Wednesday, August 3, 2016

Kejutan Dari Para Sahabat

Seorang laki-laki remaja mengidap penyakit kanker dan sudah berada di rumah sakit selama beberapa minggu. Di sana ia menjalani pengobatan dan kemoterapi. Selama menjalani pengobatan, ia kehilangan rambutnya yang lebat, karena rontok. Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit ke rumah, ia begitu kuatir. Kekuatirannya bukan disebabkan karena penyakit berat yang diidapnya, tetapi ia sangat malu ke sekolah karena kepalanya botak. Ia juga sudah memutuskan untuk tidak memakai rambut palsu ataupun topi.

          Ketika membuka pintu kamarnya dan menyalakan lampu, sekitar belasan orang temannya melompat menyambutnya sambil berteriak,” Selamat datang!”. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata teman-temannya itu telah menggunduli kepala mereka. Anak laki-laki itupun menangis haru atas kepedulian dan usaha teman-temannya untuk mengembalikan rasa percaya dirinya.

          Di dunia kita sekarang ini di mana kasih sudah semakin dingin, sangatlah sulit menemukan sahabat yang benar-benar mampu mengasihi kita dengan sepenuh hati. Jarang sekali ada orang yang rela menggunduli kepalanya hanya untuk memberikan semangat dan rasa nyaman kepada sahabat yang sedang berada di dalam pergumulan.

          Ketika menjadi orang Kristen, kita masuk ke dalam satu keluarga besar yang dinamakan keluarga Allah. Keluarga yang saling memperhatikan dan saling memotivasi di dalam kasih. Di dalam 1 Korintus 12, Alkitab mengajarkan kita untuk saling memperhatikan satu terhadap yang lain. Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita. Kita semua menderita bersama-sama, tetapi juga bersukacita bersama-sama. Inilah makna menjadi anggota tubuh Kristus, kita menjadi satu komunitas, satu keluarga dan sahabat sejati bagi yang lain. Jika kita belajar melakukan ini, maka kita telah melakukan apa yang Yesus lakukan terhadap kita semua. Yesus mengasihi kita dengan kasih yang tidak terbatas dan pengorbananNya untuk kita lebih dari sekedar menggunduli kepala, melainkan hingga menyerahkan nyawaNya sendiri menjadi tebusan bagi kita. Ia menyerahkan diriNya untuk disalibkan bagi kita , Ia memberikan hidupNya untuk kita.” Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” ( Yohanes 15 : 13 ).

          Kerasnya kehidupan memang menuntut orang untuk hidup hanya bagi dirinya sendiri dan memikirkan kepentingan dirinya sendiri saja. Tetapi sebagai anggota tubuh Kristus, baiklah kita juga belajar saling memperhatikan, saling memotivasi dan saling mengasihi. Mungkin kita tidak pernah berfikir bahwa kasih dan perhatian yang kita berikan kepada sesama dalam bentuk yang sangat sederhana sekalipun, akan membawa dampak yang besar baginya. Jadilah saudara dan sahabat sejati yang tidak pernah berhenti mengasihi!

Sahabat sejati adalah dia yang mau berbagi suka maupun duka.
Ketampanan dan kecantikan akan memudar seiring berjalannya waktu, kekayaan bisa sirna karena kita tidak tahu akan hari esok, tetapi karakter yang baik akan bertahan.

Renungan Lainnya

0 komentar:

Post a Comment