Wednesday, August 31, 2016

Memilih Dan Memutuskan Yang Benar

Dalam pengajaran kepada murid-murid-Nya, Yesus sering mengungkapkan pernyataan-pernyataan yang mengejutkan, menyangkut siapakah Yesus ?, Bagaimana mengikut Yesus ?, serta apa maksud dan tujuan kedatangan Yesus ?. kata-kata Yesus sering membingungkan para murid dan orang banyak. Sebab pengajaran dan pernyataan Yesus berbeda dengan guru-guru yang berkembang pada zaman itu. Walau sebenarnya secara umum perkataan dan pengajaran Yesus tidak bertentangan dengan apa yang sudah dikenal oleh orang banyak pada saat itu, namun ada beberapa hal yang justru kadang menjungkirbalikan pemahaman orang Yahudi sebagaimana telah diwarisi dari zaman sejarah para leluhur. Salah satu dari pernyataan Yesus yang mengejutkan adalah seperti yang terdapat di dalam Injil Lukas 12.

    Yesus memberikan kepada murid suatu pandangan mengenai puncak dari misi-Nya dalam kedatangan Anak Manusia pada waktu penghakiman. Yesus mendapat tugas untuk menyalakan api di bumi. Penghakiman terjadi saat orang menentukan memilih atau menolak Dia. Api sebagai lambang penyucian, yang artinya kedatangan Yesus akan membawa suatu masa dimana bumi akan dihakimi, manusia akan berhadapan dengan penghakiman Tuhan, dengan api Dia akan menyucikan segalanya, oleh sebab itu akan terpisah apa yang murni dan apa yang palsu. Karena tindakan penyucian ini dimana seseorang harus mengambil sikap mengikut atau menolak ini akan membawa dampak yang luar biasa kepada setiap orang, karena kebenaran dia harus berhadapan dengan keluarganya, saudaranya, bapak dan ibunya. Itulah sebabnya Yesus mengatakan akan membawa pertentangan. Pertentangan yang dimaksud Yesus adalah pertentangan karena kebenaran. Kamu harus memilih ikut Yesus walau harus berlawanan dengan keluarga demi kebenaran dan keadilan atau membiarkan segalanya status quo asalkan aman dengan keluarga.

    Sebenarnya Yesus hanya mengingatkan serta mempertajam, karena pada dasarnya Firman Tuhan selalu terkait dengan berkat dan kutuk. Ketika Firman Tuhan diimani atau diyakini akan menjadi berkat, tetapi ketika Firman Tuhan ditolak disana akan terjadi hukuman, itulah yang disebut Yesus kamu mengerti tanda –tanda alam, kapan hujan datang dan kapan terik akan terjadi, tetapi kenapa kamu tidak mengerti kehendak Tuhan ?. Dan inilah yang disebut oleh Rasul Paulus dalam Roma 12 : 2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”.

Tuesday, August 30, 2016

Pengakuan Dosa Menghasilkan Pengampunan

Kita tahu bersama bahwa di dalam kitab 2 Samuel 12 : 1 – 16 kita bisa melihat dan mendapati peristiwa ketika Nabi Natan memperingati Daud tentang perzinahan yang dilakukannya dengan Batsyeba. Ada ungkapan mengatakan : “Untuk menutupi satu kebohongan maka kita akan membuat kebohongan-kebohongan lainnya”. Demikian juga halnya dengan dosa ketika kita berbuat satu dosa maka dosa-dosa yang lain akan beruntun mencobai kita sehingga dosa kita semakin banyak. Demikian halnya dengan Daud yang dalam kepemimpinannya sebagai raja seharusnya dia ikut berperang, tetapi dia tinggal di istana sehingga dia jatuh ke dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba. Ketika Batsyeba hamil maka Daud menyusun strategi untuk melenyapkan Uria suami Batsyeba dengan cara rekayasa pertempuran. Akhirnya Daud bebas mengambil Batsyeba sebagai isterinya.

    Tetapi sepintar-pintarnya Daud menyembunyikan dosanya, dimata Tuhan itu jelas dan Tuhan akan menghukum karena dosa kejahatan yang dilakukannya ditempat tersembunyi yang akan dibuka Tuhan ditempat yang terang. Inilah yang disampaikan oleh Nabi Natan kepada Daud dengan cara membuat satu cerita dan Daud tertarik dengan cerita tersebut dan ikut menentukan hukuman bagi pelaku yang diceritakan oleh Nabi Natan. Dan ketika Natan mengatakan bahwa pelaku dalam cerita itu adalah Daud yang merampas Batsyeba dari Uria, maka Daud menerima hukuman yang harus diterimanya dan dia memohon ampun kepada Tuhan dengan berpuasa sehingga Tuhan mengampuninya. Walaupun Tuhan telah mengampuni dosa Daud tetapi hukuman tetap harus berjalan yaitu dengan kematian anak yang dikandung oleh Batsyeba dan pedang yang tidak akan menyingkir dari keturunannya.

    Dari bagian ini kita diingatkan kembali bahwa :

1.    Di hadapan Tuhan tidak ada yang tersembunyi dan Tuhan akan menghukum setiap pelanggaran dan dosa yang kita lakukan.

2.    Marilah kita mengakui dosa-dosa kita di hadapan Tuhan sehingga kita memperoleh anugerah pengampunan.

3.    Adalah tugas kita untuk mengingatkan saudara kita supaya jangan hidup dalam dosa.

4.    Yesus Kristus adalah korban untuk penghapusan dosa kita, oleh karena itu terimalah Yesus Kristus sebagai Juruselamatmu dan jagnan lagi berbuat dosa.

Sunday, August 28, 2016

Suci dan Tak Bercacat Menjelang Hari Kristus

Surat Filipi kadang disebut sebagai surat sukacita karena dalam surat yang terdiri dari 4 pasal itu ditemukan istilah “sukacita” sebanyak 13 kali. Rasul Paulus mengajak pembaca dan warga jemaat agar bersukacita di dalam Tuhan, bahkan dalam menyongsong kedatangan-Nya yang sudah mendekat. “ Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! “ ( Filipi 4 : 4-5 ). Rasul Paulus menuliskan dan mengirim surat ini ketika dia berada di penjara dan dipenjarakan karena Injil Kristus, namun menghimbau jemaat agar senantiasa bersukacita. Mengapa ? sebab yang pertama adalah bahwa Injil Yesus Kristus tak akan pernah dapat dipenjarakan oleh kekuatan apa pun, tetapi selalu mendapat tempat, pun di dalam penjara, yang kedua karena penantian penjang mengenai Mesias, Sang Juruselamat, sudah digenapi dalam peristiwa Yesus Kristus yang kepada-Nya kelak segalanya bertekuk lutut dan segenap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. “ Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! “. ( Filipi 2 :10-11 ).

    Secara khusus surat Paulus kepada jemaat di Filipi ini menegaskan bahwa bersama Rasul Paulus agar umat mengucap syukur kepada Allah karena persekutuan di dalam berita Injil dan berdoa dengan sukacita. Karena apa ? karena Allah telah memulai pekerjaan yang baik di antara jemaat dan akan meneruskannya sampai pada akhirnya, yaitu pada hari kedatangan Kristus Yesus. “ Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya , yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” ( Filipi 1 :5-6 ). Rasul Paulus bersaksi bahwa ia mendapat kasih karunia baik ketika dipenjarakan maupun pada waktu membela dan meneguhkan pekabaran Injil. Dan Rasul Paulus berdoa, kiranya belas kasih warga jemaat suci dan tak bercacat menjelang hari kedatangan Kristus kelak. “ Sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus “. ( Filipi 1 : 10 ). Dalam hal ini, suci berarti tidak larut dalam dosa, memiliki cara hidup baru yang berpadanan dengan hukum Tuhan, tak bercacat berarti melakukan kehendak Tuhan dan tidak mendukakan hati Tuhan serta sungguh-sungguh berusaha hidup semakin baik, benar, adil dan damai dengan sesama.

Rahasia Warisan Yang Kekal

Kematian anak tunggalnya yang cerdas dan tampan telah menyebabkan ia terkena serangan jantung. Seminggu setelah kena serangan jantung itu akhirnya ia meninggal dunia. Dia meninggalkan dua surat wasiat untuk dibacakan pengacara keluarganya. Di surat wasiat yang pertama ia meminta agar barang-barang antik miliknya dilelang dan barang pertama yang harus terjual di pelelangan tersebut adalah lukisan cat minyak, yang tak lain adalah lukisan wajah putra tersayangnya. Jika lukisan itu sudah terjual barulah surat wasiat yang kedua dapat di buka dan dibacakan di depan para tamu. Ketika hari pelelangan tiba, banyak orang yang datang dengan harapan dapat membeli salah satu barang antik milik almarhum konglomerat itu. Sesuai surat wasiat yang pertama, sang pengacara meminta juru lelang untuk menjual lukisan cat minyak yang dimaksud. Setelah juru lelang sekian lama berkoar-koar, tak seorang tamu pun yang berminat untuk menawar lukisan cat munyak tersebut. Suasana terasa membosankan, namun tiba-tiba seorang pria berkulit hitam mengangkat tangannya sebagai tanda bahwa ia berminat membeli lukisan cat minyak tersebut. Akhirnya lukisan cat minyak tersebut terjual dengan harga $75 kepada pria yang tak lain adalah pelayan yang selalu melayani almarhum anak konglomerat itu. Setelah lukisan cat minyak itu terjual, maka sang pengacara membacakan surat wasiat kedua yang mengatakan bahwa siapa yang membeli lukisan cat minyak itu berhak memiliki semua kekayaan dan barang-barang antik lainnya secara cuma-cuma. Tindakan membeli lukisan cat minyak itu merupakan bukti bahwa si pelayan sungguh mengashi anak majikannya, sehingga ia merelakan uangnya sebsar $75 untuk membeli lukisan cat minyak tersebut. Jalan untuk mendapatkan warisan dan barang antik konglomerat tersebut adalah dengan mengasihi anaknya yang tunggal.

    Untuk mendapatkan harta yang paling berharga di sepanjang masa, yaitu kehidupan yang kekal, maka kita harus menerima dan mengasihi Yesus, Anak Allah yang tunggal ( Yohanes 3 : 16 ). Bapa mempunyai begitu banyak harta warisan kekal yang disediakan-Nya bagi setiap orang yang diangkat menjadi anak-Nya, oleh iman di dalam Yesus Kristus. “ Tetapi semua orang yang percaya menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” ( Yohanes 1 : 12 ). Sesungguhnya saat lidah kita mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, maka dihadapan Allah, Yesus mengakui kita sebagai anak yang diadopsi-Nya. Kita harus percaya bahwa hanya oleh kematian Yesus kita diperdamaikan dengan Allah dan dilayakkan untuk memanggil Allah. “ Ya Abba, ya Bapa! “

    Maukah anda menerima warisan yang kekal secara cuma-cuma ? datanglah kepada Yesus dan nyatakan dengan sungguh-sungguh bahwa kita menerima dan menjadikan Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi.

