Ketika menonton talkshow yang dipandu oleh Oprah Winfrei, saya sangat terkesan pada sikap para prajurit America yang diwawancarainya. Mereka pulang dengan tubuh yang cacat karena menunaikan tugas di Irak. Para prajurit yang diwawancarai itu menunjukan sikap mental yang patut ditiru. Seorang prajurit muda harus kehilangan kedua kakinya karena terkena bom. Ketika di wawancarai, ia sedang belajar berjalan dengan menggunkan kedua kaki palsu yang dirancang untuknya. Ia begitu tekun mengikuti terapi karena ia ingin segera kembali aktif di kesatuannya. Ketika ditanya tentang perasaan dan sikapnya terhadap kesatuannya, ia berkata bahwa ia tidak pernah menyesali keputusannya untuk menjadi seorang prajurit, sekalipun ia telah cacat karena melaksanakan tugasnya sebagai prajurit.
Ada lagi prajurit muda lainnya, yang seluruh tubuhnya mengalami luka bakar sehingga wajahnya nampak sangat mengerikan. Wajah yang dulu tampan kini berubah seperti “ monster “. Ia mengalami luka bakar karena truk berisi bahan bakar yang akan diantarnya ke markas tentara America di Irak meledak. Sekalipun tubuhnya terbakar, namun api yang sangat panas itu tidak mampu melumerkan atau menghanguskan jiwa patriotnya. Jika ia sudah sembuh dan masih diberi kesempatan untuk mengabdi, maka ia akan kembali lagi betugas. Untuk sementara prajurit yang terluka memang harus berhenti dari tugas-tugasnya karena harus menjalani pengobatan. Setelah pulih, ia masih mau melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk kesatuannya. Pengabdian prajurit yang seperti ini tentu akan diperhitungkan oleh negaranya.
Pelajaran yang dapat diambil dari para prajurit Amerika itu adalah : mereka tidak membiarkan diri mereka berlam-lama berada dibawah trauma atas pengalaman menyakitkan yang mereka alami. Seharusnya sebagai prajurit Kristus yang sejati kita juga memiliki sikap, pengabdian dan keberanian seperti prajurit-prajurit America itu. Prajurit Kristus yang sejati harus siap menghadapi kekecewaan, berani menerima resiko ketika berada di medan pertempuran. Jika Yesus, Panglima Besar kita pernah mengalami luka yang parah, maka kita akan mengalami hal yang sama, karena seorang murid tidak lebih dari pada gurunya (Mat 10 : 24 – 25 ). Ketika mengalami kecaman, penolakan atau terluka di dalam pelayanan, kaki prajurit Kristus sejati tidak akan berhenti melangkah untuk melayani. Prajurit Kristus sejati tidak akan tenggelam dalam kekecewaan yang berkepanjangan, karena ia tahu bahwa Tuhan akan segera menyembuhkan dan memampukannya untuk bangkit dan maju mengembangkan kerajaanNya.
Jika kita setia melayani Yesus dalam segala keadaan, jerih lelah kita tidak pernah sia-sia. Ketika saatnya tiba, yaitu ketika kita masuk ke dalam perjamuan kawin Anak Domba di awan-awan yang permai, maka Yesus akan menganugerahkan mahkota dan upah yang kekal kepada kita. Sungguh kesetiaan kita akan diperhitungkan oleh Tuhan.
Prajurit sejati tidak pernah berhenti mengabdi hanya karena penderitaan.
Mereka yang berhasil adalah mereka yang selalu berpikiran “ PASTI BISA “. ( Erich )

0 komentar:
Post a Comment