Mengasihi tidak sama dengan memanjakan ! Orang sering salah tentang konsep “ kasih “. Mereka memberikan apa saja yang diinginkan oleh orang yang dikasihi dengan alasan kasihan. Akibatnya, hasil yang didapatkan adalah karakter dan buah-buah yang tidak baik. Bahkan, bisa menjadi boomerang bagi orang yang mengasihi, sebagaimana Nampak dari karakter kanak-kanak, mau menang sendiri dan tidak bertumbuh menjadi dewasa dalam segala hal.
Dalam Kitab Wahyu kita diberikan penjelasan yang gamblang bahwa mengasihi tidaklah sama dengan memanjakan. “ Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! “ ( Wahyu 3 : 19 ) lihat juga Amsal 3 : 12 “ Karena Tuhan memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi. “ dan Ibrani 12 : 6 “ Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. “ Hal ini Tuhan terapkan bukan hanya kepada jemaat di Laodikia tetapi juga kepada gereja di segala abad dan zaman. Sebab, Ia tidak menginginkan gereja-Nya tetap dalam dosa atau jatuh kedalam dosa. Tuhan Yesus menginginkan menjadi dewasa dan tegar dalam menghadapi tantangan zaman.
Tuhan Yesus menempatkan dan memperhadapkan jemaat di Laodikia dalam suasana penghakiman, sementara Ia berdiri sebagai Hakim dan Jaksa Penuntut.Tiga ungkapan dalam Wahyu 3 : 14 membuat hal ini menjadi jelas. Identitas pertama yang dinyatakan kepada jemaat Laodikia adalah “ Amin “. Istilah ini menyatakan bahwa Tuhan Yesus adalah pribadi yang bisa dipercaya. Dengan kata lain, apa yang Dia firmankan tentang jemaat Laodikia adalah benar adanya. Identitas kedua adalah “ Saksi yang setia dan benar “. Identitas ini meneguhkan identitas yang pertama dengan penambahan bahwa Tuhan Yesus juga adalah Saksi yang dapat diandalkan. Dan identitas ketiga adalah “ Penguasa dari ciptaan Allah”. Lembaga Alkitab Indonesia ( LAI ) menerjemahkan “ permulaan dari ciptaan Allah “. Terjemahan ini kurang tepat untuk frase bahasa Yunani "he arkhe tes ktiseos tou theou." Memang, istilah arkhe bisa berarti permulaan, namun kontruksi kalimat dalam Wahyu 3 : 14 ini menuntut untuk menerjemahkannya sebagai Penyebab pertama ( dalam arti Pencipta ) dan Penguasa berdaulat. Dengan gelar-gelar ini Tuhan Yesus hendak menyatakan bahwa apa yang Dia sampaikan adalah benar adanya. Jemaat Laodikia benar-benar suam-suam kuku dan menutup pintu untuk kebenaran. Mereka menyatakan diri Kristen tetapi enggan untuk diubah dan hidup menurut kebenaran Firman Allah. Tuhan Yesus menyatakan bahwa kondisi mereka ini sungguh sangat memalukan. Ia berkata “ Karena engkau berkata : Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau melihat “ ( Wahyu 3 : 17 – 18 ). Itulah sebabnya dalam dalam Wahyu 3 : 16 Tuhan tegaskan “ Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku “ dan pada ayat ke 19 “ Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar, sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah !”.
Saudaraku, belajar dari kebenaran Firman Tuhan ini maka kita harus membuka hati kita dan bertobat. Artinya, ketika Firman Allah menelanjangi dosa-dosa kita, menunjukan kesalahan-kesalahan kita, memberitahukan segala penyimpangan yang telah kita lakukan maka haruslah kita tunduk di hadapan Allah, mengakui segala dosa dan bertobat. Jangan justru kita membela diri dan menyerang pengkhotbah. Sebab sesungguhnya Tuhan Yesus sedang mengetok hati kita dan kita bersyukur bahwa Dia tidak mendobrak melainkan mengetok. Sehingga kita memilih mengikut Yesus karena memang betul-betul kita jatuh cinta, dan bukan karena takut kepada-Nya. Hal ini Dia lakukan karena Dia mengasihi kita.

0 komentar:
Post a Comment