Monday, October 10, 2016

Integritas

Apakah itu integritas ? kata yang sering di ucapkan namun tak jarang kita sendiri tidak mengerti apa maksud dari kata itu. Dalam KBBI ( Kamus Besar Bahasa Indonesia ) tertulis bahwa in•teg•ri•tas n mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Dan dalam arti luasnya kita bisa berkata bahwa integritas itu adalah keterpaduan dan keseimbangan dari semua sifat ( Kejujuran, kredibilitas, moralitas, karakter, etika dan kepribadian ) yang akan menghasilkan mutu atau kualitas hidup yang baik, memancarkan nilai-nilai dan kewibawaan yang menjadikan seseorang itu dapat dipercaya.

Mari kita melihat krisis-krisis yang terjadi di Negara kita, banyak petinggi-petinggi atau pemimpin-pemimpin bangsa kita yang mengalami krisis integritas. Kata-kata manis yang keluar dari mulut yang tidak sejalan dengan apa yang dilakukan. Bukan hanya pada pemimpin-pemimpin bangsa kita namun secara nyata krisis integritas tersebut juga sudah melanda sampai kedalam kehidupan kita masing-masing seperti titip absen di perkuliahan, plagiat tugas kuliah atau copy paste tugas kuliah, membohongi orang tua untuk mengirimkan uang lebih demi beli buku, namun ternyata yang ada untuk pergi jalan-jalan sama teman, janji datang persekutuan namun tidak jadi karena alasan malas, ngakunya kuliah sama orang tua di rumah namun kenyataannya main game terus di kosan dan masih banyak lagi krisis-krisis integritas yang terjadi di dalam kehidupan kita, mari kita renungkan sendiri bagian-bagian itu.

Apa sebenarnya yang menjadi penghambat perkembangan integritas :

1.    Kurangnya pengenalan akan Kristus, yang membuat setiap kita mengabaikan dasar yang seharusnya menjadi standar hidup kita dan membuat hidup kita hanya berfokus kepada apa yang di lihat oleh dunia penting bahkan dengan biasa melakukan hal-hal kecurangan demi untuk kesenangan dan kepuasan pribadi.

2.    Kekuasan

3.    Keuangan atau ekonomi

4.    Faktor-faktor social negative

Lalu bagaimana cara kita agar mampu hidup berintegritas ? dalam Matius 7 : 24 -25 ada tertulis 24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 25  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Hidup di atas dasar yang kuat dan yang benar yaitu hidup di dalam Firman Allah sehingga kita dapat dimampukan untuk hidup di dalam integritas yang sejati yang terus menerus di proses menuju kedewasaan di dalam Kristus.

Kesaksian yg paling efektif berasal dari mereka yg mewujudnyatakan hal-hal yg mereka katakan. Mereka adalah perwujudan dari pesan mereka sendiri. Orang Kristen harus konsisten dengan perkataan mereka sendiri.... Apa yg dikomunikasikannya pada dasarnya merupakan keaslian pribadinya.

( John Poulton, Uskup Agung dalam bidang penginjilan)

“Integritas tidak bisa dikompromikan. Usaha-usaha yang dijalankan oleh perusahaan kami di seluruh dunia harus dilaksanakan dengan sikap yang bertanggung jawab secara sosial dan menjunjung tinggi integritas serta berkontribusi positif pada masyarakat”

(Pernyataan Misi Ford Motors)

Yesus berkata,
"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10)






Wednesday, September 28, 2016

Kelompok Tumbuh Bersama

Tahukah kamu apa itu komunitas ? Menurut KBBI ko•mu•ni•tas n kelompok organisme (orang dsb) yg hidup dan saling berinteraksi di dl daerah tertentu; masyarakat; paguyuban;
-- desa Antr komunitas yg bersifat kedesa-desaan; -- hutan bakau komunitas yg hidup di hutan bakau di daerah pantai; -- sastra kelompok atau kumpulan orang yg meminati dan berkecimpung dl bidang sastra; masyarakat sastra. ke•lom•pok n 1 kumpulan (tt orang, binatang, dsb); 2 golongan (tt profesi, aliran, lapisan masyarakat, dsb); 3 gugusan (tt bintang, pulau, dsb); 4 Antr kumpulan manusia yg merupakan kesatuan beridentitas dng adat-istiadat dan sistem norma yg mengatur pola-pola interaksi antara manusia itu; 5 Pol kumpulan orang yg memiliki beberapa atribut sama atau hubungan dng pihak yg sama; 6 Kim kuantitas zat yg akan dimasak atau diolah dl satu waktu; -- pemirsa Kom kumpulan penonton televisi yg diatur untuk penyuluhan melalui media televisi; -- pendengar Kom kumpulan orang yg mendengar dan mendiskusikan siaran radio pedesaan atau pita rekaman, yg bersifat penyuluhan, terutama untuk masyarakat pedesaan.

Tujuan pertumbuhan rohani seorang Kristen adalah Percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi dan yang kemudian hendaklah seorang Kristen menjadi seorang Murid Kristus, seseorang yang mau belajar dengan penuh disiplin dalam melakukannya. Dalam I Petrus 2:2 tertulis “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan,” (Surat Petrus Yang Pertama  ini ditujukan kepada orang-orang Kristen yang tersebar di seluruh bagian utara Asia Kecil. Mereka disebut "umat pilihan Allah". Maksud utama surat ini ialah untuk menguatkan iman para pembacanya yang sedang mengalami tekanan dan penganiayaan karena percaya kepada Kristus. Petrus mengingatkan para pembacanya akan Kabar Baik tentang Yesus Kristus yang merupakan jaminan harapan mereka ). Menjadi MURID merupakan panggilan yang diberikan Tuhan kepada setiap orang yang mau mengikuti DIA, dan merupakan panggilan seumur hidup. Namun masalah berikutnya adalah bagimana seorang murid bisa bertumbuh dan melakukan panggilan itu jika tidak diberikan wadah/tempat untuk seseorang itu bisa berproses.

KK (Kelompok Kecil) / KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) adalah kelompok yang terdiri dari 4 – 6 orang, yang sepakat untuk berkumpul secara kontinu dalam satu tempat dan melakukan berbagai hal yang menunjang pertumbuhan mereka di dalam Kristus (mempelajari dan menerapkan Firman Tuhan). Tiap kelompok kecil terdiri dari anggota dan satu pemimpin. Singkatnya: terdiri dari 4-5 orang yang punya kerinduan untuk bertumbuh di dalam Kristus menjadi murid sejati. Kelompok kecil atau Kelompok Tumbuh Bersama bukanlah produk suatu gereja atau persekutuan tertentu, melainkan merupakan suatu pola pemuridan yang Allah gunakan bagi umatNya di dalam sejarah. Pola ini dapat ditemukan dalam Alkitab, sejak Perjanjian Lama sampai ke Perjanjian Baru.

Lalu apa tujuan Kelompok Kecil atau Kelompok Tumbuh Bersama ini ? Tujuannya bisa kita temukan dalam surat Paulus kepada jemaat di Efesus 4 : 13 – 15 “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah , kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”

Kita tahu bahwa pola Kelompok Kecil atau Kelompok Tumbuh Bersama ini sudah di pakai mulai dari zaman Perjanjian Lama hingga zaman Perjanjian Baru. Diawali dengan kisah Adam dan Hawa yang selalu bersekutu dengan Allah di dalam Taman Eden ( Kejadian 3 : 8 ) bahwa pada hari sejuk Allah selalu datang ke Taman Eden untuk bercakap-cakap dan berdiskusi dengan Adam dan Hawa, pola yang telah di ajarkan oleh Allah sendiri kepada kita. Kemudian Nuh dalam Kejadian 7 – 9 juga membentuk kelompok kecil bersama dengan keluarganya. Musa dalam Keluaran 18 : 13 – 26, lalu Daniel dengan teman-teman kelompok kecilnya yaitu Sadrakh, Mesakh dan Abednego dalam Daniel 1:6; 13-20; 2:17-18. Hingga kepada zaman Perjanjian Baru yang juga di ajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Yesus Kristus menggunakan metode kelompok kecil dengan mem-fokus-kan pengajaranNya pada 12 orang murid yang diharapkan dapat melanjutkan misiNya, memberitakan Injil ke seluruh dunia (Matius 10:1-5; Mrk 5:37; 9:2; 14:33 ). Gereja mula-mula berdiri, Tuhan menambahkan jumlah mereka setiap hari. Dari 120 orang (Kisah Para Rasul 1:15), kemudian menjadi 3000 orang (Kisah Para Rasul 2:41). Mereka menggunakan metode “kelompok” yaitu dengan berkumpul di rumah-rumah untuk beribadah dan belajar Firman Tuhan. (Kisah Para Rasul 2:41-47). Rasul Paulus juga menggunakan metode kelompok kecil. Tentunya Paulus sadar bahwa tidak mungkin ia membebankan tanggung jawab dan tugas pelayanan kepada semua orang yang ia layani. Ia harus secara khusus melatih beberapa orang di dalam jemaat untuk diserahi tugas dan tanggung jawab ini. Oleh sebab itu, kita menemukan orang-orang seperti Titus, Timotius, Lukas, di dalam pelayanan Paulus. Ia bahkan “memerintahkan“ Timotius “anak kelompok kecil”-nya untuk meneruskan Injil Tuhan, harta yang indah, kepada orang-orang yang juga cakap untuk mengajar /memuridkan orang lain (2 Timotius 2:2; Titus 1 : 4).

Lalu apa fungsi dan keunggulan dari Kelompok Kecil atau Kelompok Tumbuh Bersama ?

1.    Untuk membangun watak seperti Kristus.
2.    Melatih dalam dasar-dasar ke-Kristenan, seperti saat teduh dan jam doa yang teratur, menggali 
       firman Tuhan, dan lain-lain.

Beberapa keunggulan kelompok kecil sebagai berikut :

1.    Materi pembahasannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan anggota-anggotanya.
2.    Suasana kelompok kecil memungkinkan setiap anggotanya untuk aktif menggali dan aktif  
       berdiskusi
3.    Pemimpin kelompok memberikan dukungan doa, perhatian, dorongan, nasihat, ataupun teguran
       yang bersifat pribadi. ( seperti dalam surat Paulus kepada Timotius )
4.    Dalam kelompok kecil, seseorang bisa menemukan suatu komunitas untuk saling berbagi, saling
       memperhatikan, saling mendorong, dan sekaligus saling mengasah untuk bisa bertumbuh
       bersama dalam kebenaran.

Dan kemudian alasan apa yang membuat Kelompok Kecil atau Kelompok Tumbuh Bersama perlu diadakan ?

1.    Network of belonging (persekutuan), orang butuh komunitas
2.    Big enough question (pertanyaan-pertanyaan besar dalam komunitas)
3.    Ada perjumpaan dengan perspektif yang berbeda-beda. Komunitas itu tidak homogen justru
       ketika berbeda-beda itu akan mengasah & membuat sudut pandang yang berbeda-beda.
4.    Kebiasaan berpikir (habbits of mind)
       a)    Dialog. Ruang untuk bercakap-cakap
       b)    Berpikir kritis.
       c)    Berpikir secara holistik (tidak sepotong-potong)
       d)    Ruang untuk merenung (contemplatif)


Sudah terbukti bahwa Kelompok Kecil atau Kelompok Tumbuh Bersama berperan bagi setiap aspek kehidupan murid Kristus tidak hanya sebagai keluarga, atau membimbing dalam studi bahkan pelayanan tapi semuanya karena Firman Allah yang mengubahkan itu menjadi dasarnya. Kalau kita berada disini saat ini yakinlah bahwa kita adalah orang-orang yang berbahagia, mengapa? Karena visi Kristen tidak lain daripada lahirnya murid-murid Kristus dari antara semua bangsa! Itu adalah kehendak dan rencana Tuhan Yesus sang Kepala Gereja sendiri. Juga yakinkan bahwa kita memang seorang murid. Murid yang meneladani dan mencintai Kristus.