Yesus menjadi jaminan bagi kita untuk menikmati indahnya hidup di Sorga.

Kemenangan di dalam hidup tidak selalu menuju pada orang yang lebih kuat atau lebih cepat, tapi cepat atau lambat, orang yang menang adalah orang yang berpikir bahwa ia bisa. ( Anonim ).



   

Saturday, August 27, 2016

Memaknai Kasih Setia dan Keadilan Tuhan

5Kejahatan dirancangkannya di tempat tidurnya, ia menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik; apa yang jahat tidak ditolaknya. 6Ya Tuhan, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan. 7Keadilan-Mu adalah seperti gunung-gunung Allah, hukum-Mu bagaikan samudera raya yang hebat. Manusia dan hewan Kauselamatkan, ya Tuhan. 8Betapa berharganya kasih setia-Mu ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu. 9Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu. 10Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang. ( Mazmur 36 : 5 – 10 ).

    Saudaraku renungan kali ini mengajak kita agar semakin memahami, menghayati dan memaknai belas kasih ( kasih setia ) dan keadilan Tuhan, justru di tengah dunia kita masa kini yang dilanda penderitaan, ketidak adilan, kekerasan ( radikalisme, sektarianisme ) dan mengenai kasih setia dan keadilan Tuhan, Alkitab menginformasikan bahwa kasih setia ( Ibr.:khesed ) atau disebut juga belas kasih atau kemurahan hati dari Allah dihubung-hubungkan dengan janji dan kesetiaan dari Allah. Alkitab mengungkap bahwa kasih Tuhan sampai ke langit dan setia-Nya sampai ke awan; keadilan-Nya seperti gunung-gunung Allah dan hukum-Nya bagaikan samudera raya yang hebat ( ayat 6-7 ). Allah yang mengadakan janji ( perjanjian ) adalah setia menepati dan menggenapi demi kebaikan dan keselamatan umat-Nya. Tanda perjanjian Allah atau tanda dari Allah yang mengadakan perjanjian dengan manusia adalah Hukum-Nya yaitu Firman-Nya atau Titah-Nya. Firman-Nya telah digenapi di dalam nama dan peristiwa Yesus Kristus. Dan karena itu, Allah adalah adil ( Ibr.: caddiq ) karena setia pada janji-Nya dan telah menggenapinya. Dan pada akhirnya, keadilan Allah dihubungkan erat dengan peristiwa Yesus Kristus sebagai kegenapan janji ( nubuatan ) dan menjadi pusat kabar gembira ( Injil ) yang berisi pengampunan dosa, pengharapan dan keselamatan bagi umat yang percaya dan dunia.

    Saudaraku, Mazmur pasal 36 ini berisi suatu doa seseorang yang merasa terancam dan diancam oleh orang jahat yang mengepung orang benar ( pada ayat 13 ), namun kemudian pemazmur mendapat belas kasih ( kasih setia ) dan keadilan Tuhan. Pemazmur melukiskan orang jahat dalam kesombongan yang tuna moral, yaitu : dosa bertutur di lubuk hati; tidak takut kepada Allah; perkataannya penuh tipu; merancang kejahatan dan setuju dengan kejahatan serta tidak menolaknya ( ayat 2-5 ). Padahal membenci dosa dan kejahatan adalah ciri hakiki dari sifat Allah ( Mazmur 45 : 8; Amsal 6 : 16; Yeremia 44 : 4; Habakuk 1 : 13 ). Pemazmur dalam pasal 36 ini sebagai orang percaya yang terancam karena kejahatan; dan kemudian berharap dan datang kepada Allah supaya menyatakan belas kasih dan keadilan-Nya dan juga memohon agar Tuhan melanjutkan kasih setia dan keadilan-Nya bagi orang percaya dan tulus hati, tetapi menghukum orang jahat sampai jatuh ( pada ayat 11 – 13 ). Dan inilah juga doa kita masa kini dalam konteks masyarakat dan bangsa Indonesia agar Tuhan menolong, berbelas kasih dan menyatakan keadilan-Nya dalam kehidupan social, politik dan ekonomi. Karena itu nas renungan ini hendak memastikan bahwa betapa Tuhan dekat untuk melindungi dan memelihara orang-orang percaya dan berharap pada-Nya: “… betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu. Kemudian dikatakan bahwa: “… mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu. Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang ( ayat 8 – 10 ). Anak-anak Allah yang percaya menjadi kenyang dengan “ lemak “ yaitu Sabda ( Firman ) di rumah-Mu dan memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Nya. Bandingkan kaitannya dengan perihal Yesus yang menyatakan kuasa dan kasih-Nya yang mengubah air menjadi anggur yang baik dalam pesta perkawinan di kota Kana dan memberi mereka minum dari sungai belas kasih dan keadilan-Nya ( Yohanes 2 : 1 – 11 ). Pokoknya, Tuhan itu pasti menyatakan belas kasih dan keadilan-nya seturut waktu-Nya.

Friday, August 26, 2016

Berpeganglah Teguh Pada Pengakuan Iman

Saudaraku, beranggapan bahwa Alkitab itu hanya berisi sejarah masa lalu atau etika, moral maupun tentang masa yang akan datang  maka akan merasa keliru dan bahkan salah. Firman Tuhan dapat kita saksikan lebih dari itu, bahwa setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah itu hidup dan kuat. Artinya Firman Tuhan itu berkarya dan bekerja dalam kehidupan manusia.

    Dalam surat Ibrani dikatakan bahwa Firman Tuhan itu jauh lebih kuat dan tajam dari pedang bermata dua manapun. Sanggup memisahkan jiwa dan roh; sumsum tulang dan tulang. Sebab Firman Allahlah yang menjadikan segala sesuatunya, maka rahasia tentang segala sesuatunya juga ada pada Firman Allah. Dengan demikian tidak ada sesuatu apapun yang dapat disembunyikan dari Tuhan.

    Maka Tuhan mengenal siapa kita dan bagaimana kita dan juga seperti apa kehidupan kita. Bahkan pengetahuan Tuhan akan diri kita jauh lebih tinggi dari pengetahuan akan diri kita sendiri. Saat ini kepada kita diberikan kesaksian bahwa pengetahuan Allah yang begitu luar biasanya atas kehidupan kita telah membawa angin perubahan bagi kehidupan manusia.

    Yesus Kristus, Imam Besar Agung yang telah melintasi segala langit dan Tuhan yang mengetahui penderitaan dan kesengsaraan tiap manusia. Bahkan tidak hanya mengetahui tetapi juga yang mau turut merasakan apa yang dirasakan manusia. Sebagaimana yang ditulis oleh Yohanes: “Firman itu telah menjadi  manusia, dan diam diantara kita” (Yohanes 1 : 14). Bahwa Firman itu hidup dan ada diantara kita, sehingga kita telah memiliki kuasa Allah yang besar dari sorga yang hidup, kuat dan ada bersama kita.

    Demikianlah kita telah memiliki kekuatan dalam menjalani kehidupan, kita telah diperlengkapi dengan senjata tercanggih sepanjang zaman yaitu Firman Allah. Tetapi Firman Allah itu adalah pedang bermata dua. Dimana yang pertama kita akan dimampukan mengenal siapa diri kita, dan yang kedua bahwa Firman itu menjadi senjata kita untuk menghadapi kehidupan ini.

    Kuasa dari sorga telah dinyatakan untuk menjadi bagian kehidupan kita bahkan akan memberikan pertolongan kepada kita pada waktunya. Firman Tuhan menyuarakan pada kita untuk datang menerima kasih karunia dan rahmat Tuhan yang besar itu.

    Pengetahuan Tuhan akan diri kita dan kasih karunia Allah yang besar yang diberikan kepada manusia yaitu kuasa yang dari sorga selayaknyalah kita terima. Penerimaan kita adalah membuka hati dan pikiran menerima Firman Allah bersabda atas diri kita. Sebab setiap ucapan yang keluar dari mulut Allah berkuasa menyelamatkan hidup kita, jangan lagi kita suam-suam kuku dalam menerima setiap Firman Tuhan, jangan pula kita seperti orang yang melihat tetapi tidak memperhatikan, mendengar tetapi tidak menyimak, membaca tetapi tidak melakukan. Imani dan lakukanlah, maka engkau akan diselamatkan.

Thursday, August 25, 2016

Mati Satu Kali Untuk Keselamatan Semua

Kalau seseorang tenggelam dalam sungai, maka dia akan berusaha mencari pertolongan supaya selamat dari bahaya. Kalau ada sepotong kayu yang mengapung maka dia akan menjadikan kayu yang sepotong itu menjadi penolongnya supaya selamat. Demikian juga setiap orang yang percaya di dunia ini pasti menghadapi berbagai tantangan hidup, penderitaan, penyakit dan lain-lain yang bisa membuatnya jatuh ke dalam dosa. Dari manakah datangnya pertolongan kita, sanggupkah kita berjalan sendiri tanpa ada pertolongan ? jawaban manusia tidak sanggup kalau tidak ada pertolongan. Jadi siapa yang bisa menolong ?. dalam Mazmur 121 : 1-2 tertulis : “ Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku ? Pertolongaku ialah dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi “. Itu merupakah suatu pengakuan pemazmur yang tegas sesuai dengan pengalaman-pengalaman imannya. Bahwa hanya Tuhan yang dapat menolongnya dari rintangan-rintangan yang ia hadapi dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang musafir.

    Dalam Mazmur 146, pemazmur mengalami dalam hidupnya bahwa Allah satu-satunya penolong dalam hidupnya, sehingga dia bersaksi: “Pujilah Tuhan hai jiwaku, Aku hendak memuliakan Tuhan selama aku hidup dan bermazmur bagi Allahku selagi aku masih ada”.

    Dalam Ibrani 9:24 tertulis : “ Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita “. Menyatakan bahwa Yesus melalui kematian-Nya di kayu salib adalah pengorbanan yang tiada bandingnya dan peristiwa yang tiadak dapat diulangi. Yesus rela menderita dan mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Ditengah-tengah bangsa Israel biasanya para imamlah yang boleh masuk ke dalam ruang yang paling dalam untuk penyambung lidah bangsa Israel kepada Allah. Itu berarti ada penghalang antara manusia dengan Allah untuk berbicara. Manusia tidak bisa langsung berbicara dengan Allah harus melalui imam-imam. Tetapi melalui pengorbanan Yesus Kristus Juruselamat manusia yang telah menerobos dinding pemisah antara Allah dan manusia, sehingga manusia bisa berjumpa dengan Allah melalui doa-doanya secara langsung kepada Allah. Karena Yesus telah meruntuhkan tembok pemisah dan membuka jalan, menjadi pembela manusia melalui Ia masuk ke sorga menghadap Allah.

