Thursday, August 11, 2016

Manusia dan Keseimbangan Alam

Tidak banyak orang yang mengenal siapa Mbah Otto  dari Cikarees. Walaupun demikian, ada nilai-nilai kehidupan yang harus kita serap dari hidup kakek berumur  90 tahun ini. Sejak 30 tahun yang lalu Mbah Otto sangat rindu akan aliran air bersih di desanya. Mbah Otto sangat prihatin dengan air keruh yang dipakai oleh anak cucu dan warga desanya, sehingga mereka menderita penyakit kulit. Dipacu oleh keinginannya yang kuat, Mbah Otto mulai mengelilingi wilayah Cikarees, Garut. Setelah melewati lembah dan tebing, akhirnya Mbah Otto menemukan suatu mata air sehat di puncak Cikarees. Ketika ia mencoba merundingkan masalah penyaluran air dengan warga desanya, tidak seorang pun dari warga desanya yang memberi respon positif. Mbah Otto malah menerima komentar,” Mau punya air bersih ya harus beli mata air dengan harga mahal.” Dengan motto “ pasti bisa “, akhirnya Mbah Otto berhasil  membeli  lahan di sekitar mata air itu seharga Rp. 40.000.-. waktu itu nilai uang itu sangat besar.

          Secara diam-diam Mbah Otto mulai meniti impiannya. Tanpa diketahui oleh istrinya, dengan berbekalkan setangkup nasi, ikan asin dan sayur lalap, setiap hari Mbah Otto mulai menebang empat batang bambu dan menombak ruas-ruasnnya agar kelak bisa mengalirkan air. Setelah mengumpulkan banyak bambu, Mbah Otto kemudian membawa bambu-bambu itu ke puncak Cikerees. Ia mulai memasang  dan menyambungkan bambu demi bambu sambil berjuang melewati jurang tebing dan lembah. Perjuangan itu sangat berat karena ia melakukannya seorang diri. Orang-orang yang lewat hanya menyapanya,” Bikin saluran air Mbah ?” setelah dua setengah bulan, akhirnya ia berhasil mengalirkan air ke desanya melalui sambungan bambu sepanjang 3 km. Setelah air bersih mengalir, ia membangun bak penampung, kemudian air itu dinikmati oleh warga desanya. Sementara ratusan warga terus menikmati kesegaran air itu, Mbah Otto masih memikirkan bagaimana agar debit air itu tidak berkurang. Tuhan memberikan hikmat kepadanya, yaitu dengan menanami pohon-pohon berkayu keras di sekitar sumber mata air itu.

          Keseimbangan alam adalah tanggung jawab kita bersama dan keseimbangan alam hanya akan dicapai jika kita memiliki kepedulian seperti besarnya kepedulian Mbah Otto. Di Kejadian 1, Tuhan memberi kita mandat untuk memelihara dan dengan bijak mengelola semua sumber daya alam yang disediakanNya, artinya kita harus menjaga keseimbangan alam. Terganggunya keseimbangan alam akan menyebabkan bencana seperti tanah longsor, banjir, kekeringan, dll. Banjir dan kekeringan tentu sangat mempengaruhi produktivitas masyarakat, terutama para petani. Keegoisan orang-orang yang mengeruk seluruh kekayaan hutan, tanpa pernah peduli pada reboisasi dan mengabaikan prinsip tebang pilih, ketidakpedulian orang yang membuang sampah secara sembarangan, bahkan membuang sampah ke kali, pembangunan gedung-gedung berkaca, tidak menyediakan tanah untuk resapan air juga adalah penyebab ketidakseimbangan alam. Bangkitkan kepeduluan terhadap keseimbangan dan kelestarian alam, karena masa depan anak cucu kita tergantung pada baik buruknya pengelolaan kita.

Salah mengelola kekayaan alam berarti merusak masa depan anak cucu kita.

Hidup itu serangkaian pengalaman. Setiap pengalaman membuat kita lebih besar, walau kita tidak menyadarinya ( Henry Ford )

Renungan Lainnya

0 komentar:

Post a Comment