Monday, September 19, 2016

Engkau Akan Menjadi Mata Air Yang Tak Kering

9Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, 10apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. 11TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diari dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. 12Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”. 13Apabila engkau tidak menginjak-nginjak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat “hari kenikmatan”, dan hari kudus TUHAN “hari yang mulia”, apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, 14maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut TUHANlah yang mengatakannya. ( Yesaya 58 : 9 – 14 ).

    Dalam perkembangan ibadah bangsa Israel pada zaman menjelang pembuangan ke Babel mengalami pergeseran makna. Kalau dilihat dari bentuk peribadatan mereka sangat berkembang, baik dari segi tata ibadah, baik dari segi seremonial, baik ketaatan, hanya saja maknanya jadi berbeda. Keadaan inilah yang dikritik oleh Nabi Yesaya, dimana menurut pengamatan Yesaya bangsa itu memang melaksanakan semua ketentuan yang diperintahkan oleh Tuhan, melakukan sesuai dengan hukum taurat, memberikan korban persembahan, melaksanakan perayanaan sebagaimana diatur oleh perintah Tuhan, mentaati seluruh aturan yang ditetapkan. Apakah ini salah ? Yesaya berkata tidak salah, lalu dimana letak persoalannya. Ketika ibadah dilakukan hanya untuk memenuhi perintah Tuhan, ibadah hanya untuk menyenangkan Tuhan, hanya untuk melaksanakan aturan, ibadah itu kehilangan makna, ibadah itu tidak mempunyai dampak atau boleh saja ibadah menjadi beban

    Lalu muncul pertanyaan, bagaimana ibadah yang benar ? Bagaimana persembahan yang disukai Tuhan ? Firman Tuhan berbicara sangat jelas dan gamblang, yaitu tidak mengenakan kuk atau beban, hukuman, kekerasan kepada orang lain, tidak menghakimi, tidak memfitnah orang lain, menolong orang lapar dan miskin, membebaskan orang yang tertindas. Itu artinya ibadah harus membawa pengaruh kepada cara berpikir, menggerakan hati nurani, mengasah perasaan dan kepekaan. Ibadah tidak mempunyai makna kalau hanya untuk memuaskan perasaan, kalau hanya sebatas tunduk kepada aturan, kalau hanya sebatas kebiasaan, kalau hanya untuk diri sendiri. Ibadah akan menjadi berarti kalau itu membuka mata memahami tugas dan tanggung jawab, menggerakan hati untuk membangun kehidupan yang lebih baik, harus mengasah kepekaan untuk melihat persoalan yang terjadi. Dan yang lebih dalam lagi bagaimana ibadah itu selalu diarahkan untuk mengerti dan melakukan keadilan, membela hak orang lain, menolong yang tertindas. Tuhan menuntut untuk beribadah dengan tekun dan baik didalam doa dan membaca Firman Tuhan, Tuhan suka dengan ibadah yang dilaksanakan dengan sukacita, Tuhan sangat senang dengan pujian dan nyanyian, tetapi Tuhan lebih suka kalau itu mempengaruhi hati, menggerakkan jiwa supaya semakin mengasihi kehidupan, supaya semua orang dapat menikmati anugerah Tuhan melalui perbuatan dan tindakan orang percaya. Itulah yang disebut oleh Rasul Yakobus dengan kata-kata “iman tanpa perbuatan pada dasarnya adalah mati”. Karena itu ibadah harus mendorong manusia untuk berbuat dan bertindak.

    Oleh karena itu tugas orang percaya adalah membawa terang kepada kegelapan dunia, membawa kesejukan ditengah kegersangan persaudaraan yang sedang melanda dunia, membawa sukacita ditengah penderitaan dan kegelisahan. Orang percaya akan menjadi terang, menjadi sumber mata air yang tidak pernah kering. Dunia yang porak poranda karena kerakusan dan ego dapat kita bangun kembali menjadi dunia yang penuh dengan cinta kasih hanya kalau orang percaya mau menjadi pelaku Firman Tuhan. Persembahakan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus yang berkenan kepada Allah sebab itulah ibadahmu yang sejati kata Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma.

Sunday, September 18, 2016

Visi Pelayanan Mahasiswa

Visi dan misi memiliki kaitan yang sangat erat. Keduanya tak terpisahkan. Visi pada hakekatnya adalah jiwa dari sebuah gerakan, misi. Harapannya, cita-citanya, obsesinya. Visilah yang melahirkan, menghidupkan, mengarahkan, dan menopang misi. Tanpa visi, tiada misi, yang ada atau tersisa cuma tradisi, aktivitas. Sebaliknya, tanpa misi, tiada visi, yang ada atau tersisa cuma mimpi!

    Ancaman besar bagi gerakan pelayanan mahasiswa dewasa ini, seperti dikemukanan Samuel Escobar, adalah hilangnya penjiwaan akan visi dari para perintisnya. Jika ini yang terjadi,, gerakkan itu takkan bertahan, cepat atau lambat pasti berakhir. Seperti lilin yang kehilangan nyala api, sumbunya memang masih membara, namun cuma untuk sementara, selanjutnya … padam untuk selama-lamanya!

    Memang, terminologi “visi” dan “misi” sendiri tidak eksklusif Kristiani. Lembaga-lembaga sekuler bahkan perorangan juga menggunakannya. Namun, patut dicatat bahwa hakekat visi dan misi Kristen unik, lain daripada yang lain. Visi Kristen bukan sekedar produk nalar, idealisme, atau ambisi manusia, seluhur apapun itu, tapi bersumber dari penyataan kehendak dan rencana Allah sendiri. Misi Kristen tidak pernah dimulai dari inisiatif manusia, tapi selalu berawal dari inisiatif Allah, terobosan aksi Allah di dalam sejarah!

    Kata latin missio berarti pengutusan. Berbicara tentang misi Kristen berarti berbicara tentang pengutusan. Siapa yang mengutus ? Siapa yang diutus ? Diutus untuk apa ? Itulah beberapa pertanyaan mendasar di dalam Misiologi Kristen. Kita perlu menggali kembali jawaban-jawabannya di dalam Alkitab, jika ingin mengerti secara akurat dan mendalam keunikan visi dan misi Kristen!

    “salah satu bahaya besar yang dihadapi oleh pelayanan mahasiswa dan kegiatan-kegiatan Kristen lainnya adalah menjadi lembaga yang kehilangan visi; generasi penerus melanjutkan kegiatan yang ada namun kehilangan semangat yang mendasari gerakan tersebut. Nama, dukungan keunganan, dan program tetap ada, tetapi orang-orangnya tidak lagi berpegang pada visi yang sama dengan para pendirinya. Mereka meneruskan tradisi hanya secara pasif bukan karena mengalami sendiri dorongan dan pimpinan Roh Kudus. Akhirnya terjadi kekecewaan, kehilangan motivasi; dan gerakan Kristen tersebut mengalami krisis atau bahkan kehancuran”

    Visi bersifat menular, ditransmisikan dari pribadi ke pribadi. Visi dapat dijelaskan di atas kertas atau pita rekaman, namun transmisi visi selalu melibatkan manusia, karena visi akan menjadi sesuatu yang menguasai kita, seperti sebuah impian yang kita yakini sepenuh hati. Dalam tubuh Kristus , visi diterjemahkan sebagai kehendak Tuhan bagi kita, sehingga kita bersedia bekerja keras dan berkorban bagi-Nya. Demikian juga sikap Paulus dan Petrus terhadap pangilan dan pekerjaan kerasulan mereka; karenanya, mereka tidak takut menjadikannya sebagai hal yang bersifat begitu pribadi ( 1 Tesalonika 2 ; 2 Petrus 1 : 12 – 15 ). Manusialah yang mewujudnyatakan visi. Transmisi visi melibatkan orang-orang yang memuridkan orang lain. Hal itu tidak dapat dilakukan dengan instruksi atau aturan-aturan tertulis. Transmisi visi selalu subyektif karena bersifat pribadi; hal itu bukan sesuatu yang obyektif.

    Para pendiri dan pemimpin perlu menciptakan pertemuan-pertemuan yang bermakna lebih dalam dengan generasi penerus mereka. Sediakan waktu untuk membangun persahabatan di tengah-tengah jadwal harian anda. Biarkanlah para senior menceritakan “kisah mereka” dan doronglah mereka untuk bersikap jujur dan mengungkapkan hal-hal yang menyangkut pribadi mereka. Pendiri IFES di Amerika Latin, Ruth Siemens dan Robert Young, bersahab karib dengan kami, generasi penerusnya. Mereka tidak menulis buku panduan pelayanan mahasiswa, tetapi membagikan prinsip-prinsipnya melalui berbagai situasi ( pertemuan ) informal yang sekarang saya sadari merupakan masa-masa kunci dalam proses belajar saya. Dan dengan melihat beberapa  pemimpin baru yang kami bina, saya semakin menyadari bahwa proses transfer visi itu terjadi melalui kehangatan dan sukacita persahabatan ( suasana yang bersifat pribadi ). Tentu saja Firman Tuhan dan doa merupakan kunci dalam proses ini tetapi suasana yang bersifat pribadi ini pun adalah salah satu kunci lainnya.

    Semakin serupa dengan Kristus dan mampu menjadi garam dan terang dimana pun Tuhan menempatkan setiap kita.

Sumber : Buku Our Heritage ( Keunikan & Kekayaan Pelayanan Mahasiswa )
Perkantas Jakarta

Tuesday, September 13, 2016

Pengampunan dan Kematian-Nya

Suatu hari seorang wanita datang kepada seorang pendeta dengan membawa sebakul penuh pasir yang masih basah. “Apkah Pak Pendeta melihat apa yang saya bawa ?” tanya wanita itu. “Tentu, aku melihatnya. Itu adalah pasir yang basah,” jawab pendeta. “Tapi apa arti semua ini ? Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu,” sambung pendeta. “Seperti itulah hidup saya, penuh dengan dosa yang tidak terhitung banyaknya. Dosa-dosa itu telah memenuhi dan mengotori seluruh hidup saya. Saya adalah wanita yang kotor dan hina. Bagaimana mungkin orang yang penuh dengan dosa seperti saya bisa diselamatkan dan dibersihkan dari dosa-dosa yang banyak itu ?” “Dari mana kau mengambil pasir ini ?” tanya pendeta. “Dari pantai,” jawab si wanita. “Sekarang kembalilah ke pantai, bawa serta satu perangkat sekop. Buatlah timbunan pasir setinggi yang kau bisa dan biarkan. Berdirilah tidak jauh dari timbunan pasir yang kau buat dan perhatikan bagaimana gelombang laut akan meruntuhkan dan menyapu bersih timbunan pasir tersebut. Demikianlah darah Yesus akan menyucikan engkau dari segala noda dosa yang begitu banyak.”