    Pengorbanan Kristus yang digambarkan dalam Ibrani 9 : 25-26 “ Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya “. Adalah satu-satunya pengorbanan yang sempurna yang tidak berulang-ulang sehingga masuk ke dalam sorga, tetapi pengorbanan-Nya untuk mencurahkan darah-Nya untuk menghapus dosa dunia. Pekerjaan pengorbanan Kristus bukan seperti pekerjaan para imam bangsa Israel yang telah menunjukan upacara setiap tahunnya, dimana dia mengambil darah binatang yang dibawa ketempat yang Mahakudus pada saat pengampunan dosa. Pengampunan oleh para imam dengan darah binatang adalah sementara dan tidak sempurna. Keselamatan yang sempurna hanya terjadi oleh karena pekerjaan Yesus sendiri. Kristus telah menyatakan kebenaran dan keadilan Allah. “ Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah  membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus “. ( Roma 3 : 25-26 ), sehingga jalan masuk kehadirat Allah telah terbuka dan takkan pernah tertutup. Walaupun manusia selalu berbuat dosa dan berbuat dosa tetapi bukan berarti Kristus harus mengorbankan diri-Nya berulang-ulang kali.

    Sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, demikian pula Kristus hanya  satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Dia datang kembali untuk selamanya dan untuk membuktikan kebenaran iman pengikut-Nya sendiri. Kedatangan Kristus yang kedua kali adalah merupakan hari yang sangat dahsyat, itu merupakan hari kebangkitan bagi orang yang percaya tetapi hukuman bagi orang yang tidak percaya.

    Saudaraku, mata Allah selalu tertuju kepada kita dan selalu siap menolong kita. Walaupun karena dosa kita telah di pisahkan dari-Nya, tetapi Yesus telah menebus dan mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa kita. Pujilah Tuhan hai jiwaku.

Wednesday, August 24, 2016

Bijaksana Sampai Akhir Zaman

Daniel adalah salah satu tokoh besar di dalam Alkitab. Ia adalah seorang pemuda yang luar biasa dan sangat istimewa yang dapat diibaratkan seperti bintang yang bersinar di zamannya. Dan berbicara tentang Daniel erat hubungannya dengan kesetiaan, ketekunan dan integritas. Di tengah situasi sulit Daniel muncul sebagai orang muda yang bercahaya seperti bintang yang memancarkan sinarnya di tengah kegelapan malam. Itulah sebabnya kitab Daniel ditutup dengan begitu indahnya, dimana pada saat yang tepat orang-orang benar akan beroleh kemenangan. Iman dan integritasnya terhadap Tuhan patut menjadi panutan semua anak Tuhan.

    Daniel memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh anak muda pada umumnya, seperti tertulis: “ karena pada orang itu terdapat roh yang luar biasa dan pengetahuan dan akal budi, sehingga dapat menerangkan mimpi, menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi dan menguraikan kekusutan…” ( Daniel 5 : 12 ). Daniel benar-benar menjadi bintang yang tidak hanya di hadapan manusia, namun lebih dari itu, di mata Tuhan. Secara umum seseorang dikatakan menjadi bintang apabila memiliki prestasi yang luar biasa hebat di suatu bidang, serta dikagumi banyak orang karena kesuksesannya.

    Proses mencapai kemenangan tidaklah mudah, harus melewati ujian yang begitu berat sebagaimana halnya Daniel yang tidak serta merta menjadi orang istimewa ( bercahaya ) si antara orang-orang sezamannya. “…pada orang itu terdapat roh yang luar biasa dan pengetahuan dan akal budi, sehingga dapat menerangkan mimpi, menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi dan menguraikan kekusutan, yakni pada Daniel yang dinamai Beltsazar oleh raja.” ( Daniel 5 : 12a ). Tapi ada harga yang harus dibayar! Daniel telah melewati ujian demi ujian sehingga pada akhirnya Daniel dapat berkata bahwa orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cakrawala! Oleh karena itu orang yang bijaksana atau berhikmat dalam Perjanjian Lama dikaitkan dengan hati yang takut akan Tuhan, karena “ permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal yang Mahakudus adalah pengertian.” ( Amsal 9 : 10 ).

    Tuhan ingin agar kita menjadi pribadi yang istimewa karena kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, maka sudah seharusnya kita tidak menjadi orang yang biasa-biasa saja, melainkan menjadi seseorang yang istimewa, menonjol dan berdampak bagi orang lain di sekitar kita, seperti halnya Daniel. Tuhan memberkati kita supaya kita menjadi berkat bagi orang lain, Dia membuat kita berhasil supaya kita dapat menolong orang lain yang gagal dan terpuruk. Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai bintang apabila ia berhasil mengerjakan setiap tanggung jawab yang dipercayakan Tuhan kepadanya, atau seseorang yang berhasil menjadi pribadi yang Tuhan kehendaki. Hal ini ditekankan oleh Paulus di hadapan jemaat Filipi, “ Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantah, supaya kamu tiada beraib dan tidak bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,” ( Filipi 2 : 14 – 15 ). Itulah yang dikehendaki oleh Tuhan untuk kita kerjakan dalam kehidupan sehari-hari.

    Jadi orang bijaksana adalah orang yang takut akan Tuhan, tidak hanya  dalam pikiran tapi juga di dalam hati dan perbuatannya. Orang-orang benar inilah yang dapat menjadi saksi dan menuntun orang lain kepada kebenaran. Tugas dan tanggung jawab ini ada di pundak kita, sebagaimana yang Yesus perintahkan sebelum Ia terangkat ke Sorga, “ …pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, adan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku perintahkan kepadamu.” ( Matius 28 : 19 – 20a ). Sudahkah kita memenuhi kriteria sebagai orang-orang bijaksana yang layak menuntun orang lain kepada kebenaran ?

Monday, August 22, 2016

Barang Siapa Ku Kasihi, Ia Ku Tegor dan Ku Hajar

Mengasihi tidak sama dengan memanjakan ! Orang sering salah tentang konsep “ kasih “. Mereka memberikan apa saja yang diinginkan oleh orang yang dikasihi dengan alasan kasihan. Akibatnya, hasil yang didapatkan adalah karakter dan buah-buah yang tidak baik. Bahkan, bisa menjadi boomerang bagi orang yang mengasihi, sebagaimana Nampak dari karakter kanak-kanak, mau menang sendiri dan tidak bertumbuh menjadi dewasa dalam segala hal.

    Dalam Kitab Wahyu kita diberikan penjelasan yang gamblang bahwa mengasihi tidaklah sama dengan memanjakan. “ Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! “ ( Wahyu 3 : 19 ) lihat juga Amsal 3 : 12 “ Karena Tuhan memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi. “ dan Ibrani 12 : 6 “ Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. “ Hal ini Tuhan terapkan bukan hanya kepada jemaat di Laodikia tetapi juga kepada gereja di segala abad dan zaman. Sebab, Ia tidak menginginkan gereja-Nya tetap dalam dosa atau jatuh  kedalam dosa. Tuhan Yesus menginginkan menjadi dewasa dan tegar dalam menghadapi tantangan zaman.

    Tuhan Yesus menempatkan dan memperhadapkan jemaat di Laodikia dalam suasana penghakiman, sementara Ia berdiri sebagai Hakim dan Jaksa Penuntut.Tiga ungkapan dalam Wahyu 3 : 14 membuat hal ini menjadi jelas. Identitas pertama yang dinyatakan kepada jemaat Laodikia adalah “ Amin “. Istilah ini menyatakan bahwa Tuhan Yesus adalah pribadi yang bisa dipercaya. Dengan kata lain, apa yang Dia firmankan tentang jemaat Laodikia adalah benar adanya. Identitas kedua adalah “ Saksi yang setia dan benar “. Identitas ini meneguhkan identitas yang pertama dengan penambahan bahwa Tuhan Yesus juga adalah Saksi yang dapat diandalkan. Dan identitas ketiga adalah “ Penguasa dari ciptaan Allah”. Lembaga Alkitab Indonesia ( LAI ) menerjemahkan “ permulaan dari ciptaan Allah “. Terjemahan ini kurang tepat untuk frase bahasa Yunani "he arkhe tes ktiseos tou theou." Memang, istilah arkhe bisa berarti permulaan, namun kontruksi kalimat dalam Wahyu 3 : 14 ini menuntut untuk menerjemahkannya sebagai Penyebab pertama ( dalam arti Pencipta ) dan Penguasa berdaulat. Dengan gelar-gelar ini Tuhan Yesus hendak menyatakan bahwa apa yang Dia sampaikan adalah benar adanya. Jemaat Laodikia benar-benar suam-suam kuku dan menutup pintu untuk kebenaran. Mereka menyatakan diri Kristen tetapi enggan untuk diubah dan hidup menurut kebenaran Firman Allah. Tuhan Yesus menyatakan bahwa kondisi mereka ini sungguh sangat memalukan. Ia berkata “ Karena engkau berkata : Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau melihat “ ( Wahyu 3 : 17 – 18 ). Itulah sebabnya dalam dalam Wahyu 3 : 16 Tuhan tegaskan “ Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku “ dan pada ayat ke 19 “ Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar, sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah !”.

    Saudaraku, belajar dari kebenaran Firman Tuhan ini maka kita harus membuka hati kita dan bertobat. Artinya, ketika Firman Allah menelanjangi dosa-dosa kita, menunjukan kesalahan-kesalahan kita, memberitahukan segala penyimpangan yang telah kita lakukan maka haruslah kita tunduk di hadapan Allah, mengakui segala dosa dan bertobat. Jangan justru kita membela diri dan menyerang pengkhotbah. Sebab sesungguhnya Tuhan Yesus sedang mengetok hati kita dan kita bersyukur bahwa Dia tidak mendobrak melainkan mengetok. Sehingga kita memilih mengikut Yesus karena memang betul-betul kita jatuh cinta, dan bukan karena takut kepada-Nya. Hal ini Dia lakukan karena Dia mengasihi kita.

Sunday, August 21, 2016

Yesus Kristus atau Ahli Taurat ?

Ada seorang yang mengatakan, “  Saya lebih suka melihat suatu khotbah daripada mendengarnya.” Para hamba Tuhan mengkhotbahkan Firman Tuhan, pengajar mengajarkannya, orang tua selalu mengingatkan kepada anak-anak untuk hidup sesuai Firman Tuhan, orang yang merasa lebih berpengalaman dalam kerohanian menasehati temannya yang lain tentang jalan Tuhan dan memberikan anjuran-anjuran untuk hidup menurut FirmanNya. Adalah baik mengajarkan jalan Tuhan kepada orang lain, tetapi jangan pernah melupakan sisi yang lain dari mengajar orang lain. Sisi yang lain itu adalah melakukan yang kita ajarkan. Ahli-ahli taurat dan Tuhan Yesus sama-sama mengajarkan Firman Tuhan, tetapi keduanya mempunyai perbedaan yang sangat mencolok ( kontras ). Ahli taurat mengajar orang untuk melakukan hukum-hukum Tuhan, bahkan cenderung memaksakan orang untuk memenuhi tuntutan hukum yang mereka ajarkan. Berbeda dengan Yesus, Ia mengajar dan juga memberikan teladan dengan melakukan apa yang Ia ajarkan. Yesus konsisten, yaitu apa yang Ia katakan sama dengan apa yang Ia lakukan, dan ini menyebabkan orang tertarik datang kepada Tuhan. Benarlah suatu ungkapan yang berkata,” Perbuatan berbicara lebih keras daripada perkataan.”

