Pernahkah kita menonton televisi dan melihat begitu banyak acara-acara ajang pencarian bakat seperti Indonesia Got’s Talent, X-Factor, Indonesian Idol dan banyak lagi lainnya yang mencari dan mengaudisi bakat-bakat luar biasa yang dimiliki oleh banyak orang di Indonesia maupun di luar negri ? dan salah satu hasil dari keluaran pencarian bakat itu adalah Mike Mohede yang kita semua tahu bahwa beberapa hari kebelakang kita mendapat berita dukacita dari keluarga Mike Mohede atas pulangnya Mike Mohede ke pangkuan Bapa di Surga.
Dalam Injil Matius 25 : 14 – 30 kita semua dapat melihat perkataan Tuhan Yesus yang menjelaskan mengenai perumpamaan tentang talenta. “ Yang seorang diberikan 5 talenta, yang seorang lagi 2 talenta dan yang seorang lain lagi 1 talenta, masing-masing menurut kesanggupannya …. “ ( Matius 25 : 15 ). Pada saat Allah menciptakan manusia, Allah tidak hanya menciptakan manusia dengan kemampuan yang kosong atau Allah tidak menciptakan manusia tanpa sebuah bekal, sama halnya seperti perumpamaan yang Tuhan Yesus katakan tentang talenta, seorang tuan tidak akan membiarkan hamba-hambanya hidup dan bekerja tanpa sebuah bekal, sebelum ia bepergiaan maka seperti yang kita tahu bahwa sang tuan meninggalkan talenta-talenta yang dipercayakan kepada setiap hambanya menurut kesanggupannya masing-masing. ( Talenta = Ukuran timbangan sebesar 3000 syikal kurang lebih 34 kilogram ) namun Allah membekali setiap manusia dengan bakat yang Allah berikan kepada setiap manusia. Namun pertanyaannya adalah sudahkah kita menggunakan talenta-talenta itu dengan sebaik-baiknya ? atau sudahkah kita menggunakan talenta-talenta itu untuk kemuliaan Tuhan / untuk sang tuan ?
Indonesia yang begitu besar dan dunia yang sangat luas ini kita tahu bahwa begitu banyak orang yang dipercayakan dengan berbagai macam bakat-bakat yang luar biasa dan jika kita kembali mereview kebelakang kepada kejadian teroris yang menyerang kota Jakarta beberapa bulan kebelakang kita dapat melihat betapa Allah telah memberikan kepada setiap manusia berbagai macam talenta yang luar baisa. Apakah para teroris yang menyerang itu tidak mempunyai bakat menembak ? mereka mempunyai bakat untuk menggunakan senjata-senjata api. Apakah para teroris itu tidak mempunyai pemimpin yang mengkonsep rencana teroris mereka ? mereka mempunyai pemimpin yang mengkonsep teroris mereka ? lalu bagaimana dengan para hacker ? mereka sangat berbakat dalam dunia pemrograman. Pembuat –pembuat software bajakan dan lain sebagainya yang jika kita bahas satu-persatu tidak akan pernah habis. Namun apa yang menjadi kesamaan mereka semua ? kesamaannya adalah mereka sama-sama menggunakan bakat yang dipercayakan Tuhan kepada mereka bukan untuk Tuhan atau bukan untuk sang tuan yang mempercayakan bakat itu untuk dikembangkan. Maksud dikembangkan bukan hanya sekedar kita mengasah bakat kita setiap hari menjadi luar biasa namun juga menggunakannya untuk kemuliaan Tuhan dan kemudian membagikannya kembali kepada orang-orang disekitar kita untuk menjadi berkat bagi orang-orang yang ada disekitar kita.
Lalu bagaimana cara mengetahui bakat kita ?
1. Pertama, Tanya Tuhan. Tanyakan kepada sang tuan apa yang menjadi bagian kita yang harus kita kembangkan. Karena Dia yang telah memberikan dan mempercayakan bakat itu kepada kita maka Dialah yang tahu bakat apa yang Dia berikan kepada kita, oleh karena itu mari tanya Tuhan.
