Sunday, August 21, 2016

Utusan Yang Rendah Hati

Kerendahan hati merupakan barang langka yang sangat sulit ditemukan dewasa ini. Sebaliknya, apa yang kita jumpai di dalam kehidupan sehari-hari adalah orang-orang yang justru berlomba-lomba untuk meninggikan diri mereka masing-masing dengan berbagai macam cara yang dapat mereka kerjakan. Mulai dari yang paling murah biayanya, yaitu dengan mengubah gaya penampilannya; hingga yang paling mahal biayanya, yaitu dengan mendirikan partai politik dan duduk disana sebagai ketuanya. Anak-anak pun juga mau menyombongkan diri dengan minta dibelikan handphone, sekalipun sebenarnya mereka belum membutuhkan alat komunikasi yang canggih itu.

          Demikian juga halnya di dalam dunia pelayana pekerjaan Tuhan, kesombongan juga terlihat dalam berbagai bentuk. Hamba-hamba Tuhan berlomba-lomba untuk meninggikan diri dengan mengejar jabatan dan titel yang terlihat lebih keren. Gereja-gereja pun berlomba-lomba untuk menjadi yang terbesar dengan berbagai macam program.

          Berbeda sekali dengan Epafroditus. Epafroditus merupakan contoh figur yang rendah hati, ia datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani. Ia datang bukan untuk memenuhi panggilan khotbah di depan ribuan orang. Ia datang bukan untuk memberikan pengajaran yang spektakuler. Ia datang bukan untuk menyampaikan kesaksian yang akan diliput oleh berbagai macam media. Tetapi, ia datang hanya untuk menghantarkan persembahan jemaat Filipi. Ia datang untuk menbantu Rasul Paulus yang sedang dipenjarakan, mungkin ada suatu pekerjaan yang dapat meringankan beban Rasul Paulus. Sekalipun pelayanannya nampaknya sangat sepele, yakni hanya sebagai kurir saja, namun kesungguhan hatinya untuk melakukan tugas pelayanannya itu, membuat Rasul Paulus memujinya dan meminta semua jemaat Filipi untuk menghormati Epafroditus. Bagi Rasul Paulus, Epafroditus adalah orang yang istimewa, itulah sebabnya ia mengatakan kepada jemaat di Filipi, “ Sambutlah dia dalam nama Tuhan dengan segala sukacita “

          Sebagaimana dengan teladan yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus, yaitu Ia datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani, demikianlah hendaknya yang kita perbuat. “ Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” ( Mrk 10 : 45 ). Kita harus mempunyai satu ketetapan hati bahwa kita dipanggil bukan saja untuk menerima keselamatan di dalam Yesus, tetapi juga untuk ikut menderita bersamaNya, yaitu dengan cara mengambil bagian di dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, melalui apapun yang dapat kita lakukan. Sikap yang rendah hati akan memampukan kita melakukan pekerjaan apa saja yang dibebankan di pundak kita, baik yang penting maupun yang dianggap sepele.

Kerendahan hati menyanggupkan kita melakukan pelayanan yang dianggap sepele.

Pikiran kita seperti kebun yang dapat ditanami secara cerdas atau dapat juga dibiarkan untuk menjadi liar. ( R.K.Murti )

Renungan Lainnya

0 komentar:

Post a Comment