          Ada seorang pemuda dengan penampilan acak-acakan masuk ke gereja. Rambutnya gondrong, memakai kaos oblong dan sepatunya sobek di beberapa bagian. Jemaat gereja itu yang rata-rata kelas menengah ke atas mulai nampak gelisah melihat pemuda “ asing “ dan miskin ini. Mereka semakin gelisah ketika pemuda itu berjalan ke depan karena tidak menemukan kursi kosong. Setelah melihat kiri kanan dan sama sekali tidak menemukan kursi kosong, pemuda ini mengambil tempat duduk dilantai depan, di atas karpet. Jemaat menengah emosi karena hal demikian itu belum pernah terjadi di gereja mereka. Sementara pujian dinaikkan dan jemaat mulai menyembah, masuklah seorang lelaki tua bertongkat. Ia penuh wibawa dengan pakaiannya yang rapih dan usianya yang sudah hampir mencapai 80 tahun. Laki-laki itu adalah salah seorang majelis di gereja itu. Perlahan-lahan ia berjalan ke depan dan saat itu jemaat yakin bahwa ia akan menegur pemuda tadi. Tapi apa yang terjadi, jemaat terkesima ketika laki-laki tua itu meletakkan tongkatnya di lantai dan dengan sedikit susah ia berlutut di lantai dan menyembah bersama pemuda tadi. Dalam keharuan, pendeta berkata,” Apa yang akan saya khotbahkan tidak akan anda ingat, tetapi apa yang baru saja anda lihat tidak akan pernah anda lupakan.”

          Jika anda ingin melihat perubahan di dalam diri orang lain, berikanlah teladan hidup yang dapat mereka lihat. Sekalipun kita ahli di dalam mengajar, berkhotbah dan menasehati, tetapi semua itu akan  menjadi hambar kalau tidak didukung oleh perbuatan kita yang nyata.

Perkataan menjelaskan pesan, tetapi perbuatan membuat pesan itu bargaung

Berhitunglah sampai 10 sebelum anda berbicara jika sedang marah, atau bahkan sampai 100 jika anda sangat marah. ( Thomas Jefferson )

Utusan Yang Rendah Hati

Kerendahan hati merupakan barang langka yang sangat sulit ditemukan dewasa ini. Sebaliknya, apa yang kita jumpai di dalam kehidupan sehari-hari adalah orang-orang yang justru berlomba-lomba untuk meninggikan diri mereka masing-masing dengan berbagai macam cara yang dapat mereka kerjakan. Mulai dari yang paling murah biayanya, yaitu dengan mengubah gaya penampilannya; hingga yang paling mahal biayanya, yaitu dengan mendirikan partai politik dan duduk disana sebagai ketuanya. Anak-anak pun juga mau menyombongkan diri dengan minta dibelikan handphone, sekalipun sebenarnya mereka belum membutuhkan alat komunikasi yang canggih itu.

          Demikian juga halnya di dalam dunia pelayana pekerjaan Tuhan, kesombongan juga terlihat dalam berbagai bentuk. Hamba-hamba Tuhan berlomba-lomba untuk meninggikan diri dengan mengejar jabatan dan titel yang terlihat lebih keren. Gereja-gereja pun berlomba-lomba untuk menjadi yang terbesar dengan berbagai macam program.

          Berbeda sekali dengan Epafroditus. Epafroditus merupakan contoh figur yang rendah hati, ia datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani. Ia datang bukan untuk memenuhi panggilan khotbah di depan ribuan orang. Ia datang bukan untuk memberikan pengajaran yang spektakuler. Ia datang bukan untuk menyampaikan kesaksian yang akan diliput oleh berbagai macam media. Tetapi, ia datang hanya untuk menghantarkan persembahan jemaat Filipi. Ia datang untuk menbantu Rasul Paulus yang sedang dipenjarakan, mungkin ada suatu pekerjaan yang dapat meringankan beban Rasul Paulus. Sekalipun pelayanannya nampaknya sangat sepele, yakni hanya sebagai kurir saja, namun kesungguhan hatinya untuk melakukan tugas pelayanannya itu, membuat Rasul Paulus memujinya dan meminta semua jemaat Filipi untuk menghormati Epafroditus. Bagi Rasul Paulus, Epafroditus adalah orang yang istimewa, itulah sebabnya ia mengatakan kepada jemaat di Filipi, “ Sambutlah dia dalam nama Tuhan dengan segala sukacita “

          Sebagaimana dengan teladan yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus, yaitu Ia datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani, demikianlah hendaknya yang kita perbuat. “ Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” ( Mrk 10 : 45 ). Kita harus mempunyai satu ketetapan hati bahwa kita dipanggil bukan saja untuk menerima keselamatan di dalam Yesus, tetapi juga untuk ikut menderita bersamaNya, yaitu dengan cara mengambil bagian di dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, melalui apapun yang dapat kita lakukan. Sikap yang rendah hati akan memampukan kita melakukan pekerjaan apa saja yang dibebankan di pundak kita, baik yang penting maupun yang dianggap sepele.

Kerendahan hati menyanggupkan kita melakukan pelayanan yang dianggap sepele.

Pikiran kita seperti kebun yang dapat ditanami secara cerdas atau dapat juga dibiarkan untuk menjadi liar. ( R.K.Murti )

Tuhan Mendengar dan Menyelamatkan Orang Tertindas

Di dalam kehidupan kita sehari-hari, mungkin kita sering diperhadapkan dengan pertanyaan bagaimana meyakinkan orang lain bahwa Tuhan itu baik ? untuk orang-orang yang berpikiran modern, kita bisa mengajukan sejumlah bukti akan kebaikan Tuhan yang dinyatakan dalam Alkitab, atau yang dapat diperiksa dari kenyataan alam semesta ciptaan-Nya. Namun orang-orang yang dipengaruhi oleh pandangan pascamodern, yang merelatifkan segala kebenaran, tidak membutuhkan pengajaran dan berbagai bukti tertulis. Tetapi hal terpenting yang mereka butuhkan adalah pengalaman sebagai bukti.

    Dalam kitab Mazmur, pemazmur mengajak para pembacanya untuk mengalami langsung penyertaan Tuhan dalam hidupnya secara alami atas kebaikan-Nya, sebagaimana yang telah pemazmur rasakan dalam hidup-Nya. Lalu apa yang pemazmur rasakan dan alami ? ternyata Mazmur ini lahir dari pengalaman Daud yang dilindungi Tuhan saat melarikan diri dari Saul. Sampai ia bertemu dengan seorang raja Filistin yang bernama Abimelekh yang dikenal sebagai seorang raja yang gemar membunuh.

    Sebagai seorang yang dicari-cari dan dikejar-kejar, berulang kali Daud mengalami kesesakan, penindasan dan merasa terjepit. Namun setiap kali ia menjerit kepada Tuhan, Tuhan menolong tepat pada waktunya. Perlindungan Tuhan dirasakan bagai dijaga oleh pasukan malaikat yang mengelilingi dia, yang bagaikan pengawal khusus yang 24 jam sehari siap untuk menjaga dia.

    Dalam kehidupan sehari-hari pemazmur mengajak para pembacanya untuk merespon Tuhan dalam pengalaman agar diperkaya. Mari, pandanglah Tuhan maka hidup ini akan penuh kesukacitaan. Masing-masing kita tentu mempunyai pengalaman hidup seperti Daud. Ada peristiwa yang terjadi di luar kemampuan kita, tetapi karena Tuhan menggerakkan, melindungi serta menyertai kita sehingga kita beroleh sukacita. Ingatlah Tuhan senantiasa menjagai kita dan Tuhan menampung dan menjawab setiap permohonan kita, karena itu berserulah kepada-Nya. Ketika kita susah memikirkan dunia yang fana ini pandanglah Tuhan, maka kita akan dapat tersenyum. Karena kesusahan kita itu sesungguhnya tidak begitu berarti dan tidak ada apa-apanya dihadapan Tuhan kita. Tuhanlah yang akan membuat hati kita tenang teduh. Orang yang berserah kepada Tuhan akan dikuatkan dan dilepaskan dari kesulitan, karena Tuhan membimbing kita selalu dijalan-Nya.

    Pujilah Tuhan pada segala waktu. Disetiap waktu yang diberikan Tuhan hendaklah kita memuji-Nya. Puji-pujian kepada Tuhan harus selalu ada didalam mulut kita. Karena itu jangan gunakan mulut kita untuk hal yang sia-sia. Setiap kata-kata yang keluar dari mulut kita hendaklah berupa pujian, sehingga mendatangkan berkat bagi banyak orang.

    Kita bersama-sama memuliakan Tuhan, memuji dan meninggikan nama Tuhan. Bersama-sama memberikan yang terbaik. Bersama-sama sehati beribadah kepada Tuhan. Pujian kita dalam ibadah harus juga berfokus kepada Tuhan, bukan melihat yang lain. Jangan sibuk memandangi muka orang lain saat kita beribadah, jangan sibuk memandangi baju orang lain saat kita beribadah atau hal-hal lainnya yang membuat kita kehilangan fokus terhadap Allah. Tapi beribadahlah dalam hadirat Tuhan. Dalam berjumpa dengan Tuhan didalam ibadah, sekalipun kita banyak masalah, Tuhan mampu membuat kita bersukacita.

    Imanilah dan yakinlah pada Tuhan, maka akan terasa bahwa hidup ini sungguh indah.

Saturday, August 20, 2016

Tuhan Adalah Penolongku. Aku Tidak Akan Takut

Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” ( Ibr 13 : 6 ).

    Tidak jarang kita melihat kasus-kasus kehidupan yang terjadi ditengah-tengah kehidupan kita sehari-hari, akibat suatu masalah dapat merembes dan memunculkan masalah yang lain. Contoh sederhananya akibat permasalahan ekonomi dalam keluarga dapat berdampak pada keharmonisan rumah tangga atau bahkan dapat membuat seseorang mencari uang dengan jalan yang tidak benar. Jika kita tidak mampu mengendalikan diri menghadapi suatu tantangan hidup maka dapat berdampak ke bagian kehidupan yang lain. Sehingga dalam tujuan penulisan surat Ibrani ini, kita diingatkan oleh Tuhan supaya orang percaya didorong untuk tetap tabah dan setia didalam iman. Semakin dewasa secara rohani dan mempertahankan kekudusan sebagai umat pilihan Allah. Seberapa berat pun tantangan yang sedang dihadapi oleh orang percaya supaya jangan pernah meninggalkan kesetiaan kepada iman dan tetap menjaga kekudusan dirinya.

