Sunday, August 21, 2016

Yesus Kristus atau Ahli Taurat ?

Ada seorang yang mengatakan, “  Saya lebih suka melihat suatu khotbah daripada mendengarnya.” Para hamba Tuhan mengkhotbahkan Firman Tuhan, pengajar mengajarkannya, orang tua selalu mengingatkan kepada anak-anak untuk hidup sesuai Firman Tuhan, orang yang merasa lebih berpengalaman dalam kerohanian menasehati temannya yang lain tentang jalan Tuhan dan memberikan anjuran-anjuran untuk hidup menurut FirmanNya. Adalah baik mengajarkan jalan Tuhan kepada orang lain, tetapi jangan pernah melupakan sisi yang lain dari mengajar orang lain. Sisi yang lain itu adalah melakukan yang kita ajarkan. Ahli-ahli taurat dan Tuhan Yesus sama-sama mengajarkan Firman Tuhan, tetapi keduanya mempunyai perbedaan yang sangat mencolok ( kontras ). Ahli taurat mengajar orang untuk melakukan hukum-hukum Tuhan, bahkan cenderung memaksakan orang untuk memenuhi tuntutan hukum yang mereka ajarkan. Berbeda dengan Yesus, Ia mengajar dan juga memberikan teladan dengan melakukan apa yang Ia ajarkan. Yesus konsisten, yaitu apa yang Ia katakan sama dengan apa yang Ia lakukan, dan ini menyebabkan orang tertarik datang kepada Tuhan. Benarlah suatu ungkapan yang berkata,” Perbuatan berbicara lebih keras daripada perkataan.”

          Ada seorang pemuda dengan penampilan acak-acakan masuk ke gereja. Rambutnya gondrong, memakai kaos oblong dan sepatunya sobek di beberapa bagian. Jemaat gereja itu yang rata-rata kelas menengah ke atas mulai nampak gelisah melihat pemuda “ asing “ dan miskin ini. Mereka semakin gelisah ketika pemuda itu berjalan ke depan karena tidak menemukan kursi kosong. Setelah melihat kiri kanan dan sama sekali tidak menemukan kursi kosong, pemuda ini mengambil tempat duduk dilantai depan, di atas karpet. Jemaat menengah emosi karena hal demikian itu belum pernah terjadi di gereja mereka. Sementara pujian dinaikkan dan jemaat mulai menyembah, masuklah seorang lelaki tua bertongkat. Ia penuh wibawa dengan pakaiannya yang rapih dan usianya yang sudah hampir mencapai 80 tahun. Laki-laki itu adalah salah seorang majelis di gereja itu. Perlahan-lahan ia berjalan ke depan dan saat itu jemaat yakin bahwa ia akan menegur pemuda tadi. Tapi apa yang terjadi, jemaat terkesima ketika laki-laki tua itu meletakkan tongkatnya di lantai dan dengan sedikit susah ia berlutut di lantai dan menyembah bersama pemuda tadi. Dalam keharuan, pendeta berkata,” Apa yang akan saya khotbahkan tidak akan anda ingat, tetapi apa yang baru saja anda lihat tidak akan pernah anda lupakan.”

          Jika anda ingin melihat perubahan di dalam diri orang lain, berikanlah teladan hidup yang dapat mereka lihat. Sekalipun kita ahli di dalam mengajar, berkhotbah dan menasehati, tetapi semua itu akan  menjadi hambar kalau tidak didukung oleh perbuatan kita yang nyata.

Perkataan menjelaskan pesan, tetapi perbuatan membuat pesan itu bargaung

Berhitunglah sampai 10 sebelum anda berbicara jika sedang marah, atau bahkan sampai 100 jika anda sangat marah. ( Thomas Jefferson )

Renungan Lainnya

0 komentar:

Post a Comment