbuatan dosa kita itu. Dengan perasaan malu inilah kita mau bertobat. Semakin kita merasa malu dengan perbuatan dosa kita, maka semakin kta bertekad untuk bertobat.

               Pertobatan akan kita rasakan ketika kita bertobat yang menghasilkan buah. Pertobatan yang tidak menghasilkan buah, akan membuat kita melakukan kembali perbuatan dosa yang sama. Pertobatan itu menjadi kehilangan maknanya. Seperti yang Yesus katakan dalam perumpamaan pohon ara. Pohon ara yang baik adalah pohon ara yang menghasilkan buah dan pohon ara yang tidak berbuah akan kehilangan makna dan fungsinya sebagai pohon yang menghasilkan buah untuk dinikmati oleh orang banyak. Pertobatan yang sesungguhnya adalah pertobatan yang menghasilkan perbuatan baik yang dapat dirasakan dan menjadi berkat bagi orang lain. Pertobatan seperti inilah yang Tuhan Yesus inginkan.

“... hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri” ( Fil 2:3b )

Bapa yang Menuntun

Sabtu pagi ketika jogging, saya melihat hal yang mengherankan. Dari kejauhan tampak seorang anak remaja dituntun oleh ayahnya untuk lari pagi. Setelah berada lebih dekat barulah saya mengerti mengapa anak itu harus dituntun untuk berlari, ternyata dia buta. Sang ayah begitu sabar menuntun anaknya, yaitu dengan memberi aba-aba, sementara saya terus berlari di belakang mereka. Setelah dua kali mengintari taman tempat jogging itu, tiba-tiba anak laki-laki yang buta itu tersandung jatuh dan dengkulnya lecet. Ia meringis kesakitan dan sang ayah menolongnya untuk bangkit. Sang ayah membersihkan lutut anaknya sembari meniup-niupnya supaya rasa perihnya berkurang. Anak itu hanya meringis, dan jelas terlihat kekuatiran di raut wajah sang ayah. Setelah berdiri, sang ayah memeluknya erat-erat dan membisikan suatu kalimat ke kupingnya. Beberapa menit kemudian sang ayah menggandeng anaknya untuk berlari bersama. Sang ayah tidak menghentikan kegiatan lari pagi itu, karena ia tahu bahwa anaknya masih mampu untuk melakukannya.

               Saya melihat bahwa sejak kecelakaan kecil itu sang ayah memberi perhatian yang lebih kepada anaknya. Ia tetap berdiri mendampingi anaknya, sesekali ia memandang ke dapan, lalu secepatnya memberi aba-aba kepada anaknya. Betapa besar perhatian dan kasih sayang sang ayah kepada anaknya yang tuna netra itu. Pagi itu, hati saya tertegur karena pernah meragukan kasih Bapa di Sorga. Lewat perhatian sang ayah terhadap anaknya yang buta, saya mengerti bahwa pandangan Bapa di Sorga tidak pernah lepas untuk mengawasi saya.

               Pernahkah kita meragukan kasih setia Bapa di Sorga ? Ketika masalah datang kita berseru kepada Bapa, namun kita merasa seolah ditinggalkan olehNya karena kita tidak juga melihat jawaban yang kita inginkan. Dalam keadaan demikian, kita mulai menggerutu, menganggap Bapa tidak adil karena mengizinkan masalah yang besar menghadang hidup kita. Bukan hanya sungut-sungut yang keluar dari lidah bibir kita, tetapi kita juga mulai “ ngambek “ dengan cara tidak beribadah, tidak bersaat teduh atau tidak berdoa lagi. Keraguan atas penyertaan Bapa dan sikap yang menggerutu membuat kita tidak bisa mendengar bisikan lembutNya yang berkata, “ Ayo, berlarilah pelahan-lahan karena kau masih bisa, Aku akan mengawasi jalan di depanmu dan menuntunmu dengan suaraKu yang lembut.”

               Ketika badai hidup menerpa atau ketika ombak yang bergulung-gulung mencoba menghempaskan kita, percayalah bahwa Bapa di Sorga tetap setia mendampingi, menuntun, menguatkan dan melindungi kita. Jangan takut atau gentar untuk menghadapi hidup ini, karena bersama Bapa kita akan mengendarai badai besar itu untuk melihat kemuliaan besar yang dikerjakan oleh tanganNya. “ Dengan nasihatMu, Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.” ( Mzm 73 : 24 )
Kasih Bapa Sorgawi terus mengalir, walau kita sering tidak menyadarinya.

Dengan menghilangkan keinginan, engkau menghilangkan pikiran. ( Caude Adrian Helvetius )