    Disinilah diingatkan kembali bagaimana orang kristen itu supaya semakin dewasa secara rohani, setiap saat perjalanan kehidupan yang boleh kita lalui kita manfaatkan untuk semakin mendewasakan dan mematangkan kita. Sehingga setiap kondisi kehidupan yang kita lalui adalah untuk menempa kita menjadi orang kristen yang tangguh dan kuat.

    Beberapa nasehat diperlihatkan kepada kita untuk menjaganya dan memperhatikan dengan seksama sekalipun beratnya tantangan kehidupan yang harus kita hadapi, beberapa nasehat itu diantaranya :

-    Kasih persaudaraan
-    Menjaga kekudusan pernikahan
-    Tidak menjadi hamba uang
-    Memperhatikan dan meniru iman orang-orang yang menjadi pembimbing iman dan yang telah mendahului mereka yang tetap berpegang dalam iman
-    Ucapan bibir yang memuliakan Tuhan

    Sebagai umat yang percaya kita mempunyai tujuan hidup yaitu “mencari kota yang akan datang” . sebab dunia bukanlah tempat tinggal yang tetap. Sehingga nasehat yang disampaikan firman Tuhan ini sangat jelas supaya dalam menghadapi persoalan kehidupan apapun, kita tidak diombang-ambingkan nasehat-nasehat yang menyesatkan kita.

    Sebaliknya, kita diteguhkan bahwa apapun pergumulan yang sedang kita hadapi ada Tuhan yang menjadi penolong kita. Kuasa pertolongan Tuhan itu tetap nyata sepanjang masa, serta Allah tetap bekerja ditengah-tengah kehidupan umat-Nya. Sebab Tuhan Yesus adalah kekal dahulu sekarang dan sampai selama-lamanya.

    Oleh karena itu dibutuhkan kesabaran didalam iman menghadapi segala apapun kondisi yang kita hadapi, jika kita mendahuli dengan ketakutan dan kekhawatiran, maka nasehat-nasehat penyesat akan mudah merasuki kehidupan kita, akhirnya yang terjadi satu masalah dapat merambat membawa masalah baru dalam kehidupan kita. Biarlah setiap apapun yang terjadi dapat kita hadapai dengan iman bahwa Tuhan ada, melihat dan akan menolong kita.

Takutlah Akan Tuhan dan Beribadahlah Kepada-Nya

Figur Yosua sebagai seorang demokrat, yang mengajak bangsa Israel memilih kepada siapa mereka akan beribadah. Disebabkan Tuhan Allah telah nyata menolong dan menyertai kehidupan mereka sejak di Mesir, ketika dalam perjalanan menuju tanah perjanjian dan setelah mereka merebut dan tinggal di negeri yang telah Tuhan siapkan itu. Pertolongan dan penyertaan Tuhan tidaklah sedikit, seperti perbuatan ajaib yang membebaskan ( tulah-tulah ), memberi makan ( manna dan burung puyuh ), memberikan keteduhan dan memimpin dalam segala hal. Sekalipun Yosua akui, bahwa Tuhan tidak selalu memenuhi keinginan dan harapan mereka atau terlambat bertindak untuk menolong mereka. Sebab Tuhanlah yang punya rencana atas diri mereka dan bukan sebaliknya. Bukan mereka yang menentukan tindakan dan jalan pikiran Tuhan. Namun bagi Yosua, kasih Allah tidak terbantahkan. Itulah yang Yosua rasakan dan alami, sehingga ia tidak segan-segan menyatakan pilihannya bersama seisi rumahnya. Ia berkata : “ ... tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan !” ( Yosua 24 : 15b ).

    Pilihan Yosua ini tentu mengandung konsekuensi logis. Bila keputusannya untuk menyembah dan beribadah kepada Tuhan , maka prioritas hidupnya hanyalah Allah semata. Tidak ada alasan apapun untuknya menggantikan posisi Allah itu dalam hidupnya. Sekali Tuhan yang dipilihnya, maka tetaplah Tuhan yang ia utamakan dalam hidupnya. Begitu juga pilihan Petrus, seperti yang diceritakan Yohanes 6 : 56 – 69. Petrus tetap konsisten dan konsekuen dengan pilihannya untuk mengikut Yesus, walau banyak orang kecewa meninggalkan Yesus. Pilihan itu tidak dapat diganggu-gugat, sekalipun ucapan Yesus tidak jarang sulit untuk dipahami dan dimengerti. Mungkin karena hal inilah yang membuat banyak orang kecewa dan meninggalkan Yesus. Para murid Yesus akui, bahwa Yesus mampu menyatakan kuasa dan mujizat yang luar biasa; mereka akui bahwa Yesus mampu mengajar dengan sangat indah dan memberikan kekuatan kepada para pendengar-Nya bila kita mengetahui latar belakang Yesus berbicara.

    Dijamin sekarang banyak yang mengandalkan logika untuk segala hal, sehingga sulit memahami dan mengerti apa artinya beriman. Orang menginginkan agar semua ucapan dan tindakan Allah seharusnya dapat dicerna oleh akal logika mereka. Pikiran dan tindakan Allah bukalah irasional. Misalnya : jika seorang bayi yang baru dilahirkan kemudian mati, maka hal itu bisa dijelaskan dengan logika; jika orang menjadi menderita bukan karena kesalahannya, hal itu seharusnya dapat dijelaskan dengan logika; jika seumur hidup orang harus mengalami kesusahan atau ketika harapan-harapannya tidak juga dipenuhi oleh Tuhan, itu seharusnya ada penjelasannya secara logika. Ya, manusia sekarang ini ingin menjalani hidup serba instan, segalanya bisa ditebak dan diatur, sesuai dengan keinginan dan sebagainya. Bahkan ketika merasa bahwa kehendak Tuhan dapat diatur oleh jalan pikirannya, barulah mereka menjadi percaya. Jika tidak demikian , maka Tuhan telah mengecewakan dan mereka meninggalkan-Nya. Padahal kita paham betul, bahwa beriman kepada Tuhan bukanlah demikian. Beriman ada konsekuensinya, yakni menaruh kepercayaan penuh kepada apa yang ingin Allah buat dalam hidup kita. Jika Tuhan punya rencana lain yang berbeda dengan rencana kita dan kehendak kita, maka rencana-Nyalah yang harus kita ikuti dan indahkan. Sebab kita yakin betul, bahwa Tuhan kita baik dan selalu punya rencana indah dalam hidup kita.

    Disinilah, ketika kita harus mengerti dengan sepenuh hati, bahwa ketika kita telah menentukan pilihan hidup, kita tidak lepas dari konsekuensi yang harus kita jalani sebagai bentuk konsistensi atas pilihan kita itu. Memang tidak mudah ketika pilihan hidup kita adalah Tuhan, sebab kita harus berani untuk kecewa ketika segala keinginan yang tidak sesuai rencana-Nya tidak Ia penuhi dalam hidup kita. Itulah sebabnya, melalui tulisannya dalam Efesus 6 : 10 – 20, Paulus menuliskan pesan moral etis sebagai piranti penting dalam menentukan pilahan atas hidup kita. Perlengkapan senjata Allah untuk melawan iblis dan para pemimpin, penguasa, penghulu dan roh jahat yang berkeliaran “mempergelap” hidup ini pada hari yang jahat pula ( ayat 10 – 13 ). Berdiri tegap memperjuangkan kebenaran, keadilan, kerelaan dan damai sejahtera sebagai nilai-nilai utama kala memilih ( ayat 14 – 15 ). Pergunakanlah perisai iman untuk memadamkan panah api si jahat yang sewaktu-waktu siap menyerang dan mengganas ( ayat 16 – 17 ). Tetapi waspada dan rajin berdoa tiada putus supaya ada keberanian untuk mengatakan dan memberitakan kebenaran rahasia injil ( ayat 18 – 20 ). Daud bercerita tentang pengalaman imannya, yang tertuang dalam Mazmur 34 : 16 – 23. “kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu”. Perkataan Daud ini merupakan ajakan dan pengajaran kepada setiap orang , supaya mereka mewarisi cara hidup yang mencintai kebaikan dan perdamaian. Mengapa ? Bagi Daud yang mengalami kebaikan dan perlindungan Tuhan, cara bersyukur dengan sikap hidup  mengasihi dan menyemaikan perdamaian adalah pilihan hidup yang seharusnya kita pilih. Sebab Tuhan, yang kita sembah akan senantiasa dekat dengan orang benar dan takut akan Dia. Mata-Nya melihat dengan cermat dan telinga-Nya mendengar dengan benar apa saja yang dialami oleh orang-orang benar. Bahkan tatkala kesesakan, patah hati dan kemalangan menimpa mereka, Tuhan siap sedia melindungi dan menyelamatkan mereka. Itulah jaminan Tuhan, yang niscaya dipenuhi-Nya bagi mereka yang mentukan pilihan hidup sebagai orang-orang benar.

Apa pilahan Anda ?

Friday, August 19, 2016

Seorang Yang Terbeban

Kita harus mengacungkan dua jempol kepada Epafroditus ! Ia sungguh seorang hamba Tuhan yang melayani bukan karena ia mampu untuk melakukan sesuatu, atau ia mempunyai keuangan yang cukup, namun karena ia adalah seorang hamba Tuhan yang melayani dengan hatinya. Hati Epafroditus terbeban untuk meringankan penderitaan Rasul Paulus di penjara di Roma, sehingga ia rela membawa persembahan jemaat Filipi untuk diberikan kepada Rasul Paulus. Dan kita juga melihat, ketika ia berada di Roma, hatinya pun tidak tenang memikirkan jemaat Tuhan yang ada di Filipi. Dikatakan, Epafroditus sangat rindu dan “ susah juga hatinya “ karena memikirkan jemaat di Filipi.

          Melayani dengan hati adalah kunci utama pelayanan yang berhasil. Jika setiap orang dituntut untuk mempersembahkan kemampuannya yang khusus, maka bisa jadi tidak banyak orang yang akan ambil bagian di dalam pelayanan. Namun jika yang diminta itu adalah hati yang terbeban, tentunya setiap orang dapat mengusahakannya. Hati yang terbeban dan penuh kasih Allah sangat penting untuk menjadi dasar pelayanan kita. Berkali-kali di dalam pelayananNya, kita melihat Yesus digerakkan oleh hati yang penuh dengan belas kasihan.

          Belas kasihan Yesus terhadap banyak orang yang lelah dan terlantar seperti domba yang terlantar tidak bergembala. “ Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena meraka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. ( Mat 9 : 36 ).

