Friday, August 19, 2016

Saya percaya Yesus selama-lamanya

Hari itu ada sekitar 30 orang anak sekolah minggu yang beribadah. Seperti biasanya mereka menyanyi dan meletakkan buku bacaan mereka di atas meja. Sementara mereka beribadah, tiba-tiba beberapa orang aparat negara berhamburan masuk ke dalam ruangan itu dan mengejutkan semua orang yang ada di dalamnya. Dengan kasar para aparat itu menyita buku-buku untuk dijadikan sebagai barang bukti. Kemudian 30 anak itu dikumpulkan dan digiring masuk kedalam mobil van yang menunggu di halaman. Setelah berada di dalam mobil, barulah anak-anak itu menyadari apa yang terjadi. Mereka teringat pada cerita dan pesan guru sekolah minggu mereka. Kini mereka tahu apa yang harus dilakukan.

          Di dalam mobil anak-anak itu duduk berdesak-desakan. Tiba-tiba seorang anak mulai menyanyikan lagu pujian dan tak berapa lama kemudian anak-anak yang lain ikut bernyanyi.  Suara mereka begitu riuh sehingga mengganggu ketenangan para aparat itu. Ketika tiba di kantor polisi, mereka turun dari van dan terus bernyanyi. Suara mereka memenuhi tempat mereka ditahan. Tak lama kemudian seorang petugas yang secara khusus bertugas untuk menakut-nakuti anak-anak itu masuk ke ruang tahanan tersebut. Ia ingin menjatuhkan mental anak-anak itu. Dengan lantang ia berkata,” kalian akan dibebaskan jika menuliskan ‘ saya tidak percaya Yesus ‘ sebanyak seratus kali.” Sungguh diluar dugaan, anak-anak itu malah menuliskan,” saya percaya Yesus hari ini, saya percaya Yesus besok, saya percaya Yesus selama-lamanya!” para petugas sangat kewalahan menghadapai sikap dan sorak-sorai anak-anak itu, sehingga mereka memanggil orang tua anak-anak tersebut. Seorang aparat memaksa seorang janda yang menjemput kedua anaknya, agar ia melarang anak-anaknya ikut kelas sekolah minggu. Ibu janda itu berkata,” Tuan, saya tidak dapat melakukan hal itu. Dua tahun yang lalu suami saya meninggal dunia dan hanya Yesus yang membantu mencukupkan segala kebutuhan kami.”” Kalau kau tidak mau, kami tidak akan melepaskan kedua anakmu,” katanya mengancam.” Kalau begitu, saya rasa anda bisa terus menahan mereka disini karena tanpa Yesus rasanya mustahil bagi saya untuk memelihara mereka sampai dewasa.” Jawabnya tegas. Beberapa saat kemudian, aparat itu berkata,” bawalah anak-anakmu pergi dari sini.”

          Hari ini kita belajar dari anak-anak teraniaya diatas, bagaimana kita harus memegang teguh iman percaya kita kepada Tuhan, meskipun nyawa taruhannya. Jangan biarkan penindasan, kesesakan hidup, penganiayaan, kelaparan, atau pedang memisahkan kita dari kasih Kristus! Peganglah teguh iman percaya kita, karena Tuhan telah menyediakan kemuliaan bagi kita yang setia sampai akhir. Di sisi yang lain, marilah kita terus berdoa dan mendukung gereja-gereja teraniaya, khususnya dalam hal pengadaan Alkitab dan literatur yang mereka butuhkan.

Iman dan pengharapan kepada Yesus selalu memberi kekuatan di masa sukar.

Jadilah pemenang yang tidak sombong, jadilah orang yang kalah yang tidak mencari-cari alasan ( Robert J.Mschuller )


Renungan Lainnya

0 komentar:

Post a Comment