5Kejahatan dirancangkannya di tempat tidurnya, ia menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik; apa yang jahat tidak ditolaknya. 6Ya Tuhan, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan. 7Keadilan-Mu adalah seperti gunung-gunung Allah, hukum-Mu bagaikan samudera raya yang hebat. Manusia dan hewan Kauselamatkan, ya Tuhan. 8Betapa berharganya kasih setia-Mu ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu. 9Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu. 10Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang. ( Mazmur 36 : 5 – 10 ).
Saudaraku renungan kali ini mengajak kita agar semakin memahami, menghayati dan memaknai belas kasih ( kasih setia ) dan keadilan Tuhan, justru di tengah dunia kita masa kini yang dilanda penderitaan, ketidak adilan, kekerasan ( radikalisme, sektarianisme ) dan mengenai kasih setia dan keadilan Tuhan, Alkitab menginformasikan bahwa kasih setia ( Ibr.:khesed ) atau disebut juga belas kasih atau kemurahan hati dari Allah dihubung-hubungkan dengan janji dan kesetiaan dari Allah. Alkitab mengungkap bahwa kasih Tuhan sampai ke langit dan setia-Nya sampai ke awan; keadilan-Nya seperti gunung-gunung Allah dan hukum-Nya bagaikan samudera raya yang hebat ( ayat 6-7 ). Allah yang mengadakan janji ( perjanjian ) adalah setia menepati dan menggenapi demi kebaikan dan keselamatan umat-Nya. Tanda perjanjian Allah atau tanda dari Allah yang mengadakan perjanjian dengan manusia adalah Hukum-Nya yaitu Firman-Nya atau Titah-Nya. Firman-Nya telah digenapi di dalam nama dan peristiwa Yesus Kristus. Dan karena itu, Allah adalah adil ( Ibr.: caddiq ) karena setia pada janji-Nya dan telah menggenapinya. Dan pada akhirnya, keadilan Allah dihubungkan erat dengan peristiwa Yesus Kristus sebagai kegenapan janji ( nubuatan ) dan menjadi pusat kabar gembira ( Injil ) yang berisi pengampunan dosa, pengharapan dan keselamatan bagi umat yang percaya dan dunia.
Saudaraku, Mazmur pasal 36 ini berisi suatu doa seseorang yang merasa terancam dan diancam oleh orang jahat yang mengepung orang benar ( pada ayat 13 ), namun kemudian pemazmur mendapat belas kasih ( kasih setia ) dan keadilan Tuhan. Pemazmur melukiskan orang jahat dalam kesombongan yang tuna moral, yaitu : dosa bertutur di lubuk hati; tidak takut kepada Allah; perkataannya penuh tipu; merancang kejahatan dan setuju dengan kejahatan serta tidak menolaknya ( ayat 2-5 ). Padahal membenci dosa dan kejahatan adalah ciri hakiki dari sifat Allah ( Mazmur 45 : 8; Amsal 6 : 16; Yeremia 44 : 4; Habakuk 1 : 13 ). Pemazmur dalam pasal 36 ini sebagai orang percaya yang terancam karena kejahatan; dan kemudian berharap dan datang kepada Allah supaya menyatakan belas kasih dan keadilan-Nya dan juga memohon agar Tuhan melanjutkan kasih setia dan keadilan-Nya bagi orang percaya dan tulus hati, tetapi menghukum orang jahat sampai jatuh ( pada ayat 11 – 13 ). Dan inilah juga doa kita masa kini dalam konteks masyarakat dan bangsa Indonesia agar Tuhan menolong, berbelas kasih dan menyatakan keadilan-Nya dalam kehidupan social, politik dan ekonomi. Karena itu nas renungan ini hendak memastikan bahwa betapa Tuhan dekat untuk melindungi dan memelihara orang-orang percaya dan berharap pada-Nya: “… betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu. Kemudian dikatakan bahwa: “… mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu. Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang ( ayat 8 – 10 ). Anak-anak Allah yang percaya menjadi kenyang dengan “ lemak “ yaitu Sabda ( Firman ) di rumah-Mu dan memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Nya. Bandingkan kaitannya dengan perihal Yesus yang menyatakan kuasa dan kasih-Nya yang mengubah air menjadi anggur yang baik dalam pesta perkawinan di kota Kana dan memberi mereka minum dari sungai belas kasih dan keadilan-Nya ( Yohanes 2 : 1 – 11 ). Pokoknya, Tuhan itu pasti menyatakan belas kasih dan keadilan-nya seturut waktu-Nya.

0 komentar:
Post a Comment