          Belas kasihan Yesus terhadap orang banyak. “ Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. ( Mat 14 : 14 )

          Belas kasihan Yesus terhadap dua orang buta. “ Jawab mereka : ‘ Tuhan, supaya mata kami dapat melihat. “ Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia. ( Mat 20 : 33 – 34 )

          Belas kasihan Yesus terhadap dua orang kusta. “ Maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tanganNya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: Aku mau, jadilah engkau tahir.” ( Mrk 1 : 41 )

          Belas kasihan Yesus terhadap janda yang anak tunggalnya meninggal. “ Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: ‘ jangan menangis’ !” ( Luk 7 : 13 )

          Mari kita melayani, bukan hanya dengan kemampuan kita tetapi dengan hati yang terbeban dan penuh belas kasihan.

Hati yang penuh belas kasihan akan membawa banyak hati lainnya kepada Yesus.

Pikiran sempit sangat mudah dipengaruhi dan dikecewakan oleh nasib malang, tetapi pikiran yang luas senantiasa berada di atas angin. ( Washington Irving )


Saya percaya Yesus selama-lamanya

Hari itu ada sekitar 30 orang anak sekolah minggu yang beribadah. Seperti biasanya mereka menyanyi dan meletakkan buku bacaan mereka di atas meja. Sementara mereka beribadah, tiba-tiba beberapa orang aparat negara berhamburan masuk ke dalam ruangan itu dan mengejutkan semua orang yang ada di dalamnya. Dengan kasar para aparat itu menyita buku-buku untuk dijadikan sebagai barang bukti. Kemudian 30 anak itu dikumpulkan dan digiring masuk kedalam mobil van yang menunggu di halaman. Setelah berada di dalam mobil, barulah anak-anak itu menyadari apa yang terjadi. Mereka teringat pada cerita dan pesan guru sekolah minggu mereka. Kini mereka tahu apa yang harus dilakukan.

          Di dalam mobil anak-anak itu duduk berdesak-desakan. Tiba-tiba seorang anak mulai menyanyikan lagu pujian dan tak berapa lama kemudian anak-anak yang lain ikut bernyanyi.  Suara mereka begitu riuh sehingga mengganggu ketenangan para aparat itu. Ketika tiba di kantor polisi, mereka turun dari van dan terus bernyanyi. Suara mereka memenuhi tempat mereka ditahan. Tak lama kemudian seorang petugas yang secara khusus bertugas untuk menakut-nakuti anak-anak itu masuk ke ruang tahanan tersebut. Ia ingin menjatuhkan mental anak-anak itu. Dengan lantang ia berkata,” kalian akan dibebaskan jika menuliskan ‘ saya tidak percaya Yesus ‘ sebanyak seratus kali.” Sungguh diluar dugaan, anak-anak itu malah menuliskan,” saya percaya Yesus hari ini, saya percaya Yesus besok, saya percaya Yesus selama-lamanya!” para petugas sangat kewalahan menghadapai sikap dan sorak-sorai anak-anak itu, sehingga mereka memanggil orang tua anak-anak tersebut. Seorang aparat memaksa seorang janda yang menjemput kedua anaknya, agar ia melarang anak-anaknya ikut kelas sekolah minggu. Ibu janda itu berkata,” Tuan, saya tidak dapat melakukan hal itu. Dua tahun yang lalu suami saya meninggal dunia dan hanya Yesus yang membantu mencukupkan segala kebutuhan kami.”” Kalau kau tidak mau, kami tidak akan melepaskan kedua anakmu,” katanya mengancam.” Kalau begitu, saya rasa anda bisa terus menahan mereka disini karena tanpa Yesus rasanya mustahil bagi saya untuk memelihara mereka sampai dewasa.” Jawabnya tegas. Beberapa saat kemudian, aparat itu berkata,” bawalah anak-anakmu pergi dari sini.”

          Hari ini kita belajar dari anak-anak teraniaya diatas, bagaimana kita harus memegang teguh iman percaya kita kepada Tuhan, meskipun nyawa taruhannya. Jangan biarkan penindasan, kesesakan hidup, penganiayaan, kelaparan, atau pedang memisahkan kita dari kasih Kristus! Peganglah teguh iman percaya kita, karena Tuhan telah menyediakan kemuliaan bagi kita yang setia sampai akhir. Di sisi yang lain, marilah kita terus berdoa dan mendukung gereja-gereja teraniaya, khususnya dalam hal pengadaan Alkitab dan literatur yang mereka butuhkan.

Iman dan pengharapan kepada Yesus selalu memberi kekuatan di masa sukar.

Jadilah pemenang yang tidak sombong, jadilah orang yang kalah yang tidak mencari-cari alasan ( Robert J.Mschuller )


Thursday, August 18, 2016

Say “ No “ To Shopaholic

Coba perhatikan, apa yang terjadi ketika suatu counter menawarkan diskon sebesar 50 %. Counter itu pasti akan dikerumuni banyak orang, khususnya oleh kaum wanita. Sepertinya wanita dan berbelanja merupakan “ sahabat “ karib, yang sulit untuk dipisahkan.

          Adalah hal yang wajar-wajar saja jika kita membeli barang-barang yang dibutuhkan, tetapi apa jadinya jika seseorang sudah menjadi “ maniak belanja “? Ia tidak dapat lagi membedakan mana kebutuhannya yang sesungguhnya. Mereka yang “ maniak belanja “ sebenarnya telah terjangkit penyakit shopaholic. Apa ciri-ciri shopaholic itu ?

          Pertama, shopaholic diawali oleh sikap yang gemar melihat produk yang baru. Ketika menerima suatu informasi tentang suatu produk baru, entah itu dari radio, iklan dikoran, televisi atau dari kenalan, maka mereka yang terjangkit shopaholic akan menyisihkan waktunya atau bahkan meninggalkan kesibukannya untuk melihat produk itu.

          Kedua, gejala shopaholic selanjutnya adalah sering “ lapar mata “. Biasanya orang yang sampai ke tahap “ lapar mata “ akan membeli barang-barang yang dilihatnya, walaupun sebenarnya dia sama sekali tidak membutuhkannya. Barang-barang yang dibeli itu hanya sekedar dikoleksi atau bahkan “ ditelantarkan “ sesudah dibeli. Ingat, yang berbahagia adalah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, bukan orang yang lapar mata untuk berbelanja.

          Ketiga, terobsesi memiliki barang-barang yang mahal dengan merk yang terkenal. Orang yang cepat terpengaruh oleh lingkungan atau trend biasanya akan berusaha untuk membeli barang bermerk terkenal. Jika ia melihat orang memakai barang yang bagus atau model terbaru, maka mereka yang terjangkit shopaholic akan terobsesi untuk segera membelinya. Bukankah ini iri hati karena ia tidak bisa menerima jika orang lain punya tetapi ia tidak ?

          Keempat, orang yang terserang shopaholic tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Mereka yang terjangkit shopaholic merasa bahwa setiap hari ada saja barang yang akan dibelinya, padahal jika dicermati semua barang yang dibutuhkannya sudah tersedia. “ Virus “ shopaholic akan segera membuatnya “ berlari “ ke mall untuk berbelanja.

          Kelima, stadium tertinggi dari shopaholic adalah jika seseorang sudah merasa pusing dan stres kalau tidak berbelanja. Kalau sudah tidak berbelanja selama dua atau empat hari, ia akan merasa gelisah. Kegelisahan itu akan sembuh jika ia pergi berbelanja.

          Shopaholic dapat membuat seseorang nekad meminjam uang, atau tanpa kendali terus “ menggesek “ kartu kreditnya. Waspadalah terhadap keinginan-keinginan daging yang terus bekerja di dalam hati kita, karena keinginan daging akan mengantarkan kita kepada banyak permasalahan. Mulai sekarang kendalikan keinginan mata anda dan katakan “ No “ kepada shopaholic.

Penuhilah kebutuhan bukan keinginan mata.

Kekuatan pribadi diperoleh dari perjuangan dan penyelesaian masalah. ( Dr. Sydney Newton Brener )

Philip yang Iri Hati

Pada suatu perang salib, Richard yang berkebangsaan Inggris dan Philip yang berkebangsaan Perancis, adalah dua sahabat yang ikut berperang. Di medan peperangan ternyata bahwa Richard adalah yang paling berani diantara mereka berdua. Tidak heran kalau kemudian ia dipanggil dengan sebutan “ The Lion Hearted “. Oleh teman-teman mereka, Richard dianggap sebagai pemimpin. Sejak itu, Philip mulai dengki terhadapnya. Karena kedengkian itu, ia mulai tidak menyetujui strategi-strategi yang diinginkan oleh Richard, dan dalam keadaan gusar ia mempercepat kepulangannya ke Perancis. Belakangan ia berbuat curang dengan menyerang daerah yang diduduki oleh Richard.

          Alkitab berulang kali mengingatkan kepada kita tentang dosa iri hati yang mendatangkan kerugian bagi diri sendiri. Iri hati adalah perasaan tidak senang melihat kelebihan, keberhasilan dan kemajuan orang lain. Sebenarnya dosa ini berakar dari sifat mementingkan diri sendiri. Kita tidak mau orang lain beruntung, atau menyamai kita, apalagi lebih dari kita. Kelihatannya iblis telah berhasil mengacaukan pekerjaan Tuhan bahkan menghancurkan hidup manusia dengan dosa yang satu ini. Ketika ada orang yang mulai berkembang dan mengalami kemajuan demi kemajuan, maka orang yang iri akan berusaha menghambat atau behkan menghancurkannya. Kebiasaan ini telah banyak menyusup kegereja atau lingkungan pelayanan, dimana orang-orang tertentu yang mempunyai talenta khusus untuk melayani justru dicari-cari kekurangannya yang akhirnya dijadikan alasan untuk menyingkirkannya. Betapa bodoh dan berdosanya kita yang berusaha menghambat pekerjaan Tuhan melalui sifat iri hati ini. Iri hati membuat orang tidak bisa berpikir jernih, ia akan berusaha dengan cara apapun untuk menghancurkan orang yang dianggap lebih dari dirinya. Iri hati juga memutuskan tali persaudaraan dan persahabatan. Pendeknya, iri hati menghancurkan semua yang baik didalam hidup kita.

          Henrietta C. Mears berkata,” Orang yang selalu berusaha mendorong orang-orang yang ada dibawahnya untuk maju, tidak akan punya waktu untuk dengki terhadap orang yang berada diatasnya. Dan mungkin sekali, tidak akan ada orang yang berada diatasnya.” Mari kita belajar berjiwa besar dengan mengakui kelebihan sesama dan saling mendukung demi kemajuan bersama. Alkitab berkata bahwa dimana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, disitu ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Kerajaan Tuhan tidak memerlukan orang yang iri hati, yang diperlukan adalah orang-orang yang saling bergandengan tangan, saling menopang didalam kelebihan dan saling mengisi didalam kekurangan masing-masing, sehingga semuanya bisa bertumbuh dan berbuah.

Pikiran yang mengutamakan orang lain akan mengusir segala iri hati.

