Saturday, August 20, 2016

Takutlah Akan Tuhan dan Beribadahlah Kepada-Nya

Figur Yosua sebagai seorang demokrat, yang mengajak bangsa Israel memilih kepada siapa mereka akan beribadah. Disebabkan Tuhan Allah telah nyata menolong dan menyertai kehidupan mereka sejak di Mesir, ketika dalam perjalanan menuju tanah perjanjian dan setelah mereka merebut dan tinggal di negeri yang telah Tuhan siapkan itu. Pertolongan dan penyertaan Tuhan tidaklah sedikit, seperti perbuatan ajaib yang membebaskan ( tulah-tulah ), memberi makan ( manna dan burung puyuh ), memberikan keteduhan dan memimpin dalam segala hal. Sekalipun Yosua akui, bahwa Tuhan tidak selalu memenuhi keinginan dan harapan mereka atau terlambat bertindak untuk menolong mereka. Sebab Tuhanlah yang punya rencana atas diri mereka dan bukan sebaliknya. Bukan mereka yang menentukan tindakan dan jalan pikiran Tuhan. Namun bagi Yosua, kasih Allah tidak terbantahkan. Itulah yang Yosua rasakan dan alami, sehingga ia tidak segan-segan menyatakan pilihannya bersama seisi rumahnya. Ia berkata : “ ... tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan !” ( Yosua 24 : 15b ).

    Pilihan Yosua ini tentu mengandung konsekuensi logis. Bila keputusannya untuk menyembah dan beribadah kepada Tuhan , maka prioritas hidupnya hanyalah Allah semata. Tidak ada alasan apapun untuknya menggantikan posisi Allah itu dalam hidupnya. Sekali Tuhan yang dipilihnya, maka tetaplah Tuhan yang ia utamakan dalam hidupnya. Begitu juga pilihan Petrus, seperti yang diceritakan Yohanes 6 : 56 – 69. Petrus tetap konsisten dan konsekuen dengan pilihannya untuk mengikut Yesus, walau banyak orang kecewa meninggalkan Yesus. Pilihan itu tidak dapat diganggu-gugat, sekalipun ucapan Yesus tidak jarang sulit untuk dipahami dan dimengerti. Mungkin karena hal inilah yang membuat banyak orang kecewa dan meninggalkan Yesus. Para murid Yesus akui, bahwa Yesus mampu menyatakan kuasa dan mujizat yang luar biasa; mereka akui bahwa Yesus mampu mengajar dengan sangat indah dan memberikan kekuatan kepada para pendengar-Nya bila kita mengetahui latar belakang Yesus berbicara.

    Dijamin sekarang banyak yang mengandalkan logika untuk segala hal, sehingga sulit memahami dan mengerti apa artinya beriman. Orang menginginkan agar semua ucapan dan tindakan Allah seharusnya dapat dicerna oleh akal logika mereka. Pikiran dan tindakan Allah bukalah irasional. Misalnya : jika seorang bayi yang baru dilahirkan kemudian mati, maka hal itu bisa dijelaskan dengan logika; jika orang menjadi menderita bukan karena kesalahannya, hal itu seharusnya dapat dijelaskan dengan logika; jika seumur hidup orang harus mengalami kesusahan atau ketika harapan-harapannya tidak juga dipenuhi oleh Tuhan, itu seharusnya ada penjelasannya secara logika. Ya, manusia sekarang ini ingin menjalani hidup serba instan, segalanya bisa ditebak dan diatur, sesuai dengan keinginan dan sebagainya. Bahkan ketika merasa bahwa kehendak Tuhan dapat diatur oleh jalan pikirannya, barulah mereka menjadi percaya. Jika tidak demikian , maka Tuhan telah mengecewakan dan mereka meninggalkan-Nya. Padahal kita paham betul, bahwa beriman kepada Tuhan bukanlah demikian. Beriman ada konsekuensinya, yakni menaruh kepercayaan penuh kepada apa yang ingin Allah buat dalam hidup kita. Jika Tuhan punya rencana lain yang berbeda dengan rencana kita dan kehendak kita, maka rencana-Nyalah yang harus kita ikuti dan indahkan. Sebab kita yakin betul, bahwa Tuhan kita baik dan selalu punya rencana indah dalam hidup kita.

    Disinilah, ketika kita harus mengerti dengan sepenuh hati, bahwa ketika kita telah menentukan pilihan hidup, kita tidak lepas dari konsekuensi yang harus kita jalani sebagai bentuk konsistensi atas pilihan kita itu. Memang tidak mudah ketika pilihan hidup kita adalah Tuhan, sebab kita harus berani untuk kecewa ketika segala keinginan yang tidak sesuai rencana-Nya tidak Ia penuhi dalam hidup kita. Itulah sebabnya, melalui tulisannya dalam Efesus 6 : 10 – 20, Paulus menuliskan pesan moral etis sebagai piranti penting dalam menentukan pilahan atas hidup kita. Perlengkapan senjata Allah untuk melawan iblis dan para pemimpin, penguasa, penghulu dan roh jahat yang berkeliaran “mempergelap” hidup ini pada hari yang jahat pula ( ayat 10 – 13 ). Berdiri tegap memperjuangkan kebenaran, keadilan, kerelaan dan damai sejahtera sebagai nilai-nilai utama kala memilih ( ayat 14 – 15 ). Pergunakanlah perisai iman untuk memadamkan panah api si jahat yang sewaktu-waktu siap menyerang dan mengganas ( ayat 16 – 17 ). Tetapi waspada dan rajin berdoa tiada putus supaya ada keberanian untuk mengatakan dan memberitakan kebenaran rahasia injil ( ayat 18 – 20 ). Daud bercerita tentang pengalaman imannya, yang tertuang dalam Mazmur 34 : 16 – 23. “kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu”. Perkataan Daud ini merupakan ajakan dan pengajaran kepada setiap orang , supaya mereka mewarisi cara hidup yang mencintai kebaikan dan perdamaian. Mengapa ? Bagi Daud yang mengalami kebaikan dan perlindungan Tuhan, cara bersyukur dengan sikap hidup  mengasihi dan menyemaikan perdamaian adalah pilihan hidup yang seharusnya kita pilih. Sebab Tuhan, yang kita sembah akan senantiasa dekat dengan orang benar dan takut akan Dia. Mata-Nya melihat dengan cermat dan telinga-Nya mendengar dengan benar apa saja yang dialami oleh orang-orang benar. Bahkan tatkala kesesakan, patah hati dan kemalangan menimpa mereka, Tuhan siap sedia melindungi dan menyelamatkan mereka. Itulah jaminan Tuhan, yang niscaya dipenuhi-Nya bagi mereka yang mentukan pilihan hidup sebagai orang-orang benar.

Apa pilahan Anda ?

Renungan Lainnya

0 komentar:

Post a Comment