    Seperti halnya wanita yang telah melakukan banyak dosa dan ia berpikir bahwa tidak ada yang dapat menolongnya, demikianlah banyak orang mengira bahwa tidak ada yang dapat menolongnya, demikianlah banyak orang mengira bahwa dosa yang telah menghancurkan hidup mereka dan memisahkan mereka dari Allah untuk selamanya. Tetapi kita bersyukur kepada Allah karena pengorbanan Yesus di atas kayu salib mampu menyucikan kita dari segala noda dosa, membuat kita bersih dan layak di hadapan Allah.

    Bagaimana pun jahatnya kita di masa lalu, sebanyak apa pun dosa yang sudah kita lakukan, itu jangan dijadikan alasan untuk tetap hidup di dalam dosa serta keputusasaan, tidak sedikit orang yang karena mengira bahwa tidak ada lagi cara untuk memperbaiki hidup mereka yang rusak karena dosa, akhirnya memutuskan untuk semakin jahat dan semakin berdosa. “Terlanjur basah, ya mandi sekalian,” bunyi lirik seuntai lagu. Maksudnya karena sudah terlanjur berdosa, ya berbuat dosa saja selamanya.

    Saudaraku, jika jalan menuju kehidupan terbuka lebar di depan kita, mengapa harus memilih hidup dalam dosa yang akan berakhir dengan maut ? Yesus telah mati agar dosa-dosa kita dibersihkan, kita dikuduskan atau disucikan dan melayakkan kita di hadapan Allah. Marilah kita datang kepada-Nya, bawa beban dosa yang begitu memberati kita selama ini, mohon pengampunan-Nya dan biarkan Dia menyucikan kita dari segala dosa. Maksud Yesus mencurahkan darah-Nya dan membiarkan para serdadu Romawi menyesah Dia, menikam lambung-Nya adalah untuk menaggung hukuman atas dosa yang kita lakukan. Pengorbanan yang sempurna itu telah memperdamaikan kita dengan Allah sehingga kita layak memanggil-Nya “Bapa”.

Bagai Gelombang menyapu pasir pantai, demikianlah darah Yesus menyuciakan dosa.

Pikiran besar yang dibuat menjadi tindakan, akan membuat hal yang besar. –Hazlitt-

Monday, September 12, 2016

Interdenominasi

Apa itu interdenominasi ? Interdenominasi terdiri dari dua kata yaitu, inter yang artinya antar atau lintas dan denominasi yang artinya aliran sehingga dapat diartikan sebagai hubungan, kerjasama ( kolaborasi ), persekutuan di antara berbagai aliran di dalam kekristenan yang berkomitmen untuk sama-sama saling berdoa, beribadah, memuji Tuhan, mendengarkan Firman-Nya, bertumbuh dan menjadi dewasa bersama dalam pimpinan Roh Kudus. Interdenominasi juga sering kita kenal dengan istilah oikumene, Oikos/όικος, berarti rumah dan Mene/μενήιν,  berarti tinggal atau berdiam, dalam Ibrani 2 : 5 menunjukan pada Kerajaan Allah. Dan dapat diartikan sebagai tempat berbagai aliran di dalam kekristenan untuk bersatu padu dalam menyembah dan memuji Tuhan.

 Aliran-aliran besar dalam kekristenan

    Kita tahu bahwa pada saat ini ada begitu banyak denominasi gereja yang tersebar di seluruh dunia saat ini, dengan berbagai pengajarannya masing-masing, liturgi ibadah, tata cara ibadah dan lain sebagainya. David B. Barret : The World Christian Encyclopedia pernah menyatakan bahwa Tahun 2001: Sekitar 33.000 Denominasi & Sekte-sekte yang tersebar di dunia dan Tahun 2007: ada Sekitar 39.000 Denominasi & Sekte-sekte.

    Lalu bagaimana pelayanan mahasiswa dapat menentukan denominasi apa yang harus diambilnya dalam melakukan pelayanan di kampusnya dengan berbagai macam keragaman, berbagai macam gereja, berbagai macam denominasi yang ada ? Interdenominasi adalah Sifat (Ciri & Keunikan) Pelayanan Mahasiswa Kristen. Sifat atau ciri yang tidak mengambil salah satu dari denominasi yang ada namun membuat hubungan, kerjasama ( kolaborasi ), persekutuan di antara berbagai aliran di dalam kekristenan yang berkomitmen untuk sama-sama saling berdoa, beribadah, memuji Tuhan, mendengarkan Firman-Nya, bertumbuh dan menjadi dewasa bersama dalam pimpinan Roh Kudus.

    Lalu mengapa pelayanan mahasiswa Kristen mengambil interdenominasi sebagai sifat atau ciri dalam pelayannya ? ada tiga alasan yang mendasari interdenominasi sebagai ciri dari setiap pelayanan kampus di dunia :

1.    KEANGGOTAANNYA, terdiri dari denominasi gereja yang berbeda-beda.

2.    EKSISTENSINYA, sebagai tempat bertumbuh, merangkul, dan mencakup mahasiswa dari berbagai gereja dan aliran.

3.    RELASI DENGAN GEREJA, mengembalikan mahasiswa kepada gerejanya masing-masing.

     Pertanyaan berikutnya adalah apakah itu semua berdasarkan pemahaman Alkitab ? Mari kita temukan pemahaman-pehaman dasar yang terdapat di dalam Alkitab.

1.    Tuhan telah memberikan karunia yang berbeda-beda kepada para orang percaya. “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.” (1 Kor. 12:4).

2.    Tuhan memberikan berbagai bentuk pelayanan atau aliran (denominasi) yang berbeda dalam gereja Tuhan atau Lembaga Pelayanan. “Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.” (1 Kor. 12:5).

3.    Tuhan tidak pernah menciptakan gereja, lembaga, pelayanan untuk selalu sama, tetapi harus memiliki ciri khas tersendiri di dalam Kristus untuk saling melengkapi. “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibabtis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.” (1 Kor. 12:12-14).

4.    Keunikan tersebut bertujuan untuk memotivasi kita untuk saling memperhatikan, mengisi, dll. “Supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” (1 Kor. 12:25-26). 

5.    Karunia-karunia, keunikan di dalam gereja dan pelayanan harus tetap mempersatukan kita di dalam Kristus (Efesus 4:1-16).

    Dan mari kita lihat pendekatan Alkitab yang dilakukan Paulus seperti yang tertulis dalam 1 Kor. 9:19-23. Di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus Paulus menuliskan dan melakukan hal-hal yang bertujuan Ingin memenangkan sebanyak mungkin orang dan Ingin mencari yang hilang dan menyelamatkan yang binasa. Sehingga Paulus menyesuaikan diri untuk alasan-alasan keselamatan. Atau meyatakan motivasi Paulus untuk Penginjilan. Kemudian ia menyesuaikan diri “Bagi orang-orang Yahudi ia menjadi seperti orang Yahudi, bagi orang Yunani ia bertindak seperti orang Yunani, terhadap orang lemah ia bersifat seperti orang lemah.” Paulus ingin mengatakan bahwa kita harus Menghormati/menghargai dan menaruh perhatian pada perbedaan orang lain, berusaha mencari dan membentuk “jembatan-jembatan komunikasi” dengan orang lain, peka dan berempati terhadap harapan, keinginan, kebutuhan sesama. Paulus juga menjaga batas “DI BAWAH HUKUM KRISTUS” bahwa Firman Allah adalah wewenang tertinggi, meskipun bersikap luwes dan harus menyesuaikan diri terhadap perbedaan sesama, harus menguji segala sesuatu dengan Firman Allah.

    Sudaraku, akhirnya kita memahami bahwa denominasi atau perbedaan-perbedaan bukanlah sesuatu hal yang salah namun perbedaan adalah sebuah kekayaan yang kita miliki. Tidak peduli tata ibadah apa yang kita pakai, liturgi seperti apa yang kita gunakan, namun yang pasti adalah bahwa satu-satunya jalan keselamatan kita adalah melalui Tuhan Yesus Kristus yang semuanya didasari oleh Alkitab. Selamat berinterdenominasi.

Saturday, September 10, 2016

Menyendengkan Telinga Pada Suara Tuhan

Tak banyak orang Kristen yang mengetahui tentang Zerubabel, pada hal banyak hal yang dapat kita petik dari tokoh Alkitab ini. Siapakah Zerubabel ? Zerubabel adalah pribadi yang mau dipakai Allah untuk mendirikan Bait Allah yang kedua. Dari namanya, Zerubabel yang artinya “keturunan Babel” dapat disimpulkan bahwa Zerubabel adalah anak dari Sealtiel, masih keturunan Raja Daud ( 1 Tawarikh 3 : 16 – 19 ). Jadi Zerubabel bukanlah orang biasa, ia adalah seorang bangsawan Israel yang menjabat sebagai Gubernur Yehuda.

    Alkitab dan sejarah mencatat bahwa bangsa Israel dibuang + 70 tahun lamanya ke Babel. Pada masa pembuangan dan pasca pembuangan itu, kebanyakan dari bangsa Israel terutama mereka yang berdarah biru tidak mendengarkan, apalagi mengindahkan apa yang dikatakan Allah melalui nabi-nabi-Nya. Tetapi tidak demikian dengan Zerubabel, ia adalah seorang pejabat yang menyendengkan telinganya kepada seruan Allah. Itu terbukti ketika ia mendengarkan Allah yang berbicara kepadanya lewat nabi Hagai. “Pada tahun yang kedua zaman Raja Darius, dalam bulan yang keenam, pada hari pertama bulan itu, datanglah firman Tuhan dengan perantaraan nabi Hagai kepada Zerubabel bin Sealtiel …” ( Hagai 1 : 1 ). Zerubabel mendapat pesan bahwa Allah ingin agar dia pulang ke Yerusalem dan membangun Bait Allah yang kedua disana. Alkitab mencatat bahwa Zerubabel percaya penuh pada perintah itu dan segera bertindak mewujudkan apa yang Allah mau untuk dia kerjakan.

    Seorang pemimpin atau pejabat seharusnya menyadari bahwa Allah memberi mereka kesempatan memimpin adalah untuk melakukan kehendak Allah di atas bumi ini. Tetapi pada masa ini, jarang sekali para pemimpin atau pejabat yang menyendengkan telinganya untuk mengetahui apa yang Allah inginkan untuk dilakukannya. Kebanyakan dari mereka hanya melakukan apa yang dikehendaki dan mengutamakan dirinya sendiri.

    Marilah kita belajar untuk menyendengkan telinga kita kepada apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan, sebagaimana Zerubabel yang menyendengkan telinganya kepada kehendak Allah. Jika kita menyendengkan telinga kepada kehendak Allah maka kehendak-Nya menjadi nyata di bumi ini dan pastilah hal itu akan mnedatangkan kebaikan. Apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan ? Secara terbuka Allah sudah memberitahukan kehendak-Nya kepada kita melalui firman-Nya. Karena itu lakukan apa yang telah difirmankan-Nya.

    Mungkin secara khusus, Tuhan memberikan visi atau tugas khusus kepada kita. Mungkin secara khusus Tuhan berbicara lewat mimpi atau nubuatan agar kita melakukan sesuatu untuk mendatangkan hormat dan kemuliaan bagi nama-Nya. Karena itu, lakukanlah kehendak-Nya dengan sepenuh hati. Jadilah mitra kerja-Nya karena itu merupakan kesempatan bagi kita untuk membuktikan bahwa kita pun mengasihi Dia.