Jerat utama yang dipasang setan untuk orang muda adalah kemalasan. Ini adalah sumber fatal dari segala kejahatan. ( Johannes Bosko )

Tuesday, August 16, 2016

Dirgahayu Indonesiaku

17 Agustus 1945 adalah salah satu hari bersejarah untuk bangsa Indonesia, hari special buat seluruh rakyat Indonesia karena pada tanggal itulah atau tepatnya 71 tahun yang lalu Negara kita tercinta ini berhasil memperoleh kemerdekaannya melalui perjuangan yang begitu panjang dan luar biasa yang dihasilkan oleh para pejuang-pejuang Indonesia pada masa lalu, pejuang yang terus mau berjuang untuk memperoleh kemerdekaan untuk dirinya sendiri, bangsa Indonesia dan untuk anak cucunya kelak yaitu kita semua yang hidup dimasa sekarang ini. Jika kita sekilas kembali atau mengingat kembali mengenai masa-masa sejarah bangsa kita ini, kita semua dapat melihat bagaimana rasa sakitnya perjuangan para pahlawan-pahlawan bangsa Indonesia yang hidup pada masa tersebut, karena seperti yang kita tahu bahwa bangsa kita merupakan Negara yang begitu kaya akan sumber daya alamnya, Negara yang begitu luas dan Negara yang terletak pada posisi yang strategis sehingga bukan hanya menjadi target dari satu Negara asing, namun juga menjadi target incaran bagi banyak Negara asing yang tertarik akan kekayaan, keindahan dan kestrategisan Negara Indonesia.

    Setelah dijajah oleh Portugis lalu dilanjutkan dengan penjajahan Belanda dan kemudian dilajutkan dengan penguasaan Jepang di tanah ibu pertiwi hingga akhirnya bangsa Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Sebuah perjuangan yang dilakukan bukan hanya untuk diri sendiri melainkan sebuah perjuangan yang dilakukan untuk masa depan bangsa Indonesia bahkan untuk anak-anak bangsa Indonesia yang akan menjadi penerus bangsa, yang akan meneruskan perjuangan-perjuangan para pahlawan untuk membuat Indonesia menjadi bangsa yang maju dan menjadi bangsa yang seluruh rakyatnya menikmati yang namanya kesejahteraan. Sebuah harapan yang terus diperjuangkan oleh para leluhur kita karena mereka tahu bagaimana rasanya ketidaksejahteraan di bawah jajahan Negara lain, bagaimana rasa tidak nyamannya tidur di negeri sendiri, bagaimana susahnya untuk tertawa dan menikmati keindahan bangsa ini di bawah terror dari Negara asing.

    Harapan bangsa Indonesia yang diwakilkan oleh bapak Ir. Soekarno yang kemudian di estafetkan ke generasi-generasi selanjutnya seperti bapak Soeharto, bapak Habibie, Ibu Megawati, Bapak Susilo Bambang Yudoyono hingga sekarang kepada bapak Joko Widodo. Pertanyaannya adalah apakah harapan itu sudah dapat dikabulkan ? apakah harapan kecil yang para pejungan bangsa ini harapkan itu sudah terjadi di bangsa kita yang sekarang ini ? apakah bangsa kita sudah menikmati yang namanya kesejahteraan ? pasti akan banyak orang yang berkata tidak. Mengapa harapan kecil itu belum pernah terwujud hingga sekarang ini ? apakah waktu 71 tahun belum cukup untuk mewujud nyatakan harapan kecil itu ?

    Masalahnya bukan karena harapannya, masalahnya bukan juga karena waktunya, masalah sebenarnya adalah manusianya. Orang-orang yang hidup dengan dipenuhi keegoisannya masing-masing, orang-orang yang hidup dengan dipenuhi rasa ingin menang sendiri, orang-orang yang hidup dengan menutup sebelah matanya untuk saudara-saudaranya yang hidup berkekurangan, orang-orang yang hidup saling bertentangan dan bermusuhan.

    Saudaraku 71 tahun bukanlah waktu yang singkat, 71 tahun merupakan waktu yang begitu lama, waktu yang seharusnya sudah mampu menghasilkan harapan-harapan kecil yang diharapkan oleh leluhur-leluhur kita. Ingatlah Firman Tuhan dalam Injil Matius 22 : 37 – 39 “  Jawab Yesus kepadanya: “ Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan seganap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. “ mari hidupi Firman Tuhan dalam hidup kita sehingga melalui kehidupan kita sebagai anak-anak Allah maka biarlah bangsa ini boleh dimenangkan, semakin banyak orang-orang yang peduli akan bangsa ini, orang-orang yang hidup saling mengasihi satu sama lain, orang-orang yang hidup takut akan Tuhan. Mari mulai membangun bangsa ini demi mewujud nyatakan harapan indah tersebut dari diri kita sendiri. Jauh dari hidup korupsi, jauh dari hidup egois namun hidup yang menyenangkan hati Tuhan.

    Presiden pertama bangsa Indonesia yaitu bapak Ir. Soekarno pernah berkata “ perjuanganku adalah mudah karena harus mengusir para penjajah, namun perjuanganmu adalah sangat berat karena harus melawan bangsamu sendiri “ 

DIRGAHAYU buat bangsa Indonesia ku, negri tercinta dan negri yang ku kasihi.


Sumpah Pemuda :

1.    Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia
2.    Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
3.    Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Pertemuan Dengan Tuhan Yesus Yang Membawa Perubahan

Sebagai kepala penjara, dia bertanggungjawab atas semua tahanan. Penjagaan yang ketat adalah salah satu cara untuk menghindari para tahanan meloloskan diri. Hari itu “pasien”nya bertambah. Dua orang tahanan penting dilemparkan ke dalam penjara. Mereka adalah Paulus dan Silas. Kepala penjara telah diperintahkan untuk menjaga baik-baik kedua tahanan ini, sehingga ia memasukkan mereka ke ruang penjara paling tengah, yang diyakini sebagai penjara bawah tanah. Pasungan yang kuat dipasang untuk membelenggu kaki mereka. “Tugas selesai, para tahanan aman dan tidak mungkin ada yang lolos,” pikir si kepala penjara. Rupanya ia adalah tipe orang yang mau membaktikan seluruh hidupnya pada tugasnya, ini terbukti ketika ia memilih untuk “bundir” alias bunuh diri karena menyangka bahwa semua tahanan sudah meloloskan diri ketika terjadi gempa.

          Setelah kejadian ajaib di penjara yang disebabkan karena Paulus dan Silas memuji Allah, kepala penjara itu menyadari akan satu kebutuhan penting baginya, yaitu keselamatan jiwanya. “Apakah yang harus kuperbuat supaya aku selamat ?” tanyanya kepada Paulus dan Silas. Firman Tuhan pun disampaikan kepadanya dan seisi rumahnya. Tanpa menunggu lebih lama, kepala penjara itu menunjukan tanggapan yang sangat baik, ia diubahkan saat itu juga. Yang tadinya mungkin memperlihatkan sikap yang tidak bersahabat terhadap dua hamba Tuhan yang ditahannya, kini ia menunjukan belas kasihan dan kebaikan hati dengan membasuh bilur kedua hamba tersebut. Ia juga tidak sabar menunggu lebih lama, ia ingin memploklamirkan imannya kepada semua orang bahwa hidupnya kini sudah berubah, sudah berbeda, ia dan keluarganya sekarang adalah pengikut Yesus. Maka ia dan keluarganya, memberi diri dibabtis. Setelah bertemu Yesus melalui pemberitaan hamba-hamba-Nya, ada satu sukacita yang mendorongnya untuk menunjukan satu kemurahan hati dengan menjamu hamba-hamba-Nya. Ia ingin menunjukan kasih dan berbagi dengan hamba-hamba Tuhan yang telah memperkenalkan Yesus kepadanya. Baginya, menjadi percaya kepada Yesus dan menerima anugerah keselamatan dari-Nya merupakan sesuatu yang patut disyukuri dan ia sangat bergembira oleh karena hal itu.

          Bertemu Yesus dan mengenal Dia, mestinya membawa sesuatu perubahan di dalam hidup kita. Kalau tadinya kita tidak mempunyai belas kasihan, sekarang kita harus belajar menyatakan kasih dan kebaikan hati kita. Pengenalan akan Yesus merupakan anugerah yang harus kita syukuri dan patut bersukacita untuk hal itu. Kita pun harus berani menunjukan kepada dunia ini bahwa kita adalah orang percaya, pengikut Kristus. Jika perjumpaan dan pengenalan kita akan Yesus tidak membawa pengaruh dan perubahan apa pun di dalam hidup kita, maka pengenalan kita akan Dia perlu dipertanyakan lagi.

Suatu perubahan pasti terjadi ketika Yesus hadir dalam hidup seseorang.

Berhutang sama mudahnya dengan turun dari gunung es. Keluar dari hutang sama sulitnya dengan mendaki gunung es. – Ron Blue-

Monday, August 15, 2016

Hati Misi Rahab

Apa yang telah didengar oleh Rahab tentang Tuhan Israel, telah mempengaruhi hatinya. Namun ia tidak hanya berdiam diri, ia melakukan sesuatu. Selain mempertaruhkan nyawanya dengan menyembunyikan kedua pengintai, lebih jauh lagi, ia membagikan kepada keluarganya berita kelepasan yang akan mereka terima jika mereka melakukan persis seperti apa yang dikatakan oleh kedua pengintai. Rahab meminta agar nyawa keluarganya diselamatkan dan kedua pengintai menyetujui dengan memberikan syarat yang harus dipenuhi oleh Rahab. Ia harus mengikatkan benang kirmizi di jendela rumahnya, tempat dimana kedua pengintai  itu ia turunkan. Hal ini mungkin dilakukan karena rumah Rahab terletak ditembok kota. Yerikho dikelilingi oleh dua tembok yang terpisah, jarak keduanya atau . Di antara kedua tembok ini direntangkan papan, sehingga orang bisa membangun rumah diatasnya. Rumah Rahab adalah salah satu yang dibangun ditembok ini, sehingga dengan demikian rumah ini menjadi bagian dari tembok kota. Kedua pengintai itu juga menyuruh Rahab untuk mengumpulkan semua keluarganya di rumahnya, jika mereka ingin selamat.

          Keinginan Rahab agar semua keluarganya dan orang-orang yang bersama-sama dengan dia selamat, membuktikan bahwa Rahab memiliki hati misi. Apa yang ia lakukan dapat dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh perempuan Samaria didalam Yoh 4 : 1 – 42, dimana banyak orang yang menjadi percaya kepada Yesus karena perempuan Samaria itu  menceritakan tentang Yesus dan apa yang dialaminya ketika bercakap-cakap dengan Yesus. Dalam Yos 6 : 25, dikatakan bahwa Rahab, keluarganya dan semua orang yang bersama-sama dengan dia dibiarkan hidup dan mereka diam ditengah-tengah orang Israel. Rahab memenangkan jiwa keluarganya dan orang yang tinggal bersama-sama mereka. Rahab sama sekali belum punya pengalaman iman, namun didalam keterbatasannya ia melakukan sesuatu untuk keluarganya.