2. Kedua, gali apa yang ada di dalam diri kita. Apa yang menjadi kesukaan kita, kerjakan dan terus latih. Ada seorang hamba Tuhan yang melayani disuatu tempat, lalu ia berpikir bahwa jika ia bisa bermain gitar maka pelayanannya juga pasti akan semakin baik lagi dan pasti akan banyak orang yang menikmati pujian dan penyembahan mereka kepada Tuhan dalam setiap mereka beribadah, lalu ia berdoa dan memohon kepada Tuhan untuk diberikan bakat untuk bermain gitar, terus berlatih hari demi hari hingga akhirnya ia pun dapat bermain gitar dengan cukup bagus dan membantu dalam pelayanannya, membawa semakin banyak jemaat yang menikmati Allah dalam setiap pujian dan penyembahan mereka.
3. Ketiga, minta bantuan orang lain. Jika kita tidak melihat hal-hal yang menjadi bakat kita, maka mari kita coba bertanya kepada teman-teman dekat kita, kepada kaka rohani kita, kepada orang tua kita apa yang menjadi bakat kita dari penglihatan mereka terhadap diri kita. Renungkan dan coba latih dan kerjakan karena ada banyak orang juga yang mungkin bagi orang-orang disekitarnya melihat bakat yang dimilikinya namun ia selalu menyangkal dan berkata bahwa ia tidak berbakat di bagian itu atau yang bisa kita sebuat sebagai pemilik karakter Musa sehingga ia tidak mengembangkannya dan mengerjakannya buat sang tuan
Kita tahu sekarang bahwa setiap manusia telah diberikan dan dipercayakan Tuhan setiap bakat maka berhati-hatilah karena jika bakat itu tidak kita kembangkan untuk sang tuan maka sama halnya yang terjadi kepada hamba yang diberikan 1 talenta oleh sang tuan, talentanya akan mati dan diambil dari padanya dan diberikan kepada orang lain yang melakukan bagiannya dengan baik dan untuk Tuhan. “ Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya ( dari hamba yang dipercayakan 1 talenta ) dan berikan kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu ( hamba yang awalnya dipercayakan 5 talenta ) “ ( Matius 25 : 28 ). Hingga akhirnya sang tuan berkata “ Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Disanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” ( Matius 25 : 30 ). Dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus 12 : 12-17 Paulus juga menuliskan bahwa setiap kita diciptakan Allah mempunyai bagian kita masing-masing. Mungkin ada diantara kita yang mempunyai bakat dalam memimpin, mengkonsep, bermain gitar, menyanyi, menulis dan lain sebagainya, kembangkan bagian-bagian kita itu dan ingatlah seperti yang Paulus tuliskan bahwa kita semua berada dalam satu tubuh dengan bagian dan bakat kita masing-masing yang dirancang untuk memuliakan Tuhan yang sudah mempercayakannya kepada setiap kita.
Mari kita lihat, jika untuk menyanyikan lagu-lagu duniawi, bermain alat music untuk terkenal, melakukan acrobat untuk membuat penonton terkesima dan bakat-bakat lainnya yang sungguh luar biasa saja, banyak orang untuk antri dan rela untuk panas-panasan bahkan melakukan latihan yang hampir tiap hari mereka lakukan agar dapat lolos dalam sebuah ajang pencarian bakat lalu bagaimana dengan hal palayanan kita ? dalam hal menyenangkan hati Allah yang kita tahu semua bahwa Dia yang telah memberikan bakat ini kepada kita. Apakah kita juga mempunyai hasrat yang besar seperti itu juga ? apakah kita menyiapkan diri untuk latihan seperti itu juga sebelum melakukan pelayanan kita ? Ingatlah saudaraku bahwa Allah yang sudah memberikan dan mempercayakan bakat-bakat yang kita miliki pada saat ini, maka kembangkanlah bakat-bakat itu buat sang tuan. Bukan berarti bahwa tidak boleh untuk mengikuti kontes-kontes pencarian bakat seperti itu namun mau mengingatkan kepada setiap kita kembali bahwa yang utama dan terutama adalah mengasihi dan memuliakan Tuhan Allah kita dengan segenap hati kita, dengan segenap akal budi kita dan dengan segenap kekuatan kita.
God Bless. Tuhan Memberkati….
0 komentar:
Post a Comment