Genapi rancangan Allah di bumi dengan melakukan kehendak-Nya.


Siapa yang tidak siap hari ini, tidak siap esok hari. –Peribahasa Inggris-

Thursday, September 8, 2016

Yesus Menyucikan Bait Allah

12Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati 13dan berkata kepada mereka: “ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”
    14Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya. 15Tetapi ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat melihat mujizat-mujizat yang dibuat-Nya itu dan anak-anak yang berseru dalam Bait Allah: “Hosana bagi Anak Daud!” hati mereka sangat jengkel, 16lalu mereka berkata kepada-Nya: “Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini ?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?”
    17Lalu Ia meninggalkan mereka dan pergi ke luar kota ke Betania dan bermalam disitu. ( Matius 21 : 12 - 17 )


    Bila kita meneliti dan merenungkan bagian ini dengan baik, maka kita dapat melihat ada dua macam keramaian yang terjadi. Keramaian yang pertama adalah keramaian yang bak pasar, sekalipun itu ada dilingkungan Bait Allah. Karena banyak orang yang berjual beli dan juga ada penukar-penukar uang. Keramaian semacam ini ditentang oleh Yesus. Buktinya, Yesus mengusir semua pedagang yang ada disana, Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati. Dapat dikatakan Bait Allah yang tadinya terlihat dan terdengar bak pasar, kini mendadak menjadi tempat yang tenang dan mendatangkan kesan yang baik sebagai Bait Allah.

    Lalu apa yang terjadi kemudian ? Orang-orang buta, orang-orang timpang dan semua orang-orang yang memerlukan jamahan Tuhan berdatangan ke Bait Allah yang sudah tertib itu. Dan Yesus menyembuhkan mereka yang sakit sehingga timbullah kembali keramaian yang berbeda. Sorak-sorai dan teriakan anak-anak terdengar disana-sini,”Hosana bagi Anak Daud!” Kali ini yang terganggu dengan keramaian jenis ini bukan Tuhan Yesus, melainkan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Hati mereka sangat jengkel karena orang-orang mengelu-elukan Yesus.

    Suatu hari saya mengikuti kebaktian di salah satu gereja. Pada awalnya, suasananya memang menyenangkan karena lagu-lagu pujian yang dinaikkan sungguh mengagungkan nama Tuhan. Namun sayang sekali, ditengah-tengah keseriusan jemaat memuji Tuhan, pemimpin pujian mengajak jemaat untuk menyanyikan lagu yang menurut saya kurang tepat untuk dibawakan di kebaktian umum. Kalau di acara-acara seminar, lagu tersebut digunakan sebagai ‘ice breaking’ mungkin masih dapat diterima. Tetapi ditengah-tengah kebaktian yang serius, jemaat diminta untuk saling menggelitik, saling cubit pipi dan saling tusuk pinggang. Saya merasa tidak nyaman dengan semua perintah-perintah yang diberikan oleh pemimpin pujian tersebut. Rasa kekhususan di dalam menyembah segera berubah menjadi acara dagelan. Saya membayangkan, apakah mungkin Yesus yang juga hadir saat kita berbakti bersama-sama, juga ikut menggelitik, cubit-cubitan dan tusuk-tusukan ? sementara itu sang pemimpin pujian tertawa-tawa senang karena merasa acaranya berhasil membuat suasana menjadi heboh. Gejala seperti ini banyak menghinggapi kaum muda Kristen, pemimpin pujian berlomba-lomba untuk mencari sesuatu yang dapat membuat heboh.

    Alangkah indahnya jika di dalam kebaktian, kita hanya mengagungkan, membesarkan dan memberitakan Injil Tuhan. Jika nama Yesus yang ditinggikan di dalam kebaktian, pastilah apa yang terjadi dulu juga akan terjadi dalam kebaktian kita, yaitu kuasa Tuhan dinyatakan sehingga ‘seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.’ (Lukas 19 : 48 ).

Tinggikan Yesus maka Ia akan menurunkan kuasa-Nya.


A room without books is a body without soul. – Pepatah Latin -

Wednesday, September 7, 2016

Keadilan Allah Dalam Kemahakuasaan-Nya

20Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: “Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. 21Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya.” 22Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham measih tetap berdiri di hadapan TUHAN. 23 Abraham datang mendekat dan berkata: “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? 24Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? 25Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim seganap bumi tidak menghukum dengan adil?” 26TUHAN berfirman: “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.” 27Abraham menyahut: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu. 28Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?” Firman-Nya: “Aku tidak memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima disana.” 29Lagi Abraham melanjutkan perkataannya kepada-Nya: “Sekiranya empat puluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan berbuat demikian karena yang empat puluh itu.” 30Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata sekali lagi. Sekiranya tiga puluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan berbuat demikian, jika Kudapati tiga puluh di sana.” 31Katanya: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan. Sekiranya dua puluh didapati disana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang dua puluh itu.” 32Katanya; “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi seklai ini saja. Sekiranya sepuluh didapati disana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu.” ( Kejadian 18 : 20 – 32 ).

    “ Doa syafaat “bukanlah bahasa yang asing bagi kita, dalam ibadah-ibadah tak jarang kita mengikuti yang namanya doa syafaat dalam suatu ibadah.

    Ketika mengetahui apa yang terjadi kepada Sodom dan Gomora, Abraham sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa hidup mereka telah mendukakan Tuhan dan sudah pasti setiap pelanggaran akan menuai hukuman dari Tuhan. Pada saat itulah Abraham memberanikan diri dengan segala kerendahan hati menaikkan permohonan kapada Tuhan agar tidak menghancurkan semua penduduknya, melainkan berkenan menyelamatkan orang-orang yang hidup dengan benar, sekiranya ada. Saat itu tentu Abraham mengingat keponakannya terkasih, Lot dan keluarganya. Namum bukan hanya Lot saja tetapi juga orang-orang benar lainnya yang mungkin ada di kota itu. Tetapi rupanya Abraham sendiri tidak terlalu meyakini bahwa ada sejumlah lima puluh orang yang hidup benar di kota tersebut (seperti jumlah/angka yang pertama kali disebutkannya kepada Tuhan – ayat 24). Karena itu akhirnya jumlah/angka yang disebutkannya terus berkurang. Dibalik semua tawar – menawarnya dengan Tuhan, tersirat adanya kerinduan dan harapan yang besar agar Tuhan mengampuni dan menyelamatkan kota Sodom dan Gomora, setidaknya kepada orang-orang benar. Sebuah permintaan yang didasarkan pada pengenalan terhadap Allah yang adalah Hakim yang adil dan penuh kasih. Karena itu akhirnya Abraham menyerahkan seluruh permohonannya pada kuasa Tuhan dan ternyata Tuhan menyelamatkan Lot dan keluarganya dari hukuman.

    Dari firman ini kita bisa belajar untuk menjadi seorang seperti Abraham yang mau berdoa untuk keselamatan/persoalan orang lain. Bahkan doanya dinaikan dengan sungguh-sungguh, penuh kerendahan hati seakan persoalan itu adalah persoalan yang dihadapinya sendiri, bukan masalah orang lain. Jika kita cenderung berdoa asal-asalan, ala kadarnya untuk masalah orang lain, apalagi kita jarang mendoakan orang lain, marilah memulai lembaran baru dalam kehidupan doa kita, dengan rindu dan sungguh-sungguh bersyafaat untuk pergumulan orang lain. Karena disitulah terlihat salah satunya kasih sesama manusia. Dan kita pun bisa saling mendoakan. Sama seperti Kristus Yesus yang mendoakan orang-orang yang berdosa yang menyalibkan-Nya, serta murid-murid-Nya. Ia pun mengatakan bahwa jika kita berdoa sungguh-sungguh Tuhan akan memberi, seperti yang terdapat dalam Matius 7 : 7-11.  Keputusan dan jawaban Tuhan adalah yang terbaik karena pikiran-Nya tak bisa terselami manusia, oleh sebab itu marilah kita lebih lagi membangun relasi atau persekutuan dengan-Nya termasuk berdoa setiap waktu kepada-Nya.

    Doa-doa kita merefleksikan seberapa besar kasih dan kepedulian kita terhadap orang lain dan sekaligus menyatakan besarnya kesediaan kita menjadi saluran berkat Tuhan.

Tuesday, September 6, 2016

Pencuri Bonus

36Tetapi beberapa waktu kemudian berkatalah Paulus kepada Barnabas: “Baiklah kita kembali keapada saudara-saudara kita di setiap kota, dimana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat, bagaimana keadaan mereka.” 37Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus; 38tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. 39Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus. 40Tetapi Paulus memilih Silas, dan sesudah diserahkan oleh saudara-saudara itu kepada kasih karunia Tuhan 41berangkatlah ia mengelilingi Siria dan Kilkia sambil meneguhkan jemaat-jemaat di situ. ( Kisah Para Rasul 15 : 36 - 41 ).

    Mungkin tidak banyak orang yang dapat menyelami sikap Paulus ketika ia berselisih dengan Barnabas tentang Yohanes Markus. Mengapa Paulus begitu ngotot untuk tidak mengikut sertakan Yohanes Markus yang pernah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. Paulus adalah orang yang sangat konsekuen, ia tidak mau hidup ini diisi dengan gaya hidup yang seenaknya. Paulus menekankan kerjasama yang baik, dimana masing-masing orang dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi kemajuan kelompoknya, dan tidak mau mendapatkan enak dan untungnya saja. Mungkin konsep dan pemikiran Paulus ini akan menjadi jelas jika kita bawa masuk ke dalam dunia kerja kita.

    Ada seseorang yang sekarang ini sukses dengan pekerjaannya sebagai seorang kontraktor pernah menyampaikan kebijakannya di dalam memberikan penghargaan kepada para karyawannya. Ia mengatakan, “Saya akan memberika penghargaan dan kesejahteraan yang lebih besar kepada karyawan yang betul-betul mau bekerja sama dalam susah dan senang, khususnya mereka yang sudah berjuang bersama-sama sejak perusahaan ini masih kecil. Saya menghargai lebih kepada mereka yang setia sekali pun kami harus bersama-sama naik becak pada awal usaha ini. Kalau setianya baru sekarang setelah saya naik BMW, itu namanya hanya ikut menang saja.”

    Dan seseorang lain lagi pernah berkata, “Mereka yang tidak mau bekerja keras bersama-sama, sebenarnya adalah pencuri bonus teman-temannya.” Semua bingung dengan pernyataan itu, lalu ia menjelaskan lebih lanjut. “Kalau semuanya bekerja keras, pada akhir tahun kalian akan mendapatkan bonus. Tetapi jika ada satu atau beberapa orang di antara kalian malas, yang membuat pada akhir tahun target perusahaan tidak tercapai, dan karenanya tidak ada bonus akhir tahun, maka sebenarnya dia atau mereka yang malaslah pencurinya. Karyawan yang lain sudah bekerja dengan maksimal, mereka semua seharusnya sudah mengantongi bonus, tetapi karena kemalasan satu atau beberapa orang, bonus tersebut hilang.”

    Mungkin pada tahun ini, kita akan dan mungkin sudah atau sedang mengalami kekecewaan berat. Dari sekarang, dipikiran kita sudah terbayang bonus tahunan yang akan digunakan untuk membelikan keperluan akhir tahun, ingatlah, itu tergantung pada kita semua, tanpa kecuali. Sebagai karyawan perlu kerjasama yang kuat, komitmen sejak awal tahun hingga akhir tahun. Bila kita hanya bersemangat untuk mendapatkan bonus di akhir tahun, tanpa bekerja keras, kerjasama, maka bonus hanyalah suatu angan-angan saja.