          Bertanyalah pada diri masing-masing, apa yang sudah kita lakukan untuk keluarga kita yang belum diselamatkan ? Menikmati sendiri keselamatan yang sudah kita terima dan membiarkan orang-orang yang kita kasihi menuju kebinasaan ? Kita tidak harus belajar di bangku sekolah theologia atau harus sekolah pendeta dulu baru bisa memenangkan jiwa keluarga kita. Ceritakan kepada mereka tentang Yesus dan apa yang sudah Dia lakukan untuk manusia. Apa yang dapat kita lakukan hari ini, lakukanlah dan jangan menundanya. Mungkin kita sudah mulai putus asa setelah berkali-kali memberitakan injil kepada keluarga kita, namun mereka belum mau membuka hati. Doakan mereka dengan tidak bosan-bosannya, sampai semua keluarga kita dimenangkan bagi Yesus.

Hati misi dimulai dengan kerinduan untuk menyelamatkan keluarga.

Baik sekali menjadi kaya, baik sekali menjadi kuat, tetapi lebih baik menjadi orang yang dicintai banyak teman. ( Euripides )

Orang Kristen Tegar

Orang yang memiliki sikap mental positif dapat melihat buah manis yang tersembunyi dibalik suatu masalah. Sikap inilah yang menjauhkannya dari hati yang bersungut-sungut. Mampu melihat sisi positif dari suatu masalah akan membentuk kita menjadi orang Kristen yang tegar. Bagaimana menjadi orang Kristen yang tegar ?

          Pertama, hiduplah dengan semangat yang tinggi atau antusias. Hidup memang diwarnai oleh beberapa jenis masalah, tetapi orang yang antusias memiliki kekuatan untuk menghadapi berbagai jenis rintangan yang ada dihadapannya. Antusias yang tinggi akan membuat kita berhasil melalui masa-masa sukar , entah itu masalah ekonomi, sakit penyakit, kenakalan anak-anak, suami atau istri yang tidak setia, dll. Semangat yang tertinggi, kita dapatkan ketika berdiam diri, memandang wajah Tuhan dan berharap pada pertolonganNya.

          Kedua, yakin bahwa ada jalan keluar bagi setiap permasalahan. Masalah menantang kita untuk meluangkan waktu supaya berpikir lebih arif didalam menyelesaikannya. Masalah tidak hanya  melatih iman dan kasih kita sehingga menjadi orang Kristen yang tegar, tetapi juga merupakan peluang untuk menguji kebenaran janji-janji Tuhan. Hal ini tentu akan membentuk pola pikir kita semakin positif dan sistematis, karena dihati kita tertanam keyakinan bahwa Tuhan menyediakan jalan keluar bagi kita. Sebab itu mintalah hikmat dan ketenangan yang dari Tuhan ketika sedang berpikir untu mencari jalan keluar yang terbaik. Hadapilah segala masalah hidup dengan tenang, karena Tuhan menyediakan jalan keluar bagi orang yang tenang dan tegar ( Yes 26 : 3 ).

          Ketiga, tanamkan dihati bahwa kesusahan sehari hanya untuk sehari. Sesungguhnya kita sudah tahu bahwa hari esok mempunyai kesusahannya sendiri, tetapi pikiran kita seringkali sumpek dan menjadi buntu karena kita sudah menguatirkan apa yang akan terjadi tiga atau lima hari kedepan. Setiap masalah ada masa berlakunya, jadi hiduplah untuk hari ini, bukan untuk hari kemarin atau hari esok. Singkirkan kekuatiran mereka kekuatiran tidak akan pernah menyelesaikan  1 % pun dari permasalahan yang kita hadapi. Teladanilah cara berpikir dan cara kerja Tuhan, Dia memikirkan apa yang harus diciptakanNya, sehari demi sehari ( Kej 1 ).

          Keempat, jaga hati supaya tidak terfokus kepada besarnya masalah, tetapi kepada besarnya kuasa Tuhan. Masalah seringkali membuat iman dan pengharapan kita memudar. Mengapa ? Penyebabnya bukan karena besarnya masalah yang membuat iman dan pengaharapan kita memudar, tetapi karena kita membiarkan masalah itu menguasai hati dan pikiran kita sedemikian rupa, sehingga hati kita tidak lagi bisa memandang Tuhan dan kebesaranNya. Jika Tuhan bersama kita, bisakah masalah besar menghancurkan kita ? Fokus kepada Tuhan adalah rahasia tertinggi supaya kita menang dan menjadi orang Kristen yang tegar di masa sukar.

Hati yang tegar adalah ciri dari orang Kristen “ rajawali “

Apabila anda ingin merasa kaya, hitunglah semua barang-barang milik anda yang tidak dapat dibeli dengan uang ( Anonim )

O, Indahnya Hari Ini

Ketika suasana kantor kami terasa tegang oleh karena pekerjaan yang harus segera diselesaikan, biasanya salah seorang rekan kerja kami akan memecah keheningan dengan perkataan khasnya,”O... Indahnya hari ini.” Jika ia sudah berkata demikian, maka kami akan saling pandang, kemudian tersenyum dan tertawa bersama. Hari-hari memang seringkali berat, tetapi jika dijalani dengan hati yang bersyukur maka serasa timbul semangat dan kekuatan baru untuk terus bekerja. Sebenarnya ada banyak alasan bagi kita untuk bersyukur dan bekerja dengan semangat yang baru setiap hari. Mengingat hal-hal kecil yang terjadi setiap hari seperti di bawah ini pasti akan membangkitkan ucapan syukur dan semangat di hati kita.

    jika anda masih mendengar jeritan anak-anak, omelan ibu atau isteri anda pagi hari atau repotnya keadaan di rumah pada pagi hari, bersyukurlah! Itu berarti anda masih memiliki keluarga utuh yang harus terus dipelihara.

    jika sepulang dari sekolah, kampus atau kantor dan tubuh anda terasa penat, bersyukurlah! Itu berarti anda masih hidup dan mampu melakukan aktivitas.


    jika pagi hari anda harus berangkat kerja dan pulang pada sore hari, bersyukurlah! Itu berarti masih ada perusahaan yang mempercayai, mempekerjakan dan membutuhkan tenaga atau ide-ide anda dan membayar semuanya itu di akhir bulan.


    jika hari ini anda masih bertemu dengan atasan yang perfeksionis atau rekan sekerja yang suka “menyikut”, bersyukurlah! Itu berarti anda masih memiliki peluang untuk bersabar dan pijakan untuk menunjukan prestasi kerja yang lebih baik.


    jika anda masih menemukan setumpuk piring dan gelas kotor setelah menjamu tamu di rumah anda, bersyukurlah! Itu berarti anda masih dikunjungi dan diperhatikan oleh teman serta sanak saudara.


    jika hari ini anda mendengar pengamen yang menyanyi dengan suara yang fals di bus kota, bersyukurlah! Itu berarti anda masih memiliki telinga yang sehat sehingga dapat membedakan suara yang fals dengan yang benar.


    jika dihari libur anda harus membersihkan rumput di pekarangan rumah, memperbaiki talang yang rusak dan got yang mampet, bersyukurlah! Itu berarti Tuhan masih memberikan keluarga anda tempat tinggal yang layak untuk dihuni.


    jika baju anda terasa agak sempit, bersyukurlah! Itu berarti Tuhan tidak pernah lalai menyediakan makanan anda, bahkan ia memberkati sehingga apa pun yang anda makan akan mendatangkan kekuatan dan kesehatan.


    sudahkah anda mengucap syukur hari ini untuk berkat-berkat kecil yang seringkali tidak terlihat oleh mata, namun dapat dirasakan oleh hati kecil ?


Mujizat yang kecil setiap hari adalah bukti kebaikan Tuhan yang patut disyukuri.

Orang tidak peduli berapa banyak yang anda tahu sampai mereka tahu berapa banyak anda peduli. – John Maxwell-

Nilai Seikat Kembang

Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang di parkir di depan kuburan umum. Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu berkata, “ Pak, maukah anda menemui wanita yang ada di dalam mobil itu ? Tolonglah pak, karena para dokter mengatakan sebentar lagi beliau akan meninggal !” Penjaga kuburan itu menganggukan kepalanya tanda setuju dan ia segera berjalan di belakang sopir itu.

          Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu mobilnya dan berusaha tersenyum kepada penjaga kuburan itu sambil berkata, “ Saya Ny. Steven. Saya yang selama ini mengirim uang setiap 2 minggu sekali kepada anda. Saya mengirim uang itu agar dapat membeli seikat kembang dan menaruhnya di atas makam anak saya. Saya datang untuk berterima kasih atas kebaikan dan kesediaan hati anda. Saya ingin memamfaatkan sisa hidup saya untuk berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong saya.” “ O, jadi nyonya yang mengirim uang itu ? Nyonya, sebelumnya saya minta maaf kepada anda. Memang uang yang nyonya kirimkan itu selalu saya belikan kembang, tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara anak anda,” jawab pria itu. “ Apa, maaf ? “ tanya wanita itu dengan gusar. “ Ya nyonya. Saya tidak pernah menaruh kembang itu disana karena menurut saya, orang mati tidak akan  pernah melihat keindahan seikat kembang. Karena itu setiap kembang yang saya beli, saya berikan kepada mereka yang ada di rumah sakit, orang miskin yang saya jumpai, atau mereka yang sedang bersedih. Orang-orang yang demikian masih hidup, sehingga mereka dapat menikmati keindahan dan keharuman kembang-kembang itu, nyonya,” jawab pria itu. Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar sopirnya segera pergi.

          Tiga bulan kemudian, seorang wanita centil turun dari mobinya dan berjalan dengan anggun ke arah pos penjaga kuburan. “ Selamat pagi. Apakah anda masih ingat saya ? Saya Ny. Steven. Saya datang untuk berterima kasih atas nasihat yang anda berikan beberapa bulan yang lalu. Anda benar bahwa memperhatikan dan membahagiakan mereka yang masih hidup jauh lebih berguna daripada meratapi mereka yang sudah meninggal. Ketika saya secara langsung mengantarkan kembang-kembang itu ke rumah sakit  atau panti jompo, kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya juga turut bahagia. Sampai saat ini para dokter tidak tahu mengapa saya bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin bahwa sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan saya !”

          Jangan pernah mengasihani diri sendiri, karena mengasihani diri sendiri akan membuat kita terperangkap di kubangan kesedihan. Ada prinsip yang mungkin kita tahu, tetapi sering kita lupakan, yaitu dengan menolong orang lain sesungguhnya kita menolong diri sendiri.

Nilai seikat kembang bisa melebihi sebuah rumah, bila diberikan dengan kasih.

Setiap pemikiran yang baik yang engkau pikirkan akan menjadi sumbangan pada hasil akhir dari hidupmu. ( Grenville Kleiser )