Thursday, August 18, 2016

Say “ No “ To Shopaholic

Coba perhatikan, apa yang terjadi ketika suatu counter menawarkan diskon sebesar 50 %. Counter itu pasti akan dikerumuni banyak orang, khususnya oleh kaum wanita. Sepertinya wanita dan berbelanja merupakan “ sahabat “ karib, yang sulit untuk dipisahkan.

          Adalah hal yang wajar-wajar saja jika kita membeli barang-barang yang dibutuhkan, tetapi apa jadinya jika seseorang sudah menjadi “ maniak belanja “? Ia tidak dapat lagi membedakan mana kebutuhannya yang sesungguhnya. Mereka yang “ maniak belanja “ sebenarnya telah terjangkit penyakit shopaholic. Apa ciri-ciri shopaholic itu ?

          Pertama, shopaholic diawali oleh sikap yang gemar melihat produk yang baru. Ketika menerima suatu informasi tentang suatu produk baru, entah itu dari radio, iklan dikoran, televisi atau dari kenalan, maka mereka yang terjangkit shopaholic akan menyisihkan waktunya atau bahkan meninggalkan kesibukannya untuk melihat produk itu.

          Kedua, gejala shopaholic selanjutnya adalah sering “ lapar mata “. Biasanya orang yang sampai ke tahap “ lapar mata “ akan membeli barang-barang yang dilihatnya, walaupun sebenarnya dia sama sekali tidak membutuhkannya. Barang-barang yang dibeli itu hanya sekedar dikoleksi atau bahkan “ ditelantarkan “ sesudah dibeli. Ingat, yang berbahagia adalah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, bukan orang yang lapar mata untuk berbelanja.

          Ketiga, terobsesi memiliki barang-barang yang mahal dengan merk yang terkenal. Orang yang cepat terpengaruh oleh lingkungan atau trend biasanya akan berusaha untuk membeli barang bermerk terkenal. Jika ia melihat orang memakai barang yang bagus atau model terbaru, maka mereka yang terjangkit shopaholic akan terobsesi untuk segera membelinya. Bukankah ini iri hati karena ia tidak bisa menerima jika orang lain punya tetapi ia tidak ?

          Keempat, orang yang terserang shopaholic tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Mereka yang terjangkit shopaholic merasa bahwa setiap hari ada saja barang yang akan dibelinya, padahal jika dicermati semua barang yang dibutuhkannya sudah tersedia. “ Virus “ shopaholic akan segera membuatnya “ berlari “ ke mall untuk berbelanja.

          Kelima, stadium tertinggi dari shopaholic adalah jika seseorang sudah merasa pusing dan stres kalau tidak berbelanja. Kalau sudah tidak berbelanja selama dua atau empat hari, ia akan merasa gelisah. Kegelisahan itu akan sembuh jika ia pergi berbelanja.

          Shopaholic dapat membuat seseorang nekad meminjam uang, atau tanpa kendali terus “ menggesek “ kartu kreditnya. Waspadalah terhadap keinginan-keinginan daging yang terus bekerja di dalam hati kita, karena keinginan daging akan mengantarkan kita kepada banyak permasalahan. Mulai sekarang kendalikan keinginan mata anda dan katakan “ No “ kepada shopaholic.

Penuhilah kebutuhan bukan keinginan mata.

Kekuatan pribadi diperoleh dari perjuangan dan penyelesaian masalah. ( Dr. Sydney Newton Brener )

Renungan Lainnya

0 komentar:

Post a Comment