    Kalau mau mendapatkan bonus tahunan, ingatlah Paulus! Ingatlah akan kerjasama dan bencilah sifat yang suka meninggalkan tanggung jawab seperti yang dilakukan Yohanes.

Ingat bonus, ingat kerja keras dan kerja sama dari Januari sampai Desember.

Tidak ada gunanya mengiklankan masalah-nasalah anda karena memang tidak ada harganya di pasaran. –Anonim-

Monday, September 5, 2016

Mengenakan Manusia Baru Yang Terus Menerus Diperbaharui Kristus

Setiap hari waktu terus berjalan, pagi berganti malam dan sebaliknya, hari demi hari berlalu, minggu demi minggu berlalu hingga tahun berganti tahun. Proses perubahan banyak terjadi dalam kehidupan kita baik dalam pertumbuhan fisik maupun dalam perkembangan zaman ini. Perubahan yang nyata dalam zaman saat ini adalah makin canggihnya teknologi, begitu banyaknya tercipta alat-alat modern yang semakin maju dan canggih. Semua itu tentu kita alami dan bisa kita rasakan jika kita semua punya proses pertumbuhan yang baik, namun bagaimana dengan pertumbuhan iman kita kepada Kristus ? Apakah sudah bertumbuh hari demi hari dengan bersekutu kepada Tuhan dan berbuah ? Atau sebaliknya tak ada pertumbuhan yang terjadi pada iman kita sehingga menjadi “kerdil” iman kita, karena tak pernah beribadah kepada Tuhan, berdoa ataupun mendengarkan Firman Tuhan dalam kehidupan kita.

    Dalam Kolose 3 : 1 – 11  Firman Tuhan mengingatkan kita sebagai orang Kristen yang imannya harus terus bertumbuh dalam hidupnya dan terus diperbaharui oleh Kristus, serta mampu untuk meninggalkan sifat-sifat buruk atau dosa-dosa kita. Bersama Kristus menuju kepada pribadi yang bertumbuh seturut kehendak Tuhan. Paulus dalam surat Kolose ini menuliskan sikap hidup yang harus dilakukan orang Kristen dengan mengatakan: “Pikirkanlah perkara yang diatas, bukan yang dibumi”. Maksudnya adalah haruslah lebih banyak kita pakai hidup kita bersekutu atau beribadah kepada Tuhan termasuk didalam tingkah laku sehari-hari.

    Paulus mengingatkan kita dalam Kolose 3 : 5 -9, dijelaskan “matikanlah dirimu dari segala duniawi”, maksudnya adalah mematikan yang jahat dari masa lalu yang tidak berkenan bagi Kristus, seperti percabulan dan kenajisan, hawa nafsu dan nafsu jahat, keserakahan yang disejajarkan dengan penyembahan berhala, membuang segala sifat atau karakter yang jahat. Paulus mendaftarkan hal-hal apa saja yang harus dibuang dari kehidupan jemaat di Kolose; antara lain: marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulut serta kata-kata dusta. Paulus pun mengenakan kata “manusia baru” (ayat 10), maksudnya manusia yang lama adalah manusia yang belum mengenal Yesus Kristus dan terus melakukan dosa, namun setelah dibabtis, maka semua menjadi berbeda, karena dalam babtisan, manusia lama sudah menjadi baru dalam Kristus yang sudah mengampuni dosa manusia dan menjadi suci kembali karena Kristus. Oleh sebab itu, setiap orang yang percaya kepada Tuhan haruslah menyatakan diri bahwa Yesus menjadi arahan hidupnya didalam hati dan pikirannya.

    Paulus pun menekankan didalam Tuhan tidak ada perbedaan, dengan mengungkit tidak ada perbedaan bangsa Yunani dan Yahudi, karena semuanya sama dimata Tuhan. Tuhan memandang dengan kasih tanpa memandang latar belakang suku, status ekonomi, umur, jenis kelamin, dan lain-lain. Semua adalah sama dihadapan-Nya, selama orang percaya telah dibabtis dalam nama Bapa, Anak dan Roh kudus. Maka mereka sudah menjadi warga kerajaan Allah atau umat Tuhan. Oleh sebab itu menciptakan tali kasih persaudaraan dalam Tuhan sangat penting karena Tuhan menginginkan itu ( Mazmur 133 : 1 – 3 ).

    Orang yang beriman haruslah terus bertumbuh dalam Tuhan, dan merasakan Tuhan terus memperbaharui kita agar mendapat pengetahuan yang benar menurut gambar Khalik-Nya ( ayat 11 ) melalui Firman-Nya. Kita semua haruslah bertumbuh dalam Tuhan, agar hidup yang dianugerahkan pada kita hingga saat ini bisa kita pakai untuk menjadi berkat bagi sesama dan bisa berbuah yang bisa dirasakan, seperti buah-buah Roh yang terdapat didalam surat Galatia 5 : 22 – 23: “Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri…”. Semoga Tuhan selalu menguatkan kita untuk terus berkarya dan memuji serta memuliakan-Nya dalam kehidupan, pekerjaan dan tanggung jawab yang disampaikan Tuhan di dunia ini kepada kita masing-masing, sehingga nama Tuhan dipuji karena keberadaan kita.

Sunday, September 4, 2016

Tujukanlah Hatimu ke Jalan yang Benar

Kalau ditanya kepada kita, dimanakah tempat sesungguhnya seseorang itu mendapatkan pelajaran mengenai kehidupan ini ? jawabannya adalah keluarga. Keluarga sebagai sebuah komponen masyarakat yang paling sederhana dapat kita katakan sebagai tempat untuk berlangsungnya proses pertumbuhan. Ada begitu banyak hal terutama teladan yang bisa diperoleh seseorang di dalam kehidupan keluarga. Terlepas dari teladan yang baik atau contoh sikap yang buruk tapi yang pasti keluarga itu merupakan tempat belajar yang pertama sejak kita hadir di dunia ini.

    Saudaraku, mari kita melihat bagaimana pentingnya proses pertumbuhan seorang anak dalam keluarga melalui setiap nasehat dan teladan yang baik dari orang tua agar menuju jalan yang benar. Nasehat akan menghasilkan sesuatu yang baik ketika nasehat tersebut dijadikan sebagai sebuah landasan atau pedoman dalam menjalani kehidupan. Akan tetapi, nasehat juga bisa menjadi sia-sia ketika itu hanya dijadikan sebagai sesuatu yang tidak berguna atau hanya sebagai rangkaian kata-kata manis belaka yang tidak mempunyai tujuan.

    Melakukan Firman Tuhan tidak hanya melakukan kegiatan-kegiatan penginjilan atau berkhotbah semata. Ada hal yang jauh lebih penting sama seperti yang diungkapkan Salomo, membuktikan bahwa menjadi pengikut Tuhan terlihat dari kecintaan kita kepada keluarga. Salomo juga menegaskan bahwa ketaatan kepada Tuhan terlihat dari kepatuhan kepada orang tua.

    Mencermati perilaku manusia yang hidup saat ini, kita bisa memastikan bahwa waktu untuk keluarga sudah semakin berkurang. Kesibukan di tempat bekerja atau kesulitan hidup seringkali menjadi alasan untuk membenarkan alasan untuk mengabaikan keluarga. Miris memang jika membaca media massa atau melihat tayangan televisi yang menggambarkan kehidupan yang semakin bebas dan tidak terkendali tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa.

    Saudaraku, ini kesempatan yang baik melalui Firman Tuhan untuk kembali melihat ada begitu banyak hal-hal kecil yang sebenarnya sering kita lupakan. Sebagai orang tua, kita sering melupakan bahwa kebiasaan-kebiasaan kita dirumah secara tidak sadar terinternalisasi ke dalam diri anak-anak yang Tuhan anugerahkan. Sebagai seorang anak, seringkali merasa bahwa apa yang disampaikan oleh orangtua sebagai sesuatu yang membosankan dan tidak berguna. Inilah contoh sederhana yang membaut kita tidak mampu melihat kasih Allah ditengah-tengah kehidupan keluarga kita.

    Dengan tetap memelihara setiap nasehat-nasehat baik yang kita peroleh dalam kehidupan ini akan memampukan kita melihat mana yang lebih baik untuk kita pilih dan jalani di dalam kehidupan ini. Kemampuan ini akan semakin teruji dan terasah saat kita menghadapi masalah-masalah kehidupan. Oleh karena itu, sebagai sebuah kesaksian kita sebagai pengikut Kristus dan sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Tuhan yang memberkati kehidupan ini maka sudah sepantasnya kita tetap mengarahkan hati kepada setiap perintah Tuhan. Selamat memelihara nasehat dengan menjaga hati dan pikiran serta menyelaraskan ucapan dengan perbuatan iman percaya kita kepada Yesus Kristus.

Saturday, September 3, 2016

Who Am I

Jika kita bertanya kepada seorang polisi, “Siapakah anda ?” maka dia akan menjawab “Saya adalah seorang polisi”, atau jika kita bertanya kepada seorang dokter, maka jawaban yang sama akan keluar dari mulutnya “saya adalah seorang dokter” begitu juga dengan yang lainnya. Kita percaya bahwa jika seseorang tahu siapa dirinya atau jika seseorang tahu siapa identitasnya maka dia juga akan tahu apa yang harus dilakukannya. Masakan seorang polisi tidak tahu apa yang harus dilakukannya ? Masakan seorang chef tidak tahu apa yang harus dilakukannya di dapur ? Namun mari kita melihat lebih dalam lagi tentang siapakah diri kita yang sebenarnya, apakah hanya seorang astronot ? seorang pengacara ? seorang guru ? dan lain sebagainya. Kita yakin dan percaya bahwa kita semua lebih dari pada semua jabatan atau semua profesi itu bahwa kita semua adalah anak-anak Allah yang telah ditebus dengan darah yang mahal dan telah dibayar lunas.

    Namun kebanyakan orang-orang Kristen tidak menyadari akan identitasnya yang sesungguhnya, sehingga kebanyakan kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan di dalam kehidupan ini. Dalam bukunya John Stott menuliskan sebuah pertanyaan yang membuat banyak orang Kristen bingung untuk menjawab pertanyaan itu, pertanyaannya adalah : Apa tujuan Allah bagi umat-Nya ? Memang benar, kita telah dipertobatkan, namun apa selanjutnya ? Kita semua tahu tentang pernyataan terkenal dari Katekismus singkat Westminster, bahwa “Tujuan akhir manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati-Nya selamanya” kita juga fasih dengan pernyataan singkat yang hanya terdiri dari empat kata seperti “kasihi Allah, kasihi sesamamu.” Namun jika kita menggali lebih dalam maka semuanya itu dapat kita simpulkan bahwa “Allah ingin umat-Nya ( kita sebagai orang-orang percaya ) menjadi serupa dengan Kristus, sebab keserupaan dengan Kristus adalah kehendak Allah bagi umat-Nya.” ( lih. Roma 8 : 29; 2 Korintus 3 : 18; 1 Yohanes 3 : 2; Filipi 3 : 10 )

    Saudaraku, hidup kita bukanlah milik kita lagi, hidup kita adalah milik Allah yang telah menciptakan kita dan yang telah menebus kita dengan harga yang mahal, maka sadarilah akan hal itu, sehingga hidup kita dapat melakukan hal-hal yang dikehendaki oleh Allah yang mempunyai hidup kita ini. Jangan seorang pun berkata bahwa hidup ini adalah milik kita sendiri, milik kita seutuhnya, kita dapat melakukan berbagai hal yang kita ingini. Sama halnya dengan seorang polisi yang mengetahui akan identitasnya menjadi seorang polisi, maka dia pun akan bertindak sebagai seorang polisi, berperilaku sebagai seorang polisi dan hidup sebagai seorang polisi. Maka begitulah seharusnya hidup kita sebagai anak-anak Allah yang telah diberikan misi oleh Allah sendiri untuk menjadi serupa dengan Dia di dalam setiap aspek kehidupan kita, meninggalkan manusia lama kita dan menghidupi manusia baru kita, mengerjakan keselamtan yang telah di anugerahkan-Nya kepada kita dengan cuma-cuma sehingga melalui hidup kita nama Tuhan dapat dipermuliakan.

    Mari kenali diri kita, syukuri akan identitas baru yang kita terima dari Allah, hidupi keselamatan itu dan tinggalkan manusia lamamu. Akhirnya kita tahu dan mengerti bahwa hidup ini bukanlah milik kita sendiri maka jagalah tubuhmu dengan baik sama seperti apa yang dikatakan Paulus kepada jemaat di Korintus bahwa tubuhmu adalah bait Roh kudus yang diam di dalam kamu, Roh kudus yang kamu peroleh dari Allah maka jangan rusak bait Roh kudus Allah itu dengan rokok, minuman keras, narkoba dan lain sebagainya yang bisa merusak tubuhmu. Jauhkan diri kita dari percabulan, kata-kata kotor, dusta, marah, kepahitan kegeraman, fitnah dan kejahatan tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu ( Effesus 4 : 32 )

I AM THE SON OF GOD

Friday, September 2, 2016

Jangan Takut Akulah Perisaimu

1Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.” 2Abram menjawab: “ Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.” 3Lagi kata Abram: “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.” 4Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: “Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.” 5Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” 6Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepdanya sebagai kebenaran. ( Kejadian 15 : 1 – 6 ).

    Tokoh Abraham dalam sejarah Alkitab menempati posisi yang unik karena Abrahamlah maka dimulai satu sejarah baru bagi umat manusia yang mengenal Tuhan. Abraham dipanggil Tuhan untuk keluar dari tanah kelahirannya dan disuruh pergi ke suatu tempat yang sama sekali dia tidak tahu, hanya dengan perkataan ke negeri yang akan Kutunjukan kepadamu dengan janji Tuhan “ Aku akan memberkati engkau menjadi bangsa yang besar “. Menjadi bangsa yang besar itu berarti menjadi satu kelompok masyarakat yang berdiam dalam satu daerah yang mempunyai tanah dan wilayah, sebab dia sudah disuruh keluar meninggalkan tanah kelahirannya. Sepanjang  perjalanan hidupnya Abraham termasuk orang yang berpindah-pindah tempat, artinya kehidupan berjalan dari tanah kelahiran menuju tempat yang dijanjikan, kemudian ke Mesir, kembali lagi ke tanah yang dijanjikan. Kalaupun dia tinggal dalam satu daerah posisinya hanya sebagai pendatang, musafir, paisolat.

    Dalam permenungan dan pergumulan Abraham tentang janji Tuhan yang akan membuatnya menjadi bangsa besar dia gelisah, bagaimana mungkin Tuhan tidak menepati janji-Nya ? Bagaimana mungkin Abraham menjadi bangsa besar sementara dia sendiri tidak mempunyai keturunan yang akan meneruskan generasinya untuk mewarisi haknya ? Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan, pergumulan dan kegelisahan silih berganti, sementara usia sudah semakin tua, kesempatan untuk mempunyai keturunan sudah tidak memungkinkan karena factor umur yang sudah lansia. Dalam kegelisahan dan pergumulan yang sangat dalam yang sedang dialami oleh Abraham, Tuhan memberi jawaban, sebab Tuhan tidak pernah ingkar janji, Tuhan selalu menepati janji-Nya walau kadang tidak seperti yang kita harapkan. Tuhan sedang merenda kehidupan Abraham, dan rencana Tuhan tidak akan pernah gagal. Memang pada satu sisi dituntut suatu kesabaran yang luar biasa dari Abraham, karena rencana Tuhan berbeda dari rencana manusia. Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu dan jalan-Ku bukanlah jalanmu demikianlah firman Tuhan. Karena pada hakekatnya manusia yang harus mengerti rancangan dan rencana Tuhan bukan sebaliknya, sebab yang sering terjadi justru rencana dan rancangan manusia ingin dipaksakan untuk dipenuhi Tuhan.

    Tuhan mengajak Abraham keluar serta melihat bintang dilangit, itu artinya Tuhan ingin membuka hati dan pikiran Abraham supaya jangan terkurung dengan pergumulan dan kegelisahannya, Tuhan mengajak Abraham untuk melihat seluruh rancangan Tuhan melalui alam semesta, cakrawala, gugusan bintang, seluruh makhluk ciptaan. Kalau Tuhan dapat mengatur dan menata seluruh alam semesta ini menjadi sedemikian indah dan mempesona, masakan hanya untuk meneruskan generasi, atau hanya memberi anak untuk Abraham tidak mampu. Usia atau umur tidak menjadi masalah bagi Tuhan, keterbatasan manusia tidak menjadi hambatan untuk Tuhan untuk memakai manusia menjadi alat rancangan-Nya. Oleh karena itu jangan terjebak dengan pikiran yang mengandalkan kemampuan diri sendiri, jangan terkurung dalam pemikiran sempit, Tuhan akan berkata “Jangan takut Akulah perisaimu”. Apapun pergumulan, apapun kegelisahan, seberat apapun persoalan, segelap apapun penglihatan, Tuhan akan berkata “Jangan takut Akulah perisaimu:”. Percayalah Tuhan akan membuat segalanya menjadi mudah dan indah.

Thursday, September 1, 2016

Tuhan Menepati Janji-Nya

Pada masa penantian sebelum peringatan hari kelahiran Tuhan Yesus, gereja melaksanakan empat kali perayaan Advent. Walaupun gereja melaksanakan Advent sebagai minggu persiapan ke perayaan natal ( kedatangan Yesus yang pertama ) tetapi hal ini juga mengingatkan dan mempersiapkan hati kita dalam menanti kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya.

    Permulaan nubuatan nabi Yeremia mulai bernubuat di Yehuda lebih kurang 40 tahun ( 626 – 586 SM ). Dimana Yeremia turut menubuatkan hukuman Tuhan terhadap bangsa Yehuda. Hukuman itu diberikan sebagai ganjaran atas ketidak setiaan mereka kepada Tuhan. Yeremia juga melihat kejatuhan Yerusalem dan hancurnya Bait Suci. Yeremia seorang nabi yang berani menyatakan kebenaran dan tidak segan-segan mengingatkan pemimpin dan raja yang tidak benar dalam menggembalakan bangsa Israel. Untuk itu Yeremia menyampaikan peringatan yang keras kepada pemimpin atau raja Israel. Tetapi juga Yeremia menyampaikan penghiburan dari Tuhan untuk bangsa Israel bahwa akan datang Gembala yang baik, yang benar dan adil yang akan memimpin bangsa Israel. Dalam Kitab Yeremia 33 : 14 tertulis “ Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman Tuhan, bahwa Aku akan menepati janji yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda.”  Menegaskan bahwa Tuhan menepati janji-Nya, perkataan ini mengungkapkan bahwa akan ada satu hari dimana Tuhan akan menepati janji-Nya. Dimana umat Tuhan akan kembali ke Yerusalem dari pembuangan di Babel “ Sebab beginilah firman Tuhan: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini.” ( Yeremia 29 : 10 ). Tuhan sendiri yang akan menyatakan kebenaran janji itu. Bahwa mereka tidak terus tinggal diam dalam perbudakan. Janji itu pasti digenapi. Janji itu pasti dilaksanakan. Firman Tuhan ya dan amin. Itulah yang menghibur mereka bahwa akan ada waktu atau hari dimana bangsa itu akan bersuka cita, bersorak-soarai, bebas, merdeka dan lepas dari perbudakan. Tuhan akan memulihkan mereka dan menyelamatkan umat-Nya.

    Tuhan juga menumbuhkan tunas keadilan pada waktu itu atau waktu yang ditetapkan Tuhan, akan tumbuh tunas keadilan bagi Daud. Setelah Zedekia, bangsa Israel terbuang ke Babel. Berakhirlah pemerintahan keturunan Daud. Tetapi Tuhan yang membawa keadilan bagi bangsa itu dan menentukan tunas keadilan, yaitu Yesus Kristus. Dialah Gembala yang baik, yang akan menyatukan umat Tuhan yang terbuang dan terserak tersebut. Dia akan memerintah dengan kebenaran dan keadilan. Tunas keadilan tersebut tidak sama dengan pemimpin dan raja yang memerintah selama ini. Mereka kerap mementingkan diri sendiri, menindas yang lemah dan tidak menegakkan keadilan. Tunas keadilan akan menyatakan keadilan dan kebenaran di seluruh negeri untuk memberi kehidupan yang lebih baik. Bahwa kebenaran dan keadilan itu benar-benar ditegakkan bukan asal bapak senang seperti yang sering sekali terlihat di tengah-tengah pemerintahan dunia ini.

    Saudaraku, dalam hidup kita Tuhan selalu memperbaharui diri kita hari lepas hari. Kehadiran tunas keadilan ditengah-tengah umat Tuhan membawa perubahan yang besar. Mereka akan dibebaskan dan akan hidup dengan tentram. Hal ini menunjukan bahwa Mesias itu benar-benar bertindak memberikan harapan yang baru dan memperbaharui mereka dengan keselamatan dan kebebasan. Tuhan sendiri yang bertindak dalam memperbaharui. Kehadiran Mesias ini digenapi melalui kedatangan Yesus ke dunia ini. Di dalam Yesus, kita mengalami hidup yang dibaharui. Dosa kita diampuni dan hubungan kita dengan Allah dipulihkan. Hal ini memberi kekuatan kepada kita untuk hidup seturut kehendak Tuhan.

    Kita diingatkan kembali betapa besar kasih dan kemurahan Tuhan dalam hidup kita. Meskipun kita kerap berjanji setia kepada-Nya dan mengingkarinya, namun Tuhan tetap setia. Ia tetap menepati janji-Nya untuk menyertai kita. Keadilan yang dinyatakan dalam diri Yesus, memberikan semangat yang baru dan kerinduan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi kesaksian bagi orang lain.

Wednesday, August 31, 2016

Memilih Dan Memutuskan Yang Benar

Dalam pengajaran kepada murid-murid-Nya, Yesus sering mengungkapkan pernyataan-pernyataan yang mengejutkan, menyangkut siapakah Yesus ?, Bagaimana mengikut Yesus ?, serta apa maksud dan tujuan kedatangan Yesus ?. kata-kata Yesus sering membingungkan para murid dan orang banyak. Sebab pengajaran dan pernyataan Yesus berbeda dengan guru-guru yang berkembang pada zaman itu. Walau sebenarnya secara umum perkataan dan pengajaran Yesus tidak bertentangan dengan apa yang sudah dikenal oleh orang banyak pada saat itu, namun ada beberapa hal yang justru kadang menjungkirbalikan pemahaman orang Yahudi sebagaimana telah diwarisi dari zaman sejarah para leluhur. Salah satu dari pernyataan Yesus yang mengejutkan adalah seperti yang terdapat di dalam Injil Lukas 12.

    Yesus memberikan kepada murid suatu pandangan mengenai puncak dari misi-Nya dalam kedatangan Anak Manusia pada waktu penghakiman. Yesus mendapat tugas untuk menyalakan api di bumi. Penghakiman terjadi saat orang menentukan memilih atau menolak Dia. Api sebagai lambang penyucian, yang artinya kedatangan Yesus akan membawa suatu masa dimana bumi akan dihakimi, manusia akan berhadapan dengan penghakiman Tuhan, dengan api Dia akan menyucikan segalanya, oleh sebab itu akan terpisah apa yang murni dan apa yang palsu. Karena tindakan penyucian ini dimana seseorang harus mengambil sikap mengikut atau menolak ini akan membawa dampak yang luar biasa kepada setiap orang, karena kebenaran dia harus berhadapan dengan keluarganya, saudaranya, bapak dan ibunya. Itulah sebabnya Yesus mengatakan akan membawa pertentangan. Pertentangan yang dimaksud Yesus adalah pertentangan karena kebenaran. Kamu harus memilih ikut Yesus walau harus berlawanan dengan keluarga demi kebenaran dan keadilan atau membiarkan segalanya status quo asalkan aman dengan keluarga.

    Sebenarnya Yesus hanya mengingatkan serta mempertajam, karena pada dasarnya Firman Tuhan selalu terkait dengan berkat dan kutuk. Ketika Firman Tuhan diimani atau diyakini akan menjadi berkat, tetapi ketika Firman Tuhan ditolak disana akan terjadi hukuman, itulah yang disebut Yesus kamu mengerti tanda –tanda alam, kapan hujan datang dan kapan terik akan terjadi, tetapi kenapa kamu tidak mengerti kehendak Tuhan ?. Dan inilah yang disebut oleh Rasul Paulus dalam Roma 12 : 2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”.

Tuesday, August 30, 2016

Pengakuan Dosa Menghasilkan Pengampunan

Kita tahu bersama bahwa di dalam kitab 2 Samuel 12 : 1 – 16 kita bisa melihat dan mendapati peristiwa ketika Nabi Natan memperingati Daud tentang perzinahan yang dilakukannya dengan Batsyeba. Ada ungkapan mengatakan : “Untuk menutupi satu kebohongan maka kita akan membuat kebohongan-kebohongan lainnya”. Demikian juga halnya dengan dosa ketika kita berbuat satu dosa maka dosa-dosa yang lain akan beruntun mencobai kita sehingga dosa kita semakin banyak. Demikian halnya dengan Daud yang dalam kepemimpinannya sebagai raja seharusnya dia ikut berperang, tetapi dia tinggal di istana sehingga dia jatuh ke dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba. Ketika Batsyeba hamil maka Daud menyusun strategi untuk melenyapkan Uria suami Batsyeba dengan cara rekayasa pertempuran. Akhirnya Daud bebas mengambil Batsyeba sebagai isterinya.

    Tetapi sepintar-pintarnya Daud menyembunyikan dosanya, dimata Tuhan itu jelas dan Tuhan akan menghukum karena dosa kejahatan yang dilakukannya ditempat tersembunyi yang akan dibuka Tuhan ditempat yang terang. Inilah yang disampaikan oleh Nabi Natan kepada Daud dengan cara membuat satu cerita dan Daud tertarik dengan cerita tersebut dan ikut menentukan hukuman bagi pelaku yang diceritakan oleh Nabi Natan. Dan ketika Natan mengatakan bahwa pelaku dalam cerita itu adalah Daud yang merampas Batsyeba dari Uria, maka Daud menerima hukuman yang harus diterimanya dan dia memohon ampun kepada Tuhan dengan berpuasa sehingga Tuhan mengampuninya. Walaupun Tuhan telah mengampuni dosa Daud tetapi hukuman tetap harus berjalan yaitu dengan kematian anak yang dikandung oleh Batsyeba dan pedang yang tidak akan menyingkir dari keturunannya.

    Dari bagian ini kita diingatkan kembali bahwa :

1.    Di hadapan Tuhan tidak ada yang tersembunyi dan Tuhan akan menghukum setiap pelanggaran dan dosa yang kita lakukan.

2.    Marilah kita mengakui dosa-dosa kita di hadapan Tuhan sehingga kita memperoleh anugerah pengampunan.

3.    Adalah tugas kita untuk mengingatkan saudara kita supaya jangan hidup dalam dosa.

4.    Yesus Kristus adalah korban untuk penghapusan dosa kita, oleh karena itu terimalah Yesus Kristus sebagai Juruselamatmu dan jagnan lagi berbuat dosa.

Sunday, August 28, 2016

Suci dan Tak Bercacat Menjelang Hari Kristus

Surat Filipi kadang disebut sebagai surat sukacita karena dalam surat yang terdiri dari 4 pasal itu ditemukan istilah “sukacita” sebanyak 13 kali. Rasul Paulus mengajak pembaca dan warga jemaat agar bersukacita di dalam Tuhan, bahkan dalam menyongsong kedatangan-Nya yang sudah mendekat. “ Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! “ ( Filipi 4 : 4-5 ). Rasul Paulus menuliskan dan mengirim surat ini ketika dia berada di penjara dan dipenjarakan karena Injil Kristus, namun menghimbau jemaat agar senantiasa bersukacita. Mengapa ? sebab yang pertama adalah bahwa Injil Yesus Kristus tak akan pernah dapat dipenjarakan oleh kekuatan apa pun, tetapi selalu mendapat tempat, pun di dalam penjara, yang kedua karena penantian penjang mengenai Mesias, Sang Juruselamat, sudah digenapi dalam peristiwa Yesus Kristus yang kepada-Nya kelak segalanya bertekuk lutut dan segenap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. “ Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! “. ( Filipi 2 :10-11 ).

    Secara khusus surat Paulus kepada jemaat di Filipi ini menegaskan bahwa bersama Rasul Paulus agar umat mengucap syukur kepada Allah karena persekutuan di dalam berita Injil dan berdoa dengan sukacita. Karena apa ? karena Allah telah memulai pekerjaan yang baik di antara jemaat dan akan meneruskannya sampai pada akhirnya, yaitu pada hari kedatangan Kristus Yesus. “ Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya , yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” ( Filipi 1 :5-6 ). Rasul Paulus bersaksi bahwa ia mendapat kasih karunia baik ketika dipenjarakan maupun pada waktu membela dan meneguhkan pekabaran Injil. Dan Rasul Paulus berdoa, kiranya belas kasih warga jemaat suci dan tak bercacat menjelang hari kedatangan Kristus kelak. “ Sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus “. ( Filipi 1 : 10 ). Dalam hal ini, suci berarti tidak larut dalam dosa, memiliki cara hidup baru yang berpadanan dengan hukum Tuhan, tak bercacat berarti melakukan kehendak Tuhan dan tidak mendukakan hati Tuhan serta sungguh-sungguh berusaha hidup semakin baik, benar, adil dan damai dengan sesama.

Rahasia Warisan Yang Kekal

Kematian anak tunggalnya yang cerdas dan tampan telah menyebabkan ia terkena serangan jantung. Seminggu setelah kena serangan jantung itu akhirnya ia meninggal dunia. Dia meninggalkan dua surat wasiat untuk dibacakan pengacara keluarganya. Di surat wasiat yang pertama ia meminta agar barang-barang antik miliknya dilelang dan barang pertama yang harus terjual di pelelangan tersebut adalah lukisan cat minyak, yang tak lain adalah lukisan wajah putra tersayangnya. Jika lukisan itu sudah terjual barulah surat wasiat yang kedua dapat di buka dan dibacakan di depan para tamu. Ketika hari pelelangan tiba, banyak orang yang datang dengan harapan dapat membeli salah satu barang antik milik almarhum konglomerat itu. Sesuai surat wasiat yang pertama, sang pengacara meminta juru lelang untuk menjual lukisan cat minyak yang dimaksud. Setelah juru lelang sekian lama berkoar-koar, tak seorang tamu pun yang berminat untuk menawar lukisan cat munyak tersebut. Suasana terasa membosankan, namun tiba-tiba seorang pria berkulit hitam mengangkat tangannya sebagai tanda bahwa ia berminat membeli lukisan cat minyak tersebut. Akhirnya lukisan cat minyak tersebut terjual dengan harga $75 kepada pria yang tak lain adalah pelayan yang selalu melayani almarhum anak konglomerat itu. Setelah lukisan cat minyak itu terjual, maka sang pengacara membacakan surat wasiat kedua yang mengatakan bahwa siapa yang membeli lukisan cat minyak itu berhak memiliki semua kekayaan dan barang-barang antik lainnya secara cuma-cuma. Tindakan membeli lukisan cat minyak itu merupakan bukti bahwa si pelayan sungguh mengashi anak majikannya, sehingga ia merelakan uangnya sebsar $75 untuk membeli lukisan cat minyak tersebut. Jalan untuk mendapatkan warisan dan barang antik konglomerat tersebut adalah dengan mengasihi anaknya yang tunggal.

    Untuk mendapatkan harta yang paling berharga di sepanjang masa, yaitu kehidupan yang kekal, maka kita harus menerima dan mengasihi Yesus, Anak Allah yang tunggal ( Yohanes 3 : 16 ). Bapa mempunyai begitu banyak harta warisan kekal yang disediakan-Nya bagi setiap orang yang diangkat menjadi anak-Nya, oleh iman di dalam Yesus Kristus. “ Tetapi semua orang yang percaya menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” ( Yohanes 1 : 12 ). Sesungguhnya saat lidah kita mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, maka dihadapan Allah, Yesus mengakui kita sebagai anak yang diadopsi-Nya. Kita harus percaya bahwa hanya oleh kematian Yesus kita diperdamaikan dengan Allah dan dilayakkan untuk memanggil Allah. “ Ya Abba, ya Bapa! “

    Maukah anda menerima warisan yang kekal secara cuma-cuma ? datanglah kepada Yesus dan nyatakan dengan sungguh-sungguh bahwa kita menerima dan menjadikan Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi.

Yesus menjadi jaminan bagi kita untuk menikmati indahnya hidup di Sorga.

Kemenangan di dalam hidup tidak selalu menuju pada orang yang lebih kuat atau lebih cepat, tapi cepat atau lambat, orang yang menang adalah orang yang berpikir bahwa ia bisa. ( Anonim ).



   

Saturday, August 27, 2016

Memaknai Kasih Setia dan Keadilan Tuhan

5Kejahatan dirancangkannya di tempat tidurnya, ia menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik; apa yang jahat tidak ditolaknya. 6Ya Tuhan, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan. 7Keadilan-Mu adalah seperti gunung-gunung Allah, hukum-Mu bagaikan samudera raya yang hebat. Manusia dan hewan Kauselamatkan, ya Tuhan. 8Betapa berharganya kasih setia-Mu ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu. 9Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu. 10Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang. ( Mazmur 36 : 5 – 10 ).

    Saudaraku renungan kali ini mengajak kita agar semakin memahami, menghayati dan memaknai belas kasih ( kasih setia ) dan keadilan Tuhan, justru di tengah dunia kita masa kini yang dilanda penderitaan, ketidak adilan, kekerasan ( radikalisme, sektarianisme ) dan mengenai kasih setia dan keadilan Tuhan, Alkitab menginformasikan bahwa kasih setia ( Ibr.:khesed ) atau disebut juga belas kasih atau kemurahan hati dari Allah dihubung-hubungkan dengan janji dan kesetiaan dari Allah. Alkitab mengungkap bahwa kasih Tuhan sampai ke langit dan setia-Nya sampai ke awan; keadilan-Nya seperti gunung-gunung Allah dan hukum-Nya bagaikan samudera raya yang hebat ( ayat 6-7 ). Allah yang mengadakan janji ( perjanjian ) adalah setia menepati dan menggenapi demi kebaikan dan keselamatan umat-Nya. Tanda perjanjian Allah atau tanda dari Allah yang mengadakan perjanjian dengan manusia adalah Hukum-Nya yaitu Firman-Nya atau Titah-Nya. Firman-Nya telah digenapi di dalam nama dan peristiwa Yesus Kristus. Dan karena itu, Allah adalah adil ( Ibr.: caddiq ) karena setia pada janji-Nya dan telah menggenapinya. Dan pada akhirnya, keadilan Allah dihubungkan erat dengan peristiwa Yesus Kristus sebagai kegenapan janji ( nubuatan ) dan menjadi pusat kabar gembira ( Injil ) yang berisi pengampunan dosa, pengharapan dan keselamatan bagi umat yang percaya dan dunia.

    Saudaraku, Mazmur pasal 36 ini berisi suatu doa seseorang yang merasa terancam dan diancam oleh orang jahat yang mengepung orang benar ( pada ayat 13 ), namun kemudian pemazmur mendapat belas kasih ( kasih setia ) dan keadilan Tuhan. Pemazmur melukiskan orang jahat dalam kesombongan yang tuna moral, yaitu : dosa bertutur di lubuk hati; tidak takut kepada Allah; perkataannya penuh tipu; merancang kejahatan dan setuju dengan kejahatan serta tidak menolaknya ( ayat 2-5 ). Padahal membenci dosa dan kejahatan adalah ciri hakiki dari sifat Allah ( Mazmur 45 : 8; Amsal 6 : 16; Yeremia 44 : 4; Habakuk 1 : 13 ). Pemazmur dalam pasal 36 ini sebagai orang percaya yang terancam karena kejahatan; dan kemudian berharap dan datang kepada Allah supaya menyatakan belas kasih dan keadilan-Nya dan juga memohon agar Tuhan melanjutkan kasih setia dan keadilan-Nya bagi orang percaya dan tulus hati, tetapi menghukum orang jahat sampai jatuh ( pada ayat 11 – 13 ). Dan inilah juga doa kita masa kini dalam konteks masyarakat dan bangsa Indonesia agar Tuhan menolong, berbelas kasih dan menyatakan keadilan-Nya dalam kehidupan social, politik dan ekonomi. Karena itu nas renungan ini hendak memastikan bahwa betapa Tuhan dekat untuk melindungi dan memelihara orang-orang percaya dan berharap pada-Nya: “… betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu. Kemudian dikatakan bahwa: “… mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu. Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang ( ayat 8 – 10 ). Anak-anak Allah yang percaya menjadi kenyang dengan “ lemak “ yaitu Sabda ( Firman ) di rumah-Mu dan memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Nya. Bandingkan kaitannya dengan perihal Yesus yang menyatakan kuasa dan kasih-Nya yang mengubah air menjadi anggur yang baik dalam pesta perkawinan di kota Kana dan memberi mereka minum dari sungai belas kasih dan keadilan-Nya ( Yohanes 2 : 1 – 11 ). Pokoknya, Tuhan itu pasti menyatakan belas kasih dan keadilan-nya seturut waktu-Nya.

Friday, August 26, 2016

Berpeganglah Teguh Pada Pengakuan Iman

Saudaraku, beranggapan bahwa Alkitab itu hanya berisi sejarah masa lalu atau etika, moral maupun tentang masa yang akan datang  maka akan merasa keliru dan bahkan salah. Firman Tuhan dapat kita saksikan lebih dari itu, bahwa setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah itu hidup dan kuat. Artinya Firman Tuhan itu berkarya dan bekerja dalam kehidupan manusia.

    Dalam surat Ibrani dikatakan bahwa Firman Tuhan itu jauh lebih kuat dan tajam dari pedang bermata dua manapun. Sanggup memisahkan jiwa dan roh; sumsum tulang dan tulang. Sebab Firman Allahlah yang menjadikan segala sesuatunya, maka rahasia tentang segala sesuatunya juga ada pada Firman Allah. Dengan demikian tidak ada sesuatu apapun yang dapat disembunyikan dari Tuhan.

    Maka Tuhan mengenal siapa kita dan bagaimana kita dan juga seperti apa kehidupan kita. Bahkan pengetahuan Tuhan akan diri kita jauh lebih tinggi dari pengetahuan akan diri kita sendiri. Saat ini kepada kita diberikan kesaksian bahwa pengetahuan Allah yang begitu luar biasanya atas kehidupan kita telah membawa angin perubahan bagi kehidupan manusia.

    Yesus Kristus, Imam Besar Agung yang telah melintasi segala langit dan Tuhan yang mengetahui penderitaan dan kesengsaraan tiap manusia. Bahkan tidak hanya mengetahui tetapi juga yang mau turut merasakan apa yang dirasakan manusia. Sebagaimana yang ditulis oleh Yohanes: “Firman itu telah menjadi  manusia, dan diam diantara kita” (Yohanes 1 : 14). Bahwa Firman itu hidup dan ada diantara kita, sehingga kita telah memiliki kuasa Allah yang besar dari sorga yang hidup, kuat dan ada bersama kita.

    Demikianlah kita telah memiliki kekuatan dalam menjalani kehidupan, kita telah diperlengkapi dengan senjata tercanggih sepanjang zaman yaitu Firman Allah. Tetapi Firman Allah itu adalah pedang bermata dua. Dimana yang pertama kita akan dimampukan mengenal siapa diri kita, dan yang kedua bahwa Firman itu menjadi senjata kita untuk menghadapi kehidupan ini.

    Kuasa dari sorga telah dinyatakan untuk menjadi bagian kehidupan kita bahkan akan memberikan pertolongan kepada kita pada waktunya. Firman Tuhan menyuarakan pada kita untuk datang menerima kasih karunia dan rahmat Tuhan yang besar itu.

    Pengetahuan Tuhan akan diri kita dan kasih karunia Allah yang besar yang diberikan kepada manusia yaitu kuasa yang dari sorga selayaknyalah kita terima. Penerimaan kita adalah membuka hati dan pikiran menerima Firman Allah bersabda atas diri kita. Sebab setiap ucapan yang keluar dari mulut Allah berkuasa menyelamatkan hidup kita, jangan lagi kita suam-suam kuku dalam menerima setiap Firman Tuhan, jangan pula kita seperti orang yang melihat tetapi tidak memperhatikan, mendengar tetapi tidak menyimak, membaca tetapi tidak melakukan. Imani dan lakukanlah, maka engkau akan diselamatkan.

Thursday, August 25, 2016

Mati Satu Kali Untuk Keselamatan Semua

Kalau seseorang tenggelam dalam sungai, maka dia akan berusaha mencari pertolongan supaya selamat dari bahaya. Kalau ada sepotong kayu yang mengapung maka dia akan menjadikan kayu yang sepotong itu menjadi penolongnya supaya selamat. Demikian juga setiap orang yang percaya di dunia ini pasti menghadapi berbagai tantangan hidup, penderitaan, penyakit dan lain-lain yang bisa membuatnya jatuh ke dalam dosa. Dari manakah datangnya pertolongan kita, sanggupkah kita berjalan sendiri tanpa ada pertolongan ? jawaban manusia tidak sanggup kalau tidak ada pertolongan. Jadi siapa yang bisa menolong ?. dalam Mazmur 121 : 1-2 tertulis : “ Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku ? Pertolongaku ialah dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi “. Itu merupakah suatu pengakuan pemazmur yang tegas sesuai dengan pengalaman-pengalaman imannya. Bahwa hanya Tuhan yang dapat menolongnya dari rintangan-rintangan yang ia hadapi dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang musafir.

    Dalam Mazmur 146, pemazmur mengalami dalam hidupnya bahwa Allah satu-satunya penolong dalam hidupnya, sehingga dia bersaksi: “Pujilah Tuhan hai jiwaku, Aku hendak memuliakan Tuhan selama aku hidup dan bermazmur bagi Allahku selagi aku masih ada”.

    Dalam Ibrani 9:24 tertulis : “ Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita “. Menyatakan bahwa Yesus melalui kematian-Nya di kayu salib adalah pengorbanan yang tiada bandingnya dan peristiwa yang tiadak dapat diulangi. Yesus rela menderita dan mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Ditengah-tengah bangsa Israel biasanya para imamlah yang boleh masuk ke dalam ruang yang paling dalam untuk penyambung lidah bangsa Israel kepada Allah. Itu berarti ada penghalang antara manusia dengan Allah untuk berbicara. Manusia tidak bisa langsung berbicara dengan Allah harus melalui imam-imam. Tetapi melalui pengorbanan Yesus Kristus Juruselamat manusia yang telah menerobos dinding pemisah antara Allah dan manusia, sehingga manusia bisa berjumpa dengan Allah melalui doa-doanya secara langsung kepada Allah. Karena Yesus telah meruntuhkan tembok pemisah dan membuka jalan, menjadi pembela manusia melalui Ia masuk ke sorga menghadap Allah.

    Pengorbanan Kristus yang digambarkan dalam Ibrani 9 : 25-26 “ Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya “. Adalah satu-satunya pengorbanan yang sempurna yang tidak berulang-ulang sehingga masuk ke dalam sorga, tetapi pengorbanan-Nya untuk mencurahkan darah-Nya untuk menghapus dosa dunia. Pekerjaan pengorbanan Kristus bukan seperti pekerjaan para imam bangsa Israel yang telah menunjukan upacara setiap tahunnya, dimana dia mengambil darah binatang yang dibawa ketempat yang Mahakudus pada saat pengampunan dosa. Pengampunan oleh para imam dengan darah binatang adalah sementara dan tidak sempurna. Keselamatan yang sempurna hanya terjadi oleh karena pekerjaan Yesus sendiri. Kristus telah menyatakan kebenaran dan keadilan Allah. “ Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah  membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus “. ( Roma 3 : 25-26 ), sehingga jalan masuk kehadirat Allah telah terbuka dan takkan pernah tertutup. Walaupun manusia selalu berbuat dosa dan berbuat dosa tetapi bukan berarti Kristus harus mengorbankan diri-Nya berulang-ulang kali.

    Sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, demikian pula Kristus hanya  satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Dia datang kembali untuk selamanya dan untuk membuktikan kebenaran iman pengikut-Nya sendiri. Kedatangan Kristus yang kedua kali adalah merupakan hari yang sangat dahsyat, itu merupakan hari kebangkitan bagi orang yang percaya tetapi hukuman bagi orang yang tidak percaya.

    Saudaraku, mata Allah selalu tertuju kepada kita dan selalu siap menolong kita. Walaupun karena dosa kita telah di pisahkan dari-Nya, tetapi Yesus telah menebus dan mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa kita. Pujilah Tuhan hai jiwaku.